TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI: Kiyai Noer, Guru Bak “Rasa” Ayah.

banner post atas

Penulis: Abah Rosela Naelal Wafa

Innalillahi wainna ilahi raajiun, telah berpulang ke rahmatullah Pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jakarta Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, Ahad (13/12/2020) sekitar pukul 14.21 WIB.

Berita wafatnya Sang Kiyai sontak meramaikan jagat maya. Situs internet, WA, instagram dan facebook tak luput memberitakannya. Ucapan-ucapan istirja’ (ucapan bela sungkawa) yang banyak, menunjukkan tak berbilang orang yang merasa kehilangan dengan sosok ulama yang satu ini.

Iklan

Tentunya, selain keluarga dekat seperti istri dan anak-anak yang merasa kehilangan, termasuk pastinya ialah para murid-murid Sang Kiyai yang sedang nikmat-nikmat meneguk ilmu darinya. Tak terkecuali para alumni Ash-Shiddiqiyah yang telah sukses dan bertebaran di Nusantara.

Salah satu murid (alumni) Sang Dai Kondang yang bisa saya jumpai ialah Raden TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI. Berita duka tersebut bagi Ketua Yayasan Islam Selaparang Kediri Lombok Barat ini adalah sebuah kepedihan mendalam.

“Wafatnya Kiyai Noer adalah laksana kehilangan bagian penting dalam hidupku. Terlalu cepat (rasanya) waktu mengambil beliau.” Katanya.

Bagi Wakil Ketua BAZNAS NTB tersebut Sang Kiyai adalah sosok guru yang tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga sosok pendidik, murabbi yang mentarbiyah dirinya dengan laku dan nasihat membekas dalam dirinya.

Tuan Guru Pattimura masih utuh mengenang tempaan didikan dari Sang Kiyai yang mewajibkan dirinya Puasa Daud setahun sebelum tamat, wajib tahajjud selama tiga tahun mondok, tidur harus beralaskan selembar kain sarung dengan tujuan agar cepat bangun malam.

Titah dan petuah Sang Guru pun dijalani dengan penuh ketaatan. Jalinan batin dan intraksinya semakin erat setelah; “Sang Kiyai sering memanggilku untuk menunaikan keperluannya. Tugas menyapu di kediamannya sampai tugas menerima para tamu yang terhormat pun sering saya lakoni.” Kenangnya.

BACA JUGA  NWDI Punya Andil Besar P'bangunan By Badri HS QH

Memang benar, berdasarkan penuturan Miq Tuan Patti bahwa kepercayaan Kiyai kepadanya demikian erat dan kuat. Bahkan kata beliau, “Kepercayaan Kiyai terhadap saya sejak itu, tak berbeda dengan kepercayaan kepada keluarganya. Sampai-sampai saya pun disuruh menjaga kediaman beliau saat ia dan keluarganya berpergian”.

Sungguh, Kiyai di mata cucu Syaikh TGH Abdul Hafidz Sulaiman ini –memang– selain sebagai guru dan murabbi yang menempa spiritualnya dengan sederet riyadhah spiritual, Kiyai ini juga adalah sebagai “ayah” keduaku.

“Kadang, saat wesel atau kiriman ‘Mamiq’ (ayah) dari Lombok telat, Kiyailah yang memberikan saya sangu untuk makan dan biaya lainnya”. Kenangnya sambil menyeka mata mengenang jasa gurunya.

Falhamdulillah rasa itu (Guru Bak Rasa “Ayah”) senantiasa dirawat Tuan Guru meski telah puluhan tahun beliau tamat dari wadah ilmu yang bersempena itu.

“Sering kali selama saya menjabat sebagai Anggota DPRD (Dua periode tingkat Kab. Lobar dan 1 periode tingkat Prov. NTB) saya menyempatkan diri berkunjung silaturrahim, menyambung rasa dan keberkahan antara murid dan guru”. Ceritanya hendak mengajari kita cara menjadi santri atau alumni.

Sang Kiyai pun demikian lues dan benar-benar tampil layaknya dulu saat Miq Tuan masih mondok. Tidak ada yang berubah dari Romo Kiyai, sederhana, bersahaja dan selalu dekat dengan santri ataupun alumni Ash-Shiddiqiyah, termasuk ke putra Lombok ini.

“Masih terkenang dalam memoriku, Sang Kiyai menyuruhku menyiapkan obat yang hendak diminumnya di salah satu Rumah Sakit. Beliau, memanggil dan menyuruh saya bagaikan suruhan seorang ayah kepada anaknya”. Cerita Ketua Persatuan Remaja Masjid se-NTB ini.

Walhasil, sungguh banyak memori Tuan Guru dengan gurunya Al-Magfurulah Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, terutama yang tak terlupakan ialah banyak doa dan wirid Kiyai yang sengaja diberikan khusus kepada dirinya.

BACA JUGA  Diterjang Hujan Angin, Lokasi Bersejarah di Kota Mataram Ambruk

“Betapa banyak ijazah doa dan amalan Kiyai yang diberikannya kepadaku dari sekian santri yang ada.” Katanya.

Itulah Sang Romo Kiyai Noer yang tidak hanya mudarris, tapi muallim, murabbi dan bahkan ulama kondang yang bisa menjadi “ayah” kedua bagi santri-santrinya. Sungguh, telah banyak jasa dan investasi akhirat yang engkau tanam semasa hayat duhai Kiyai.

Satu santrimu saja seperti Raden TGH. L. Pattimura Farhan, MHI sudah bisa mewarnai negeri dengan segudang ide dan pemikiran serta prestasinya saat menjadi anggota DPRD Tingkat 1 dan 2 di NTB. Bagaimana lagi dengan yang lainnya?

Melihat guru Bahasa Arabku ini yang juga seorang orator layaknya engkau duhai Kiyai, ternyata menurut penuturan beliau, bahwa keahliannya di podium semata, “Berkat tempaan Kiyai yang sering mengajaknya sebagai pendamping yang tampil ceramah pra pidato inti dari Sang Guru”. Demikian kenangnya.

Saya sendiri banyak mendapatkan ilmu dari Mamiq Tuan Pattimura, yang ternyata beliau adalah murid Romo Kiyai, maka dengan sendirinya saya adalah muridmu juga, minimal murid dari muridmu. Teteskanlah keberkahan ilmumu kepadaku.

Izinkan saya mengucapkan, “Selamat jalan duhai Kiyai”.

Duhai guruku…
Semiga engkau, menghadap Ilahi dengan tenang dan husnul khatimah. Bidadari dan surga pasti menantimu.

Duhai guruku…
Bahagialah engkau di alam sana. Panjatan-panjatan doa muliamu di semua tempat mulia, agar kelak memiliki murid yang menjadi dai, menjadi mujahid dan pejuang agama dan bangsa, telah banyak yang nampak dan mewarnai negeri.

“Selamat jalan Kiyai”.

Ya Allah, ampunilah dosanya, kasihanilah ia, maafkan ia, dan jadikan makamnya sebagai bagian dari taman surga, jangan Engkau jadikan sebagai jurang neraka.

Bilekere, 17 Desember 2020 M.