TGB: Mahabbah kepada Nabi merupakan Perkara yang paling Istimewa

banner post atas

 

Oleh: Dr. H. Abdul Fattah, M.Fil.I
> Sekretaris Wilayah PWNW NTB

Perayaan Maulid kali ini begitu istimewa bagi ummat islam di Indonesia karena bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional. Momentum untuk merefleksi nilai-nilai juang Pahlawan Bangsa termasuk sang Pahlawan asal NTB yakni Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Iklan

Dalam Tawsiyyah Maulid beberapa hari yang lalu, Syaikhuna TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA mengungkapkan beberapa hal utama, diantaranya:
Pertama: Persoalan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan wujud cinta (Mahabbah) ummat Islam kepada Nabi SAW yang agung. Akan halnya sabda Nabi SAW kepada salah seorang sahabat

انت مع من احببت يوم القيامة

“Anda akan disertakan bersama orang yang anda cintai pada hari kiamat”.
Kalo cinta tulus kepada Baginda Nabi SAW, tentu anda akan dikumpulkan bersamaikan dengan Baginda Nabi SAW.

Kedua: Cinta (Mahabbah) kepada Nabi Muhammad SAW, bukan sekedar pada maqom (derajat) penyempurna (النوافل) semata, namun pada derajat (الفراءض)، yakni kewajiban tertinggi. Dalam terminologi Mazhab Hanafi, (الفريضة) lebih tinggi dari (الواجبة). Karena itu, ummat Islam tidak cukup sekedar berucap, “saya beriman kepada Rasulullah SAW”, lantas selesai. Tidak.
Bahkan dalam Qs. Al-A’raf (7): 157 Allah tegaskan:

فالذين امنوا به وعزروه ونصروه و اتبعوا النور الذي انزل معه، اولؤك هم المفلحون

Kewajiban komprehensif ummat Islam terhadap Rasulnya ada 4, yakni (1) Iman kokoh kepada Rasul, (2) Memuliakan Rasul SAW (3) Menolong Rasul SAW, dan (4) mengikuti cahaya yg diturunkan kepadanya, yakni Kitab Suci Al Qur’an.

Ketiga: Pada hari kiamat, matahari hanya berfungsi satu dari dua fungsinya selama ini, yakni memanaskan. Sedangkan didunia ini, matahari disamping memanaskan juga memberi cahaya. Cahaya matahari ini yang dicabut oleh Allah saat kiamat. Sehingga dunia ini sangat gelap namun sangat panas. Saat kengerian kiamat ini berlangsung, orang hanya ingat dirinya. Seorang ayahpun tidak bisa menolong anak atau istrinya. Disinilah signifikansi Syafaat sang Nabi SAW, bagi ummat yang cinta kepadanya. Karenanya Maulana Syaikh selalu ajarkan doa: اللهم شفعه فينا, “Ya Rab, berikanlah kami syafaat melalui Baginda Rasulullah” dan juga doa: ادركنا يا رسول الله، “Wahai Rasul Mulia, jangkaulah kami, jangkaulah kami…”

BACA JUGA  Prof H Harapandi: Hargai Perempuan

Keempat: Jika saat ini warga Perancis menghina Nabi SAW atas nama kebebasan berekspresi, maka ummat Islam dituntut “Membela NABI SAW”. Namun membela inipun harus arif dan proporsional. Boleh jadi, mereka tidsk fahami totalitas kepribadian Baginda NABI SAW. Karena itu, strategi dakwah Islamiyah harus lebih masif, substantif, dan kedepankan dimensi “Rahmatan lil alamin”. Makna lain, ini juga autokritik bagi umat Islam sendiri. Seperti kata Habib Ali Al-Jufriy, “Penghinaan terhadap Baginda Nabi SAW, merupakan cerminan dari perilaku ummat Islam hari ini”. Boleh jadi ini benar, sebab ratusan ribu pengungsi Syiria misalnya, ditolak oleh negara Arab sendiri. Justeru Jerman dan Perancis yang menampungnya. Lantas kita mau bilang apa.

Kelima: Dalam konteks berorganisasi di NW, Syaikhuna TGB tegaskan perlunya membangun kolaborasi dan kemitraan dgn siapa saja, di samping perkuat kapasitas diri. “Tidak mungkin kita berkontribusi, kalo kita tidak selesai” atau setara dengan kearifan lokal Bangsa Arab فاقد الشيء لا يعطيه. Karena kita harus terus belajar dan belajar.
Dalam konteks kepemimpinanpun demikian. Menjadi memimpin (امام) itu susah atau berat. Namun tentu lebih berat belajar menjadi orang yang dapat dipimpin (ماءموم). Sebab harus mampu tundukkan keangkuhan ego sendiri. Dalam konteks ini, Syaikhuna TGB mengajak PBNW Anjani untui Muktamar bersama. Pun jika, Beliau yang harus menjadi Wakil Ketua, tidak masalah. Biar 5 tahun hingga 10 tahun. Tentu yang menjadi tolok ukur organisasi adalah sebagaimana arahan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid “Kompak, Utuh dan Bersatu”.

Editor: Abdurrahman