Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya setiap musim, dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpaan-perumpaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tegak sedikit pun.” (Q.S. Ibrahim: 24-26)
Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa Kalimat Thayyibah yang dimaksud di dalam ayat diatas adalah kalimat syahadat Asyahadu allaa ilaaha illallah. Akarnya berada di hati orang-orang beriman dan cabangnya menjulang ke langit, sehingga amalan seorang mukmin itu sampai ke langit.
Dan maksud ‘kalimat yang buruk’ adalah syirik. Dengan syirik, tidak ada suatu amalan pun yang akan diterima. Di dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata, “Kata-Kata ‘memberikan buahnya setiap musim’ maksudnya adalah mengingat Allah setiap siang dan malam.”
Dari Jabir ra Nabi SAW bersabda, “Dzikir yang paling utama ialah ‘Laailaahaillallah’ dan doa yang paling utama ialah ‘Alhamdulillah.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jadilah AKAR yang gigih mencari air…! Menembus tanah yang keras demi sebatang pohon. Ketika pohon tumbuh, berdaun rimbun, berbunga indah, menampilkan eloknya pada Dunia dan mendapatkan Pujian.
Akar tetap tidak iri, ia tetap bersembunyi dalam tanah. Itulah makna dari sebuah Ketulusan dan Keikhlasan.
Manusia yang memiliki perpaduan tulus, ikhlas, sabar dan tegar bagai AKAR merekalah orang-orang yang mampu merubah warna zaman. Ia kan tetap hidup dan menghidupkan.
Akar dalam sebuah pohon merupakan sumber dan pondasi dalam sebuah bangunan. Jika kekuatan akar dan pondasi benar-benar diperhatikan maka, pohon dan bangunan akan dapat bertahan hingga masa dan waktu yang sangat panjang.
Pohon yang kuat akarnya tidak akan dikhawatirkan roboh tertiup angin, dan setiap orang yang merasa kepanasan dan juga kehujanan dapat menjadikannya sebagai tempat berteduh yang sangat baik. Namun jika akar tidak kuat, maka akan dirobohkan oleh, sekalipun, anginnya tidak kencang dan kuat dan jika kita berteduh di bawahnya dikhawatirkan akan menimpa siapa dan apapun yang ada dibawahnya.
Demikian juga bangunan yang kuat pondasinya, akan bertahan hingga berapa puluh bahkan ratusan tahun. Bangunan seperti ini dapat dijadikan tempat bernaung dan beristirahat dengan tenang, namun jika sebaliknya pondasi tidak kuat, maka dikhawatirkan akan roboh dan menimpa setiap orang yang berada di dalamnya.
Jika pondasi berupa sifat ikhlas, sabar, syukur dan tegar ada pada setiap insan, maka insya Allah kehidupan duniawi dan sangat mungkin juga ukhrawi akan menjadi tenang dan bahagia. Karena itu perkuatlah diri kita dengan keempat sifat tersebut agar kehidupan kita menjadi bahagia fiddunia maupun akhirat.
Sirami pohon (jiwa) kita dengan selalu membasahi lidah dan hati dengan kalimat zikrullah qiyaman wa quudan wa alaa junubihim.
Wallahu a’lamu bi al-Shawab




