Ramadhan; Damai Sampai Nanti Oleh : Zulkarnaen

banner post atas

Masa depan pasti datang. Waktu masih mengalir ke arahnya, ke masa yang akan datang. Kembali ke masa lalu tidak pernah terjadi dalam perjalanan sejarah hidup ummat manusia. Yang ada hanya imajinasi, manusia berimajinasi kembali ke masa lalu dengan pikirannya. Lao Tzu, filusuf china menguatkan soal ini, pikiran manusia bisa mengada di masa lalu, masa depan dan masa sekarang. Tubuh manusia tidak pernah bisa di bawa ke masa selain masa ia mengada, masa sekarang dan di sinilah ia bisa melakukan perbuatannya bukan di sana, masa lalu dan masa depan.

Pernah, sering sekali merasa galau karna mengingat masa lalu yang buruk. Sering sekali merasa khawatir karna memikirkan masa depan yang suram. Merasa akan muncul karna pengaruh pikiran. Lao Tzu dalam kalimatnya yang fenomenal, “jika kau merasa galau, maka kau mengada di masa lalu. Jika kau merasa khawatir, maka kau mengada di masa depan. Jika kau merasa damai, maka kau mengada di masa sekarang”.

Merasa tidak tenang menjalani hidup ketika banyak tugas yang belum kita selesaikan. Merasa galau ketika memikirkan tugas-tugas itu, sampai kita pada suatu saat dimana sangat familiar dengan kalimat “tugas itu jangan di pikirkan, tapi di selesaikan”. Memikirkannya tidak akan menyelesaikan tugas-tugas itu. Dengan bertindaklah atau menyelesaikannya yang akan membuat kita merasa damai.

Iklan

Sehingga pada dasarnya, tidak merasa damai yang di sebabkan oleh masa lalu dan masa depan adalah karna kita tidak bisa menyelesaikan masalah pada masa yang kita tidak mengada padanya. Manusia bisa menyelesaikan tugasnya hanya saat di masa dimana ia mengada, sekarang. Sehingga tidak ada waktu yang lebih baik untuk berubah menjadi lebih baik, kecuali sekarang kata orang bijak. Jika kita tidak mau menyelesaikan tugas-tugas itu, kita bisa merasa damai dengan tidak memikirkannya. Pada dasarnya setiap rasa yang kita rasakan di stimulan oleh pikiran kita. Fokus pada apa yang sedang kita jalani akan membuat kita merasa damai.

BACA JUGA  Menggugat Orang Terdidik. Oleh : Zulkarnaen

Waktu adalah bagian subyektif manusia, ia bukanlah bagian luar, ia mengada dalam internal pengalaman manusia. Selama manusia memiliki kesadaran, waktu adalah bagian subyektif. Sehingga orang yang mati, pada dasarnya adalah mereka yang keluar dari waktu sampai kesadarannya di kembalikan untuk menyadari waktu setelah mati. Manusia akan hidup lagi. Konsekuensi hidupnya kembali memutlakkan waktu sebagai kelengkapan hidup.

Banyak hal yang akan menjadi konsekuensi hidupnya kembali manusia sebagaimana dokrin agama-agama besar di dunia. Selain waktu yang akan di jalani dalam waktu yang tidak terbatas, manusia juga akan merasakan udara waktu pagi hari sebagaimana doktrin Islam ketika manusia mengada di syurga. Manusia akan memiliki kulit untuk merasakan hawa waktu pagi saat itu, dingin embun. Akan ada ruang sebagaimana manusia me-ruang detik ini, mengada di ruang alam semesta, karna secara logika kesadaran yang di sebut di atas membutuhkan ruang mengada seperti kesadaran kita sendiri detik ini yang di lengkapi kepala, otak, akal. 

Sehingga sisa bulan ramadhan pasti akan masuk dalam kesadaran kita dalam waktu yang sangat dekat, karna memang tidak memiliki jarak dengan waktu dimana kita mengada. Sisa ramadhan itu istimewa kata Ulama’. Mengada pada saat isitimewa itu yang akan membuat kita merasa senang sebagaimana biasanya kita merasa senang karna ada yang istimewa. Namun seringkali kita lupa bahwa kita sedang mengada dalam bagian yang istimewa itu.
Selamat beribadah puasa ya.