SELAMAT HARI GURU Associate Professor DR. Harapandi Dahri Pengarah Pusat Penyelidikan dan Pengajian Jawi & Kitab Turath Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan (KUPU SB) Brunei Darussalam

SELAMAT HARI GURU Associate Professor DR. Harapandi Dahri Pengarah Pusat Penyelidikan dan Pengajian Jawi & Kitab Turath Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan (KUPU SB) Brunei Darussalam

Sinar5news.com  -Allah akan mengangkat dan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu dibandingkan dengan mereka-mereka yang tidak beriman dan berilmu (al-Mujadalah:85/11). Allah akan menjadikan ahli ilmu sebagai saksi bersama para MalaikatNya (Ali Imran:3/18). Dan sesungguhnya mereka yang paling takut di sisi Allah adalah para ahli ilmu yakni al-Ulama’ (Fathir:35:28). Apakah sama orang yang mengetahui dan tidak mengetahui (al-Zumar:39/9).

Keempat ayat tersebut dengan sangat jelas memberikan gambaran bahawa ahli ilmu memiliki tempat di sisi Allah bahkan sama derajatnya dengan makhluk yang selalu patuh dan tunduk kepada Allah yakni Malaikat-malaikat Allah Azza Wa Jalla.
Derajat yang tinggi menandakan kedakatan seorang ahli ilmu jauh melebihi makhluk-makhluk lainnya, maka sebaliknya bagi orang-orang yang tidak perduli dengan ilmu pengetahuan akan berada pada tempat yang sangat jauh bahkan boleh jadi lebih rendah (radi’) dibandingkan maklhluk Allah yang lain.
Dengan ilmu manusia dapat sejajar dengan para Malaikat Allah, dia akan dijadikan saksi oleh Allah bagi maklhluk-makhluk lain. Kesaksian mereka bersama Malaikat sebagai tanda keutamaan derakat mereka dihadapan Allah.

Dengan ilmu pula manusia akan sangat takut (dekat) dengan Allah, jika seseorang telah belajar ilmu lalu semakin jauh daripada Allah, maka dapat dipastikan bahwa ilmu yang dipelajarinya akan menjadi salah satu media siksa di akhirat. Perkara seperti ini telah ditegaskan Rasulullah dalam sebuah haditsnya;
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسَ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَة ِعَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهَ بِعِلْمِهِ
Maksudnya: “Sesungguhnya azab yang sangat dahsyat bagi mereka yang memiliki ilmu namun tiada beramal –mengikuti perintah dan sunnah RasulNya–dengan ilmunya”.

Dari hadits tersebut ditegaskan bahwa setiap orang yang sudah memiliki ilmu hendaklah beramal dengannya sebab jika tidak maka ancaman siksaan Allah amatlah pedih. Munasabah akan sikap tersebut Allah Azza Wa Jalla juga telah menegaskan ancaman siksaan bagi mereka yang mengatakan apa-apa yang tidak dilakukan, bahkan Allah sangatlah benci kepada mereka yang berseru (mengajak) orang lain berbuat namun dia sendiri mengingkari (tidak menjalankannya).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ.كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Tafsirnya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Qs. Al-Shaf:61/2-3).

BACA JUGA  Pengadilan di Banten Terkena Puting Beliung, Ini Langkah Cepat Sekretaris Mahkamah Agung

