Prof Harapandi :Merasakan Kehadiran Ilahi

Prof Harapandi :Merasakan Kehadiran Ilahi

Ibadah mestinya dapat menjadikan batin tenang dan merasakan kehadiran Ilahi setiap waktu, tempat dan juga saat. Ketika kita bekerja Allah hadir melihat pekerjaan kita, ketika kita berhenti Allah hadir pula dengan memberikan spirit untuk menjalankan pekerjaan berikutnya, jadi kapankah kita akan terbebas dari pengawasanNya? tidak akan, oleh karena itu jadilah hamba Allah yang selalu merasakan kehadiranNya sehingga tidak ada pekerjaan apapun kita lakukan yang tidak disukaiNya. Jangan engkau menjadikan segala nikmat maupun kesusahan menghalangi diri kita untuk ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
 
Kadang manusia merasakan betapa jauhnya pertolongan Allah, karena apapun yang dilakukannya selalu saja mengalami kegagalan. Tapi setelah dia memperoleh kesuksesan dan terhindar dari semua kegagalan yang dialaminya, dia pun lupa dan menjauh dari Allah Sang Pemberi kebebasan.
 
Kesulitan dan kemudahan, kesedihan dan kegagalan jika direnungkan keduanya berasal dari yang Maha Tunggal yakni Allah, namun mengapa manusia berbeda sikap dalam menghadapi kedua hal tersebut. Bukankah nikmat lapang (kaya) dan kesusahan (kemiskinan) adalah ibtila’ (ujian) semata-mata.

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ

Artinya: Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Artinya: Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Jika dianugerahkan nikmat (kemudahan juga kesuksesan) kita beranggapan Allah sedang sayang dengan kita, namun jika yang datang adalah musibah (kegagalan juga kesedihan) kita merasa Allah benci kepada kita.
 
Padahal kalau sama-sama kita sadari bahwa keduanya dihadirkan Allah untuk menjadi “UJIAN” dariNya, baik yang berupa nikmat maupun musibah, maka sikap kita tentunya akan sama dengan mensyukuri nikmatNya dan bersabar terhadap musibahNya.
 
Manusia oh manusia, akankah engkau ingkari beragam nikmat yang telah Allah anugerahkan dengan kegagalan, kesedihan yang saat ini engkau hadapi?.
 

Akankah musibah yang saat ini engkau alami membuatmu ingkar terhadap berbagai nikmat yang sudah diberikannya?, bukankah selama ini engkau telah memperoleh berbagai nikmat dan anugerah?.
 
Manusia oh manusia, kapankah engkau menyadari bahwa hidup yang sedang engkau jalani merupakan salah satu ujian untuk memperoleh kenikmatan sejati di Akhirat kelak?, bukankah engkau sudah memahami bahwa setiap manusia akan kembali kepada yang telah menciptakamu?. sudah siapkah engkau menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir? dan sudah siapkah menghadapi hari akhir hayatmu? persiapan apakah yang telah engkau lakukan?.
 
Semoga semua nikmat ataupun ujian yang Allah anugerahkan dapat kita mensyukurinya dan terhitung menjadi ibadah kita kepadaNya. Amin

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA