Salah satu guru Muhammad Zainul Majdi muda saat sekolah di Muallimin adalah TGH. Lalu Anas Hasyri, seorang alumnus Shaulatiyyah Makkah al-Mukarramah.
Tuan Guru Anas adalah salah satu Masyaikh Ma’had Darul Qur’an wal Hadis (MDQH NW) Pancor yang ditunjuk langsung oleh al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid Sang Pendiri.
Kapasitas keilmuan Mamiq Tuan Anas tidak bisa diragukan. Pakar dalam bidang Arud adalah salah satu ciri khas yang amat menonjol pada dirinya. Banyak lagu dan syair yang diciptakannya dengan cepat dan mudah serta berbobot.
Meski di tulisan ini tidak sepenuhnya dipaparkan kelebihan dan keutamaan beliau, tapi penunjukan langsung dirinya sebagai staf pengajar oleh Maulana Syaikh sudah lebih dari cukup, sebagai penanda dirinya memiliki maziyah (keutamaan) dan tempat istimewa di hati Sang Pahlawan Nasional tersebut.
Tuan Guru kesayangan Maulana Syaikh itu ternyata memiliki hubungan emosional yang erat dengan Tuan Guru Bajang (TGB). Hubungan kedekatan antara guru dan murid. Sehingga di satu malam TGH. Anas pernah bermimpi.
Apa mimpinya?
Mimpi itulah yang diceritakan dalam serial curhatan Ummi Rauhun pada sebuah vidio, dan vidio itu bisa didownload di youtube.
Selain itu, di vidio itu pula kita bisa mendengar Ummi bercerita dengan mengalir terkait jejak pendidikan Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA sejak Muallimin sampai Ma’had, bahkan hingga ke Al-Azhar Cairo Mesir.
Nah, pada saat Muallimin itulah Tuan Guru Anas pernah menghaturkan ke Ummi Rauhun perihal mimpinya.
“Ummi, tiang (saya) yakin Zainul Majdi ini, dia pintar anak ini. Dia akan bisa seperti Niniknya.” Kata Ummi bercerita menirukan kata Tuan Guru Anas.
“Kenapa bilang begitu?.” Tanya Ummi.
“Tiang sampun (saya sudah) mimpi pakai mobil Sedan. Terus dia (Zainul Majdi) yang menjadi sopirnya. Dan di sebelah dia ada Niniknya.” Begitu jawaban Tuan Guru bintang Shaulatiyah itu memberitahu putri sulung guru besarnya.
Hebatnya, –masih menurut cerita Ummi–, bahwa mimpinya itu menjadi buah bibir yang selalu diceritakan Abah Anas di Muallimin dan Muallimat. Sebuah mubasyyirat yang sangat disyukuri dan dibanggakannya.
Bahkan, kata Ummi, Tuan Guru Anas sampai dua kali menyampaikan perihal mimpi itu kepadanya. Baru setelah itu Ummi lebih percaya.
Dari sepenggal kisah yang dituturkan Ummi Rauhun Zainuddin Abdul Majid ini kita bisa menemukan beberapa point fakta.
Pertama, Abah Anas sangat menyayangi dan amat menghormati semua putri al-Magfurulah. Dan ini sebuah kepastian. Kita tidak bisa meragukan hal ini. Pasti beliau takzim sama dua permata maha gurunya. Dan buktinya, beliau selalu memanggil putri pertama Maulana dengan panggilan “Ummi”.
Kedua, kepercayaan Mamiq Tuan Anas akan kualitas keilmuan muridnya (TGB) bermula sejak dahulu. Sebuah prediksi dan proteksi hasil dari sebuah mubasyyirat seorang guru terhadap muridnya.
“Ummi, saya YAKIN Zainul Majdi ini, dia pintar anak ini.” Sebuah kata yang disampaikan Abah dengan yakin. Sebuah keyakinan terhadap mimpinya.
Sampai di sini, muncul pertanyaan paling mendasar bagi penulis.
Apakah saat ini, setelah mimpi Abah Anas itu berlalu selama hampir tiga puluhan tahun silam, terbuktikah sebuah mubasysyirat itu?
Sangat terbukti. Itu jawaban singkatnya.
Betapa tidak. Rekam jejak pendidikan Tuan Guru Bajang sangat gemilang. Sekolah Mualliminnya diloncat naik kelas.
Disertasi Doktoralnya –kata profesornya–tak akan terkejar oleh mahasiswa setelahnya di Al-Azhar. Predikat S3-nya Summa Cum Laude Ma’a Haqquttaba’ el-Syarif el-Ulâ. (Nomor wahid).!
Ketiga, Tuan Guru Anas telah menstempel Tuan Guru Bajang sebagai seorang cucu yang BISA SEPERTI NINIKnya kelak. TGB diyakini akan muncul menjadi seorang ulama besar dan kharismatik. Apakah prediksian ini juga telah terwujud?
Tahaddus binimatillah. Saat ini dengan jelas kita bisa melihat kharisma dan keulamaan TGB, di kancah Nasional ataupun Internasional, beliau amat mewarnai dua dimensi kehidupan. Kehidupan politik dan agama. Gaya politiknya santun. Pemikiran agamanya wasatiyah.
Pada diri TGB melekat jiwa keulamaan dan keumaraan.
Demkianlah tulisan ini saya tulis, dengan maksud dan niat sebagai ladang kesyukuran, bahwa NW memiliki “najmun min anjumi” (satu bintang di antara ratusan kader lainnya) yang bisa dan mumpuni menahkodai sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Wathan.
Wa Allah A’lam!
Pancor, 13 September 2020 M.
*#Sekretaris_PCNW_Kediri
#Dakwah_Nusantara_TGB




