TANGGAPAN LOGIS TGB (Terkait Polemik Penamaan Bandara di Lombok)

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa*

Lebih sepekan isu atau polemik terkait penamaan bandara Internasional di pulau “Seribu Masjid” yang –kebetulan– berada di Lombok Tengah ini bergulir bak bola liar. “Isu” ini sejatinya bukan kali pertama. Sudah berkali-kali. Muncul-tenggelam seiring kepentingan politik segelintir orang.

Dengan maksud ingin meluruskan dan memenuhi keinginan banyak orang akan respon dan duduk perkara –sesungguhnya– dari pihak keluarga Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, maka Tuan Guru Bajang merasa terpanggil untuk menjelaskan atau menjawab dengan tanggapan yang amat logis.

Iklan

Tanggapan cucu Maulana Syaikh tersebut ada empat hal penting yang harus dipahami, yakni:

Pertama, kami –tegas TGB– menyesalkan dan menyayangkan stetmen, pernyataan bahkan polemik terkait penamaan bandara Internasional di pulau Lombok dengan menggunakan nama dari Pahlawan Nasional atau orang tua kita, yakni Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Sejatinya, menurut hemat saya –dengan alasan apapun– stetmen, pernyataan dan bahkan polemik ini sangatlah tidak pantas.

“Terus terang, sangat menyakitkan. Tidak pantas kita memperlakukan tokoh ini. Bahkan sekarang, almagfurulah tidak hanya milik warga Nusa Tenggara Barat. Tapi, sudah menjadi milik negara. Sebab, beliau telah resmi menjadi Pahlawan Nasional”. Tegas TGB

Kedua, terkait penamaan bandara. Kewenangan mutlak penamaannya berada pada Pemerintah Pusat. Sementara Kepala Pemerintahan kita, yakni Bapak Joko Widodo melalui Menteri Sosial telah menetapkan nama “Zainuddin Abdul Majid” menjadi nama bandara Internasional yang ada di pulau Lombok.

Selain itu –jelas TGB–, penamaan bandara dengan nama tokoh Pahlawan bukanlah sesuatu yang unik, bukan hal baru dan hanya ada sekarang, tapi sudah menjadi “jamak” (hal biasa) yang ada di banyak daerah.

Sebagai contoh, TGB menyebut beberapa di antaranya seperti; Bandara Hasanuddin di Sulawesi, Sultan Badaruddin di Palembang, Adi Sujipto di Jakarta, Adi Sumarmo di Solo, Halim Perdanakusuma di Jakarta, atau Iskandar Muda di Aceh, dan masih banyak lagi di tempat lainnya.

Pokoknya, hampir di seluruh Provinsi di Indonesia, Pemerintah menamakan bandara dengan nama tokoh dari daerah itu. “Kita kebetulan memiliki satu Pahlawan Nasional, yaitu Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid”. Jelas Ketua PBNW tersebut.

Oleh sebab itu –lanjutnya–, “Sudah sepantasnya, bahkan tidak ada yang aneh untuk menamakan bandara di Lombok menggunakan nama Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid”.

Bukankah kita warga NTB juga sudah terbiasa dengan hal ini? Tanya TGB. Sebagai contoh beliau menyebut; Kita telah memberikan penghormatan kepada Sultan Kaharuddin sebagai nama bandara di Sumbawa. Di Bima kita sematkan nama bandaranya dengan nama Sultan Solahuddin.

BACA JUGA  HALAQOH PWNW NTB: Di Hadiri Alim Ulama’ Tuan Guru dan Da’I NW Di Al Abror Pancor.

“Atas dasar itu, maka bagi kami dari pihak keluarga, memandang bahwa polemik ini adalah sesuatu yang dicari-cari dan sangat tidak beralasan”. Tanggapan TGB menyayangkan.

Ketiga, kami (kata TGB) juga menyimak alasan-alasan dari yang keberatan. Seperti ada yang berpendapat; Jangan memakai nama Maulana Syaikh, karena yang datang ke bandara itu bukan hanya orang yang baik saja, nanti kurang marwahnya.

Alasan ini pun membuat Syaikhuna TGB makin heran. Pasalnya, banyak sarana umum yang diberi nama dari nama para ulama dan hal itu tidak pernah ada komplain.

“Penamaan itu adalah bagian dari penghormatan kita kepada ulama dan menjadi pelajaran bagi generasi mendatang, supaya mereka bisa meneladani nilai-nilai baik dari Pahlawan itu”. Terangnya.

Selain itu, ada pula alasan yang lebih aneh, katanya; “Wah, nama Maulana Syaikh itu terlalu besar untuk menjadi nama sebuah bandara”.

Ee…, mereka lupa, bahwa banyak juga ulama-ulama hebat lainnya yang namanya digunakan sebagai nama sarana umum. Contoh, nama TGH Lopan dipakai sebagai nama salah satu jalan di Lombok Tengah dan Lombok Barat. Tidak ada yang keberatan.

Bahkan, selain nama TGH. Lopan ada pula jalan yang diadopsikan nama dari tokoh-tokoh luar daerah, misalnya; nama KH. Ahmad Dahlan menjadi nama jalan di Lombok Timur atau nama KH. Hasyim Asyari di banyak tempat, toh –selama ini– tidak ada yang protes dan tidak ada yang mengatakan; mengurangi marwah.

Tidak cukup mempan alasan-alasan tadi, ada pula mereka yang sampai bicara prosedur.

Kalau memang ada prosedur yang belum rapi, mari kita rapikan bersama. Tapi, setahu saya (kata TGB) perbaikan prosedur itu sudah diproses, bahkan sudah dilakukan oleh DPRD dan mendapat persetujuan dari lembaga terhormat tersebut, sehingga tidak ada alasan dari sisi prosedur.

Nah, Ada juga akhir-akhir ini yang beralasan dengan mengatakan bahwa banyak masyarakat yang tidak setuju. Ini pun sangat ganjil bagi Syaikhun TGB yang pernah berkhidmat sebagai Gubernur NTB dua priode:

“Saya tahu persis ikram (penghormatan) masyarakat Lombok Tengah kepada ulama itu luar biasa. Masyarakat Tastura adalah masyarakat yang tindih, sangat kuat memegang adat-istiadat dan kesopanan. Sangat takzim dan cinta kepada para ulama dan agama. Pembelaan mereka kepada ulama itu luar biasa!”. Demikian persaksian TGB.

“Itu yang saya tahu dan saya rasakan selama ini”. Tegasnya lagi.

Bahkan alasan yang sangat aneh bin ajaib ialah perkataan mereka; Jangan menamakan bandara dengan Zainuddin Abdul Majid, nanti bandara dibawa ke Lombok Timur. Subhanallah!

“Memang Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid kelahiran Lombok Timur, tapi sekarang sudah menjadi milik kita semua, sebab beliau Pahlawan Nasional”. Jelas TGB.

BACA JUGA  Indonesia : Sebanyak 9.511 Kasus Positif Covid-19, berikut Rincian dari Usia Pasien.

Seribu satu alasan dibuat-buat. Tapi, meski demikian TGB dengan kesantunan dan kelembutan khas bicaranya, masih berhusnuzhan dengan mengatakan bahwa boleh jadi riak-riak kecil dari sebagian masyarakat, diakibatkan oleh miss komunikasi atau miss informasi.

Untuk itu, Tuan Guru Bajang sangat berharap pada tataran ini, para tokoh untuk ikut menjelaskan dan meluruskan informasi kepada masyarakat, bukan justru memanfaatkannya.

Terakhir keempat, sebagai pengingat bagi saya (kata TGB) dan kita semua; bahwa Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid adalah seorang ulama, yang keulamaannya tidak hanya diakui di Indoneaia, tapi diacungi jempol juga di dua tanah haram oleh para ulama dan guru-gurunya.

Untuk lebih jelasnya, TGB meenyebut persaksian kekaguman para ulama dan guru-guru Al-Magfurulah, seperti Maulana Syaikh Hasan Muhammad Almasysyath yang pernah mengatakan: ما دعوت إلا وأشرقت زين الدين (Aku tidak berdoa kecuali aku memasukkan nama Zainuddin).

Syaikh Muhammad Amin Al-Kulutbi juga memuji dan mengakui keutamaan muridnya yang satu ini. Beliau bersenandung dengan syair yang cukup panjang (ada di bagian akhir Hizib NW), berikut bait pertamanya: لله زين الدين في فضله في مجده السامي وفي نبله . Sebuah pernyataan keutamaan dan keistimewaannya.

Demikian pula pujian dari guru-gurunya yang lain, bahkan sekelas Mudir (Kepala Madrasah) Shaulatiyh Syaikh Salim Rahmatullah mengutarakan kekagumannya: ما يلزم أن يكون للصولتية طلابا كثيرا يكفي واحدا ولكن مثل زين الدين . (TIdak harus Shaulatiyyah memiliki banyak santri, cukup satu saja asalkan seperti Zainuddin).

Keistimewan dan magnet Maulana Syaikh semasa hayat juga banyak terlihat. Para ulama Makkah dan Madinah berdatangan silih berganti. Syaikhuna TGB menyebut semisal; Buya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Makki, Syaikh Yasin Isa al-Fadani musnid duniya, Syaikh Ismail Zain, Syaikh Zakaria Abdullah Bila dan banyak lagi ulama lainnya.

Artinya apa? Ini sebagai bukti keulamaan Maulana Syaikh tersohor hingga di bagian penjuru bumi Timur Tengah. Untuk itu, TGB mengajak kita mengingat kaimat yang disampaikan Imam al-Hafidz Ibnu Asâkir, لحوم العلماء مسمومة (daging ulama itu beracun). Maksudnya?

Apabila kita meperlakukan ulama dengan tidak baik, menyakitinya pada saat masih hayat, atau –apalagi– setelah wafat, maka dengan seribu satu cara yang tidak diketahui, Allah swt. mewujudkan “masmumah” (racun) itu bagi yang menyakiti. “Hati-hati!”.

“Seperti apa sikap atau perlakuan kita kepada ulama saat ini, menjadi cerminan generasi mendatang”. Demikian TGB mengingatkan dengan santunnya.

Wa Allah A’lam!

BRI Mataram, 30 Desember 2020 M.