Ibn Atha’illah berkata dalam untaian KALIMAT HIKMAHNYA yang ke-101:
102- مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَّلَبِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يُعْطِيَكَ.
“Apabila Dia telah melepaskan lidahmu untuk meminta sesuatu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia ingin memberimu.”
Kata kuncinya: “Pintamu Pasti Dipenuhi.”
Seorang yang Arif kepada Allah yang selalu bergantung kepada-Nya, lidahnya selalu basah dengan zikir mengingat Allah, hatinya selalu bergetar karena takut kepada Allah, pikirannya selalu merenungi kekuasaan Allah. Lidah yang selalu berzikir kepada-Nya memalingkannya dari mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak berguna, dari kalimat yang sia-sia, dari kalimat yang kosong, dari kalimat yang mengadung kebohongan dan dosa. Ketika lidah tidak berzikir, lidahnya akan diam. Karena dia tahu bahwa diam itu adalah lebih baik daripada mengucapkan yang tidak berguna.
Seorang yang Arif kepada Allah selalu sadar akan petunjuk Rasulullah Saw., bahwa: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, akan selalu mengatakan yang benar, mengatakan yang baik, dan mengatakan yang berguna, atau dia akan diam.” Lidahnya tidak akan digerakkannya kecuali untuk yang baik. Sesuatu yang paling baik yang menggerakkan lidahnya adalah berzikir. Lidahnya selalu bekerja dalam zikir dan istirahat dalam diam. Itulah lidah seorang yang Arif.
Apabila lidah seorang yang Arif kepada Allah selalu berzikir dan Zat Yang Hakiki melepaskan lidahnya dari ucapan-ucapan yang tidak benar, dan melepaskan dirinya dari ketergantungannya dari makhluk yang nisbi, lalu lidahnya dilepaskannya untuk meminta sesuatu kepada yang Zat Hakiki yang selalu diingatnya, maka ketahuilah, kata Ibn Atha’illah, bahwa sesungguhnya Zat Yang Hakiki itu akan memberinya sesuatu yang dia minta. Allah memberinya karena tahu bahwa dia sangat mencintai-Nya, dan Allah mencintainya. Yang mencintai ketika meminta sesuatu kepada yang dicintai, pasti diberi. Yang dicintai ketika dimintai sesuatu oleh yang mencintai, pasti memberi.
Zat Yang Hakiki itu telah menyatakan di dalam firman-Nya: “Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku memberimu.” (QS. Ghafir [40]: 60) “Jika hamba-hmba-Ku bertanya tentang Aku, maka katakanlah, wahai Muhammad, sesungguhnya Aku sangat dekat dengan mereka. Aku menjawab dan mengabulkan permintaan dari hamba-Ku yang meminta kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 168). Rasulullah menambahkan: “Jika cinta hamba telah bersatu dan bersemi dengan cinta Allah, maka semua yang dimintanya akan dikabulkan Allah.”
Tidakkah Anda ingat dan merasakannya, kalau cinta Anda sudah menyatu, berpadu dan bersemi dalam diri seseorang yang Anda cintai, dan cintanya juga telah bersemi di dalam diri Anda, maka yang terjadi adalah saling asyik dan saling maksyuk di antara Anda berdua. Anda akan siap untuk memberi apa saja yang dia minta, bahkan yang dia tidak minta, tetapi Anda tahu bahwa itu dia suka dan menyenangkannya. Dia pun akan selalu siap untuk menerima pemberianmu, dan siap pula untuk memberimu apa saja yang engkau minta dan yang engkau suka dan menyenangkan. Begitulah pula Allah Zat yang Hakiki itu, Dia memberi kepada sang pencinta-Nya apa saja yang dia minta, apa saja yang dia suka, dan apa saja yang menyenangkannya.




