Oleh: Syamsuddin, QH., SH., MH*
_Bismillahirrahmanirrahim._
Seusai penyerahan cinderamata oleh Ketua PITI Bapak Mulyono Lee dan H. Tresno Wikondo Rahardjo, Syekh TGB menepuk pundak saya sembari berpesan, “Usahakan untuk tetap bisa merawat semangat jemaah”. Sayapun mengangguk, tanda mengiyakan. _Sami’na wa Atha’na._
Sambil kami berjalan berdampingan menuju mobil yang ditumpangi Syekh, dengan disorot mata jemaah dan kamera, saya kembali menyampaikan beberapa hal, sebagai lanjutan dari obrolan kami di “Rumah Makan Padang” dan di “Hotel The Trans” pada siang harinya.
Setelah Syekh TGB duduk di kursi mobil Alpard. Sayapun mohon izin pulang dan berjanji akan tiba di Musala al-Hijrah yang ada di komplek Pendopo Pak H. Wikondo, sebelum pukul empat pagi.
Syekh TGB kembali ke The Trans. Sementara saya pulang ke perumahan Kemenkumham. Sungguh, kegiatan di Pendopo Bapak H. Wikondo malam itu berjalan lancar dan sukses.
Besok paginya. Setelah salat Subuh berjamaah, Dakwah Nusantara TGB pun kembali dilanjutkan di musala yang dibangun oleh seorang muslim berdarah Cina tersebut.
Menariknya. Ada poin penting yang saya tangkap dan amat mengena bagi pribadi ini, dari apa yang disampaikan Syekh TGB pada kuliah subuhnya. Poin penting sebagai modal menjalani kehidupan di ruang publik dan berintaksi sosial, agar pergaulan kita bisa mendatangkan kebaikan.
Poin penting itu, adalah (1). _Ucapan terima kasih_; (2). _Memohon maaf_, dan (3). _Permisi_.
Di luar dugaan, tiga poin penting ini memiliki relasi dengan “kejadian ganjil” saat hendak salat Subuh pagi harinya. Tentu, ini masih subyektif pribadi saja, sehingga butuh pembuktian. Tapi –lagi sekali– hemat saya, _khawas_ TGB mengarah ke “kejadian” tersebut.
Bakda kajian pagi. Masih di tempat yang sama, dilanjutkan dengan sesi foto bersama Syekh TGB dengan jemaah secara bertahap. Mulai dari “Shahibul Bait”, Imam dan Pengurus Musala al-Hijrah, jemaah umum, sampai terakhir Tim Media Dakwah Nusantara TGB, yakni Ust. Baehaqi dan Ust. M. Rusli Nasir.
Ilmu dari Syekh sangat aplikatif. Seusai saya menemani Tim Media berfoto, saya teringat isi kajian sebelumnya. Sehingga saya pun berucap kepada syekh, _Terimakasih,_ atas kebaikan yang diberikan. _Mohon maaf,_ bila ada kesalahan yang kami perbuat. Dan _Permisi,_ untuk menekan rasa sombong di hadapan orang yang lebih pantas ditakzim dan ditakrim*.
Rangkaian kegiatan selanjutnya, sarapan pagi di Pendopo Wikondo. Di samping pendopo itu ada meja bundar terbuat dari marmer senilai puluhan juta. Kami pun duduk melingkar di situ. Syekh TGB menghadap gerbang, didampingi saya di sebelah kanannya. Sedangkan sebelah kiri beliau, duduk Bapak H. Wikondo dan Pak Mulyono Lee.
Meja berharga itu, saya yakini amat bersyukur dilingkari oleh majelis duduk Syekh TGB. Perbincangan pun dimulai oleh Pak Wikondo bak “Spesialis Marketing” terkait usaha dan bisnis yang dijalankannya. Maklum saja, beliau sosok pengusaha yang ulet dan elit, dengan keelokan perangai akhlak yang elegan, serta bisnismen yang humanis.
Sosok beliau yang amat empati kepada sesama, menjadikan perniagaannya diberkahi oleh Allah swt. Kekayaannya tidak hanya untuk dirinya, tapi ditebar untuk dan atas nama kemanusiaan. Musala al-Hijrah dibangun sendiri di tanah miliknya, juga dengan uang pribadi, untuk kemanfaatan sebanyak-banyak umat, yang mukim maupun musafir.
Pun demikian, Pendopo dibangunnya dengan arsitektur yang amat megah dan sangat mewah, juga untuk sebanyak-banyaknya kegiatan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan. Alangkah banyak dan berharganya jariyah beliau.
Namun, di atas semuanya, hemat saya yang amat menakjubkan, ialah bahwa beliau seorang Tionghoa yang miliader, namun haus ilmu dan sangat takzim kepada ulama, termasuk kepada Syekh TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi.
Sementara Pak Mulyono Lee bercerita terkait perjuangan usahanya di bidang kemasyarakatan. Jatuh bangunnya ia membina UMKM bagi masyarakat Muslim di Kota Denpasar dan Bali secara umum.
Pagi itu Pak Mulyono memperkenalkan “Truck Food” dengan menjual “Dimsum Siyo” dan beberapa jenis masakan ala Korea dan Cina.
“Pak Haji, Kalau begitu saya langsung ambil saja ya. Saya mau coba rasanya!”. Pinta Syekh TGB seketia sebagai support dan dukungannya.
Bapak H. Wikondo dan Pak Mulyono Lee pun terlihat kaget. Pasalnya, kedua Tionghoa itu sudah menyuruh pelayannya untuk menyuguhkan ke meja yang kami tempati. Sebelum makanan tersaji di meja.
