“TULISAN INI DI RANGKUM DARI BUKU MENGURAI ILMU TAJWID NAZHAM BATU NGOMPAL YANG DISUSUN OLEH TGH MUSLIHAN HABIB “
Di awal kitab Nazham Batu Ngompal, Maulana Syaikh Terlebih dahulu membuat beberapa bait sya’ir untuk memotivasi setiap orang yang mempelajari ilmu tajwid. Bait syair ini merupakan catatan yang diberikan oleh Maulana Syaikh,dan bukan terjemahan dari kitab tuhfatul athfal.
بلاجر اوليهم تجويد يڠ صحيح * كارن قران تورنڽ فصيح
Belajar olehmu tajwid yang shahih
Karena qur’an turunnya fashih
جاڠن ممباچ بچائن قبيح تاكوت انچامن حديث يڠ صحيح
Jangan membaca bacaan qabih
Takut ancaman hadist yang shahih
راجين برڬوروفدا اهليڽ
Rajin berguru pada ahlinya
باچ اوليهم بچائن جبريلا جاڠن ممباچ بر مائين ڬيلا
Baca olehmu bacaan jibrila
Jangan membaca bermain gila
فرمان الهي ددالم تنزيلا (ورتل القران ترتيلا)
Firman ilahi da dalam tandzila
Warattil qur’ana tartila
راجين برڬوروفدا اهليڽ
Rajin berguru pada ahlinya
جا رڠله فندى ممباچ قران كباۑقكن عاسق تيدأ كروان
Jaranglah pandai membaca qur’an
Kebanyakan asyik tidak karuan
مالوبرڬور تجويدڽ قران بسركفلا تاكوت تڬوران
Malu berguru tajwidnya qur’an
Besar kepala takut teguran
راجين برڬوروفدا اهليڽ
Rajin berguru pada ahlinya
ايو هي سودارا ايوهي سودارى تونتوتله علم ستيف هارى
Ayo hai saudara ayo hai saudari
Tuntutlah ilmu stiap hari
جاڠن برمڬه كسنا كمارى اڬر سلامة بلاكڠ هارى
Jangan bermegah kesana kemari
Agar selamat belakang hari
راجين برڬوروفدا اهليڽ
Rajin berguru pada ahlinya
Beberapa untaian bait syair lagu belajar tajwid di atas berisi motivasi Maulana Syaikh kepada para muridnya yang menuntut ilmu tajwid, agar mereka lebih giat dan semangat untuk mempelajarinya, tidak disubukkan oleh hal-hal yang tidak jelas,tidak malu mempelajari ilmu tajwid menuntut ilmu setiap hari,serta tidak bermegah (sombong/bergaya tanpa memiliki pengetahuan). Hal ini bertujuan,agar para muridnya dapat membaca Al-Qur’an Al-Karim dengan shahih (benar) dan terhindar dari bacaan yang qabih (buruk/menyimpang) serta selamat belakang hari,baik didunia maupun diakhirat.
Anjuran membaca Al-Qur’an dengan shahih dikarenakan Al-Qur’an sendiri diturunkan dengan bacaan yang fashih (baik). Disamping itu,seseorang yang membaca Al-Qur’an dengan bacaan qabih diancam akan mendapatkan laknat dari Al-Qur’an itu sendiri.
Ini sesuai dengan sabda Nabi dalam Hadist yang shahih. Itupula yang dimaksud oleh perkataan Maulana Syaikh dalam bait syair: “jangan membaca bacaan qabiih,takut ancaman hadits yang shahih”. Hadits shahih yang dimaksud adalah:
رُبَّ تَالِ القُرْأنِ وَاْلقُرْأَنُ يَلْعَنُهُ
“berapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an,tapi Al-Qur’an sendirilah yang akan melaknatnya.”
Dalam sya’ir lagu tersebut diatas disebutkakan: “bacalah olehmu bacaan jibrila,jangan membaca bermain gila”. Bait ini menunjukkan keinginan kuat Maulana Syaikh agar para muridnya bisa membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang mengikuti dan mencontoh bacaan jibrila, yakni bacaan diucapkan oleh Malaikat Jibril AS ketika mengajarkan Nabi Muhammad SAW dan dicontohkan pula oleh Nabi Muhammad SAW kepada Para sahabtnya. Hal ini diperkuat oleh riwayat yang menyatakan:
“setiap tahun malaikat jibril AS turun mendatangi Nabi SAW dengan masuk mengecek kebenaran ayat dan bacaan Al-Qur’an yang ada pada Nabi SAW. Dan menjelang wafat Nabi SAW, malaikat jibril AS turun sebanyak 2 kali dengan maksud yang sama.”
Selanjutnya, apa yang dicontohkan oleh nabi itu telah diatur oleh para ulama dalam kaidah-kaidah ilmu tajwid.




