Bagian 3
Katanya Islam sebagai pijakannya, kok bertengkar
Katanya Iman tertanam dalam jiwa, kok iri dan hasad
Pokoknya NW, pokok NW Iman dan Taqwa, lalu mengapa bermusuhan
Islam, Iman dan Ihsan tidak dapat dipisahkan, karena itu jalankan wahai Ikhwan
Rasanya tidak dapat diam saat membaca postingan-postingan perdebatan yang mengarah kepada permusuhan. Bukankah kita bersaudara, jika pola-pikir kita tidak dapat bersatu, dan memang tidak akan pernah dapat disatukan, karena sejatinya inilah ciri dan karakter manusia sejati.
Akan tetapi, saat kita mengaku Islam adalah agama yang kita jadikan pijakan dan anutan, pastinya perbedaan dapat dikelola menjadi sebuah amunisi yang dapat bersinergi antar sesama. Bukankah Allah telah memberikan garis tegas bagi kita sebagai insan paripurna, firmanNya dalam surat al-Hujurat:13.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Artinya:
Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).
Ditegaskan pula oleh baginda Rasul dalam banyak hadits beliau, diantara hadits-hadits tersebut ialah;
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوادِّهم وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالحُمَّى والسَّهَر
Artinya:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam persahabatan kasih sayang dan persaudaraannya sama dengan satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh menimbulkan demam dan tidak dapat tidur (istirahat).
Dari kedua nash al-qur’an dan hadits tersebut amat jelas, bahwa setiap mukmin itu bersaudara. Bersaudara artinya tidak dibenarkan bermusuhan walau dalam pemikiran, jika terjadi perbedaan pandangan antara kita, baiknya diambil hikmah dari sebuah perbedaan. Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menjerumuskannya.
Sikap kita menjadikan manusia sebagai idola sah-sah saja, asal jangan kebablasan, kita memuja dan memuji di atas batas kewajaran dapat berakibat pada pujaan kita, bukan menjadi “agung dan mulia” melainkan kita telah menjerumuskan idola kita di hadapan Allah Azza Wajalla.
Lihatlah kisah Nabi Isa Alaihissalam dan ummatnya, sebelum mereka memuja-memuji Nabi Isa Alaihissalam dengan pujian yang berlebihan, mereka sangat disayang dan dimuliakan Allah akan tetapi setelah mereka menempatkan Nabi Isa sebagai Ibn Allah (anak Allah), maka Allah menghinakan mereka. Nauzubillah, bahkan Allah bertanya kepada Nabi Isa atas sikap ummatnya..
وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ.
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Wahai Isa ibni Maryam! Engkaukah yang berkata kepada manusia: `Jadikanlah daku dan ibuku dua tuhan selain dari Allah? ‘ ” Nabi `Isa menjawab: “Maha Suci Engkau (wahai Tuhan)! Tidaklah layak bagiku mengatakan sesuatu yang aku tidak berhak (mengatakannya).
Jika aku ada mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedang aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu; kerana sesungguhnya Engkau jualah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. (QS. Al-Maidah:116).
NW-ku berkata; Tempatkan dan posisikanlah pujaan kita selayakna sebagai manusia biasa. Jika beliau-beliau memiliki kelebihan, maka ketahuilah pasti ada kekurangannya, saat terdapat kelibihan yang kita rasakan, bersyukurlah (pujilah) Allah karena Dialah yang lebih tepat untuk dipuji, bahkan jika pujian dialamtakan pada diri kita padahal sejatinya kita mengetahui bahwa pujian itu tidak layak untuk diri kita yang dhoif ini, maka arahkan segala daya upaya kita untuk memuji Allah Azza Wajalla.
Al-Syaikh Tajuddin Ibn ‘Athaillah al-Sakandari telah menegaskan dalam salah satu bayt-bayt hikamnya. “Orang-orang memujimu karena apa yang mereka sangka ada pada dirimu. Karena itu, celalah sdirimu atas apa yang engkau kethaui ada pada dirimu”.
Dan seorang mukmin sejati akan malu kepada Allah, karena ia dipuji atas seseuatu yang tidak ada pada dirinya.
Hentikanlah bermusuh-musuhan, jauhilah pertiakain, hindarilah berbantah-bantahan, karea semua sifat tersebut merupakan senjata ampuh setan durjana. Islam, bahkan Maulana Syaikh guru kita telah mengajarkan nilai-nilai toleransi, tasamuh dan tafahum dalam menghadapi kehidupan.
Jika kita memang benar-benar pengikut Maulana Syaikh, bersatulah dalam panji-panji kebersatuan (satu dalam hati, satu dalam ucap dan satu dalam tindakan). Kendaraan kita boleh berbeda-beda, namun hakikat tujuan kita sama. Jika kita beranggapan kendaraan kita lebih baik, maka bantulah kendaraan kawan kita yang kurang baik, jika kendaraan kita lebih mulia, maka bantulah kendaraan teman kita agar ikut merasakan kemuliaan. Bukan malah sebaliknya, ingat firman Allah dalam surat al-Hujurat:11.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.
Saudarakau, kita tidak mengetahui hakekat seseorang. Boleh jadi orang yang dicela itu lebih mulia di sisi Allah, boleh jadi dia lebih banyak amal kebaikannya, boleh jadi dia lebih bertakwa. Dan tidak ada yang menjamin seseorang akan selalu lebih baik kondisinya dari orang lain. Orang yang tadinya kaya bisa jadi mendadak hilang hartanya. Orang yang punya jabatan tinggi, bisa lengser seketika. Orang yang tadinya mulia kedudukannya, bisa jadi nanti masyarakat merendahkannya. Sehingga, tidaklah pantas seseorang merasa jumawa, merasa dirinya lebih baik dari orang lain sehingga mencela dan merendahkannya.
Saudaraku, al-Syaikh Al-Qalyubi dalam kitab An-Nawadir menceritakan bahawa telah terjadi dialog antara Iblis dan Fir’aun. Iblis berkata; wahai fir’aun apakah engkau mengenal diriku?, tentulah aku mengenalmu, sahut Fir’aun, lalu Iblis mengatakan, tapi wahai fir’aun engkau lebih berani dibandingkan diriku, padahal aku lebih ‘alim, aku lebih kuat daripadamu, tapi aku hanya tidak patuh pada Allah saat Dia memintaku bersujud pada Adam, sedangkan engkau telah menyatakan dirimu sebagai Tuhan Yang Maha Agung. Kalau begitu aku bertaubat, karena Allah Maha menerima taubat hambaNya. Iblis berkata, jangan engkau lakukan itu, karena semua rakyat Mesir akan menghinamu, mengusirmu dan engkau akan kehilangan pengaruh dan kerajaanmu, jika demikian kata fir’aun aku tetap pada pengakuanku.
Iblis berkata; Wahai Fir’aun, tenanglah, ada hamba Allah yang lebih hina dan lebih dibenci Allah dibandingkan kita, siapakah itu, tanya fir’aun,
“Orang yang datang kepadanya orang lain dan mengaku bersalah, lalu ia minta maaf, akan tetapi kawannya tidak memberikan maaf, maka orang ini jauh lebih hina disisi Allah daripada kita…”
Masya Allah, dialog ini memberikan pengajaran bahawa setiap manusia pasti bersalah, tetapi orang yang paling baik adalah mereka yang menyadari kesalahanny dan meminta maaf kepada saudaranya. Dan orang yang didatangi kawannya untuk meminta maaf, hendaknya ia memberikan maafnya jika tidak ingin mendapatkan posisi lebih jahat dibandingkan Iblis dan Fir’aun..
Wahai saudaraku, tidak akan rugi orang yang memberikan maaf dan tidak menjadi hina mereka yang meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan. Jika ada yang baik datang dari kita itu semata-mata dari Allah dan jika ada yang keliru itu semua kealfaan diri kita. Pada kawan kita terdapat keunggulan dan kelebihan dan pada diri kita tersimpan kealfaan dan kelemahan.
Kupu SB
Brunei, 07/02/2023
Wallahu a’lamu bi al-Shawab