Sikap Syekh ini, bagian dari cara mengapresiasi. Sebagai sosok ulama yang telah bertahun-tahun dinanti kehadirannya, saya meyakini sahibul bait itu demikian bahagia, ketika sajian mereka disambut bahagia, senang, dan rasa penasara yang ditampakkan oleh seorang ulama karim.
Sikap Pak Wikondo dan Pak Mulyono sangat terlihat sangat takzim kepada syekh. Hanya saja, syekh bukan sosok ulama yang doyan dilayani dan dihormati berlebihan. Maunya beliau, cukup diperlakukan sebagaimana kebanyakan orang. Sebuah akhlak dan keteladanan yang memesona.
Penglihatan, rasa dan pengamatan saya kepada syekh yang tertuang lewat tulisan ini, ternyata dirasa sama oleh Pak Mulyono Lee. Sehari setelah kembali dari Bandara Ngurah Rai beliau mengatakan,
“Pak Syam, saya perhatikan beliau (TGB) begitu lou profile banget. Pakaian beliau tampak biasa dan sederhana. Tapi, sangat kental dengan nuansa rapi dan bersih. Kelihatan sekali isinya. Saya seperti jatuh cinta. Saat ini, tidak mudah menemukan tokoh seperti beliau”. Pujinya.
Kembali ke meja makan. Di atasnya tersaji sekian banyak menu sarapan yang siap menggoyang lidah. Syeikh TGB mengambil sendiri Dimsum Siyo sama sambal, saus, dan sumpitnya. Sedang Posisi kami. Pak Wikondo dan Pak Mulyono Lee tetap pada posisi semula.
Pada saat itulah, tetiba seorang tua berwajah teduh penuh kebijaksanaan mendekat, lalu duduk di samping depan Syeikh TGB. Sembari bertanya ke syekh, “Bapak Tuan Guru pernah dengar kepanjangan ACEH?”
“Belum” jawab syekh singkat.
“Saya lahir di Aceh Pak Tuan Guru. Dan orang tua saya pernah memberitahu, ACEH adalah singkatan dari Arab Cina Eropa dan Hindia. Saya Cinanya”. Jelas si Bapak Tua itu.
Syekh pun mendengar, sambil menyantap ringan makanan di depannya.
“Bapak Tuan Guru, saya menangis merenungkan kedalaman makna ceramah semalam. Benar-benar saya menangis. Tadi sebelum subuh, dari perumahan saya naik motor ke sini juga sambil menangis. Betapa dalam maknanya menurut saya. Tentang tuntunan dan tatanan”. Kata Bapak Tua sembari berkaca-kaca.
Saya yang sedari tadi hanya menyimak, sesaat berhenti menyantap. Syeikh TGB pun melepas sumpit, mengambil secarik tissue, lalu memandang lurus ke Bapak Tua dengan wajah teduhnya, dan berkata:
“Islam ini bukan hanya tuntunan bagaimana kita menghamba kepada Allah. Tetapi juga tatanan dalam rangka kita melakukan kebaikan-kebaikan pada setiap ruang sosial yang tersedia.” Katanya.
Syekh juga menegaskan, “Mengisi ruang sosial, bisa kita memulai dari diri dan keluarga kita.”
“Saya sering memperhatikan kalau ke luar negeri, seperti di Perancis, Italia dan lain-lain. Termasuk, saya memperhatikan orang Cina begitu baik kepada orang tuanya. Ada yang rela menggendong keduanya, atau setidaknya dipakaikan kursi roda dan dia sendiri yang mendorongkannya.” Lanjut syekh bercerita.
Tidak sampai di situ, syekh juga memotret kondisi sikap sebagian kita kepada kedua orang tua. Kata beliau, “Kondisi kita beda. Sering kali kita menganggap begitu mahal yang harus dibayar kalau pengeluaran untuk orang tua, saat umrah misalnya.”
“Deg..” mendengar kalimat-kalimat syekh seakan pukulan menghempas bagi saya.
Betapa tidak. Pengalaman pribadi pada Nopember 2019, saya pergi umrah bersama isteri, ibu kandung dan ibu mertua. Yang sepertinya, saya belum maksimal berkhidmat bakti kepada dua permata hatiku.
Sementara saat kami kembali ke Jeddah untuk ke Kuala Lumpur, saudara Muh. Khalqi (Ketua Pemuda NWDI) memberi informasi, ia bersama Ummi Rauhun datang umrah menyusul Syekh TGB yang pasti beliau akan berkhidmat penuh kepada umminya.
Sungguh, penjelasan panjang Syekh TGB tesebut benar-benar seperti teguran halus nan lembut bagi al-faqir, untuk berbuat baik kepada orang tua. Kalimat-kalimat syekh mengirim sinyal untuk tidak menganggap ibu bapak sebagai sebab kesibukan, justru keduanya sebagai pintu surga.
Akhirnya, sikap, ucapan dan cara bersosial dan berkhidmat syekh TGB bagian dari cermin tuntunan dan tatanan yang harus dimengerti oleh kita dalam menghamba kepada Allah dan bermasyarakat di ruang-ruang sosial yang ada.
Teriring doa untuk syekh TGB “Mattha’alallahu fi hayatihi fi shihhatin wa’aafiyatin.” Amiiin!
Wa Allah A’lam!
Denpasar, 4 Desember 2021 M.
*Ketua Departemen Politik Hukum dan HAM dan Pimpus Pemuda NWDI Bali.