Agar dapat memperolehi ilmu sepertimana diajarkan Allah dan rasulNya, maka seorang penuntut ilmu mesti memahami beberapa tujuan, syarat, adab serta hal-hal yang berhubungkait dengan ilmu pengetahuan. Ilmu yang akan digapai bukanlah terhad pada ilmu itu sahaja bahkan ianya mesti lebih jauh yakni agar mendapatkan ilmu yang berkat, ilmu yang dapat menjadikan pemiliknya lebih mendekatkan kepada Rabb al-Izzati.
Buku yang ada di tangan saudara ini akan memberikan gambaran terkait dengan pelbagai syarat yang dituntut bagi para pelajar ilmu sehingga memperolehi keberkatan ilmu. keberkatan ilmu dapat bermakna bahawa ilmu sekalipun sedikit dapat memberi kualitas amal, ilmu berkat dapat membangun semangat beribadah dan bertaqarrub kepada Allah Azza Wajalla. Ungkapan bijak yang dikemukakan oleh al-Syaikh az-Zurnuji dalam kitab ta’lim al-mutaallim, hal. 9.
فَلَمَّا رَأَيْتُ كَثِيْرًا مِنْ طُلاَّبِ الْعِلْمِ فِيْ زَمَانِناَ يُجِدُّونِ اِلىَ الْعِلْمِ وَلَا يَصِلُوْنَ أَوْ مِنْ مَنَافِعِهِ وَثَمَرَاتِهِ وَهِيَ الْعَمَلُ بِهِ وَالنَّشْرُ يَحْرُمُوْنَ ِلمَا أَنَّهُمْ أَخْطَئُوْا الطَّرِيْقَ طَرَائِقَهُ وَتَرَكُوْا شَرَائِطَهُ وَكُّلُّ مَنْ أَخْطَأَ الطَّرِيْقَ ضَلَّ وَلاَ يَنَالُ الْمَقْصُوْدَ قَلَّ أَوْ جَلَّ.
Maksudnya: “Ketika aku melihat banyak sekali pelajar pada saat ini yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, namun sangat disayangkan mereka tidak memperolehi ilmu seperti yang diharapkan yakni tiada mendapatkan keberkatan ilmu dan tidak sampai pada tujuan mencari ilmu yakni beramal dan menyebarkan pada masyarakat. hal tersebut disebabkan kerana salah jalan (tersesat) dan meninggalkan syarat-syarat menuntut ilmu, ketahuilah bahawa sesiapa yang salah jalan maka akan tersesat –tiada sampai pada tujuan banyak mahupun sedikit”.

BACA JUGA  HIKMAH PAGI -TIGA ELEMEN DASAR PONDOK PESANTREN-

Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Muassis Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyyah berkata; Ilmu yang berkat akan dapat mengubah sikap dan pola hidup manusia, karena itulah carilah keberkatan bukan yang lainnya, sedikit ilmu yang berkat jauh lebih baik daripada banyak ilmu tapi tiada berkat”.
Berkat yang dimaksudkan ialah bertambahnya kebajikan, jadi ilmu yang berkat ialah ilmu yang dapat menambahkan kebajikan bagi ahli ilmu, namun sebaliknya jika ia memiliki ilmu tetapi tiada lebih dekat kepada Allah dan juga tiada memberi kebajikan bagi orang lain, maka ilmu yang dimiliki akan menjadi beban siksa di akhirat.

BACA JUGA  Tekab Ojek Online Berencana akan Melakukan Aksi Damai di Gedung Bundar Mahkamah Agung Jakarta.

Maulana Syaikh Tuang Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan murabbi sejati, semua usia dihibahkan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa, matahari adalah pedoman tarbiyyah beliau, terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat, siang malam tak pernah berhenti beredar, karena itulah guru sejati ialah mereka yang siap siang malam memberi bimbingan kepada segenap insan yang memerlukan.
Al-Syaikh Tajuddin ibn ‘Atahillah al-Sakandari dalam kitab beliau Tajul Arus menyebutkan bertapa pentingnya seorang guru, memberi dan menerima nasihat dari segenap insan adalah ciri utama murabbi, ia tidak pernah berhenti mencari dan memperbaharui ilmu yang dimilikinya. Dimanapun menjumpai muridnya, ia selalu siap memberi arahan dan bimbingan.
Seorang guru mestilah berorientasi pada ilmu dan amal karena menurut pandangan Imamuna al-Syafi’i Syarat menggapai sebuah kebahagiaan dalam pandangan Imam al-Syafi’i ialah menguasai ilmu pengetahuan. Ingin hidup di alam dunia dengan kebahagiaan tanpa ilmu adalah imposible, apalagi menggapai manisnya hidup akhirat tidak akan pernah (mustahil) tanpa ilmu pemngetahuan. Ibadah yang dijalankan tanpa pengetahuan tertolak (mardûdatun), salat yang kita jalankan tanpa didasari ilmu, hanya lelah, letih saja yang akan didapatkan.

BACA JUGA  Bupati dan Ketua YPH-PPD NW Pancor, Launching Wisata Religi, Makam Pahlawan Hamzanwadi.

Lebih jauh al-Habib Zain ibn Ibrahim ibn Smith dalam kitab al-Minhaj al-Sawi menjelaskan bahawa Allah akan memberikan dunia kepada orang yang disukai maupun mereka yang dibencinya, sedangkan ilmu hanya akan diberikan kepada mereka yang dicintai Allah.

Allahu A’lamu bi al-Shawab

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA