Mengundang Optimisme di Tengah Badai Corona

Mengundang Optimisme di Tengah Badai Corona

Oleh : Khairy Aly

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Allah berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di tengah mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS. Al Anfal [8]: 33)

Ayat 33 Surat al-Anfal ini memberikan optimisme besar keselamatan ummat Islam. Meyakini informasi wahyu ini adalah respon keimanan ummat Islam dan itu akan semakin kuat jika melakukan pembacaan yang bersanad dari para ulama. Dua hal yang disebutkan ayat tersebut adalah:
Pertama: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di tengah mereka”.

Secara fisik, Rasullah Saw telah wafat. Namun, secara ruh hadits berikut menjelaskan, Rasulullah Saw bersabda:

إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فأكثروا علي من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة علي.قالوا: يا رسول الله وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت؟ فقال: إن الله تبارك وتعالى حرم على الأرض أَنْ تَأْكُلَ أجساد الأنبياء

“Sungguh hari yang paling utama adalah hari Jumat, karena itu perbanyaklah bershalawat untukku pada hari itu.

Sungguh shalawat kalian ditampakkan kepadaku. Para sahabat bertanya: bagaimana bisa ditampakkan kepadamu sementara engkau sudah berkalang tanah (dikubur)? Beliau menjawab, sungguh Allah Ta’ala mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi .”(HR. Imam Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ibn Hibban, dan Al-Hakim dari sahabat Aus bin Aus ra. Dikutip oleh Imam Sayyid Muhammad al-Maliki dalam Mafahim)

‎مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَم

“Tidak ada seorangpun yang memberikan salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan ruhku kepadaku, sehingga aku membalas salamnya.”

(HR. Imam Abu Dawud dari Abu Hurairah ra dan dinyatakan shahih sanadnya oleh Imam Nawawi. Dikutip oleh Imam Sayyid Muhammad al-Maliki dalam Mafahim)

Fakta di Indonesia, berapa banyak ummat Islam yang membaca shalawat setiap saat, setiap hari. Penyelenggaraan maulid Nabi Saw adalah salah satu upaya merealisasikan hadits ini. Ditambah lagi acara-acara shalawatan pengajian, pembacaan hizib, ratib, dan lain-lain Kedua hadits tersebut menyatakan secara spiritual ruh mulia Rasulullah Saw hadir saat membaca shalawat.

Shalawat yang kita persembahkan adalah bagian dari upaya kita menghadirkan Nabi di tengah kita. Maka, jika Anda pelit bershalawat salam kepada Nabi Saw, berarti Anda menantang bala musibah.
Kedua, “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”.

Abu Jahal atau Nadhir bin Harits, tokoh penentang Nabi ketika di Mekah menantang Nabi untuk membuktikan kebenaran AlQuran. Jika benar, ia siap dihancurkan dengan hujan batu, bahkan siksa yang lebih berat. Ia bersumpah, lebih baik mati terlumatkan hujan batu dari langit daripada memercayai Nabi. Allah bukan tidak bisa meladeni tantangan mereka. Allah membatalkan hujan batu itu untuk sementara, karena dua hal. Pertama, Nabi masih berada di tengah mereka.

Kedua, masih ada di antara pengikut Nabi di daerah itu yang beristighfar (Prof. Ali Aziz)
Istighfar adalah amalan yang banyak diungkap AlQuran tentang keistimewaannya. Banyak redaksi istighfar yang warid dari Nabi Saw dan yang disusun oleh para ulama. Semuanya bertujuan untuk memohon pengampunan berupa penghapusan dosa.

Jika ada orang yang malas beristighfar, sebenarnya dia sedang mengupayakan menolak rahmat Allah dan menantang musibah, termasuk virus yang sedang melanda dunia saat ini.

Karena itu, membaca maulid, membaca hizib, membaca wirid, dan ibadah-ibadah lainnya adalah upaya untuk mengundang optimisme besar menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Selamat dari bala’ musibah, termasuk virus yang menghantui umat manusia hari ini. Mari melazimkan shalawat dan istighfar di setiap waktu.

“Jika seseorang menggabungkan antara sholawat pada Nabi SAW dan istighfar pada ALLAH maka ia akan dijamin aman”. (Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, guru Habib Umar bin Hafidz).

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA