Bila kita menilik sejarah maka pandemi Corona kali ini sebenarnya “belum” separah yang menimpa orang-orang zaman-zaman dahulu.
Di antara sekian banyak pandemi, pada tahun 1347-1351 masehi, terjadi wabah paling mengerikan dan mematikan sepanjang sejarah yaitu “Bubonic plague” atau “Black Death” (wabah kematian hitam) yg disebabkan bakteri Yersenia pestis (Pes).
Wabah ini berkeliling dunia selama 4 tahun dan diperkirakan menewaskan hingga 200 juta orang (silakan dibaca lagi nominalnya). Benua Eropa dikabarkan kehilangan sepertiga populasinya dan belum sepenuhnya pulih hingga beberapa abad.
Banyak kota sampai mayoritas penduduknya tewas karna keganasan penyakit yg saat itu belum ditemukan obatnya (antibiotik).
Wabah ini juga merambah ke seluruh dunia termasuk negeri kaum muslimin. Penyakit Pes ini dikenal para Ulama dg istilah Tho’un dalam arti khusus yaitu sebagai salah satu jenis penyakit.
Uniknya, pandemi Pes ini terjadi pada masa hidup Imam Ibnu Katsir (penulis kitab tafsir Ibnu Katsir), Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, dan banyak lagi dari murid-murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahumullah jami’an-.
Imam Ibnu Katsir sendiri juga terkenal sebagai penulis kitab sejarah Islam paling monumental (Al Bidayah Wan Nihayah) sehingga detail kejadian wabah di Syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) tercatat jelas dalam kitab beliau.
Dalam kitab tersebut di sejarah tahun 749 Hijriah, tidak terhitung berapa kali beliau menuliskan kalimat “Innalilllahi wa Inna ilaihi roji’un” dan beliau menyebutkan bahwa kabar akan wabah ini telah mutawatir dari segala penjuru dunia.
Jumlah kematian di kota Damaskus dalam 1 bulan mencapai belasan ribu orang. Di Masjid Jami’ Damaskus saja tiap hari hampir sepanjang tahun ada seratus lebih jenazah yg dishalatkan.
Dikisahkan beliau kondisi penduduk syam pada saat itu sampai berteriak2 di jalanan, menundukkan diri pada Allah, memperbanyak ibadah dan istighfar hingga setiap malamnya saat itu seperti 10 malam terakhir bulan Ramadhan.
Hingga pada saat puncak wabah beliau berkata “tidak ada yg mengetahui jumlahnya lagi selain Allah” karna saking banyaknya.
Masuk pada tahun 750 Hijriah keadaan sudah membaik dengan izin Allah dan wabah itu pun lenyap. Di antara Ulama yg hidup melewati wabah ini selain beliau adalah Imam Ibnul Qoyyim yg sangat ahli dalam berbagai cabang ilmu Islam dan Sains hingga dalam ilmu kedokteran pada zaman itu.
Beliau menulis kitab Thibbun Nabawi dan menjelaskan berbagai sisi ilmu Kedokteran pada masa itu prinsip diagnosis dan pengobatan hingga syarat-syarat utk menjadi Dokter dan etika-etikannya yg kurang lebih mirip dg prinsip-prinsip ilmu kedokteran zaman sekarang.
Tahun 751 Hijriah beliau Imam Ibnul Qoyyim pun wafat atau sekitar 1-2 tahun setelah pandemi Pes lenyap dari negeri Syam.
Kemudian Imam Ibnu Katsir menyebutkan secara tersendiri biografi beliau di sejarah tahun 751 Hijriah dalam kitab Al Bidayah wan Nihayah.
Sekali lagi kisah nyata dan sejarah ini agar kita sadar waspada dan bersyukur di sisi yang lain. Juga bahwa tidak ada kota atau negeri yang aman dari yang namanya musibah. Sedikit tadabbur juga ternyata ada ayat Allah di surat Al Isro’ ayat 58,
و إن من قرية إلا نحن مهلكوها قبل يوم القيامة أو معذبها عذابا شديدا
Dan tidaklah ada suatu negeri melainkan Kami akan menjadikannya hancur sebelum hari Kiamat atau Kami mengadzabnya (memberi musibah) dengan musibah yang keras.
كان ذلك في الكتاب مسطورا
Ketetapan itu telah ada dalam kitab yang tertulis (Lauh Mafuzh).
Akhir kata kalau tidak ingin banyak korban bergelimpangan, RS mbludak dimana mana maka jangan coba sekali-kali mengandalkan Herd Immunity alias kedablegan.
Alhamdulillah kita Allah hidupkan di zaman wasilah ikhtiar begitu banyak dari ilmu kedokteran, epidemiologi, teknologi diagnosis, hingga obat-obatan dan vaksin. Sehingga penyakit penyakit penyebab wabah seperti Pes, Campak, Polio, Difteri, dll walaupun masih ada pun sudah tidak begitu ganas seiring kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yg tidak lain adalah nikmat Allah atas manusia
zaman ini.
Syukuri nikmat-nikmat Allah ini, taati pemerintah dan ikuti anjuran para Ahli di bidangnya. Mudah-mudahan Allah menjaga keluarga anda dan keluarga saya
dr. Bryan Pandu Permana




