Sinar5news- Jakarta- Memajukan Indonesia mencerahkan semesta. Tema kongres Muhamadiyah yang ke-48 tahun ini, berlokasi di lapangan bola Surakarta. Dibuka resmi Presiden Jokowi, sangatlah membumi dan sudah dilakukan. Bukan hanya tulisan prasasti di atas awan, di atas kertas dan bukan pula hanya selegon.
Muhamadiyah berdiri tegak lurus sebagai khairul ummah menjalankan kongres yang bermartabat, kongres yang melestarikan ukhwah hasanah, kongres yang berperadaban, kongres suluh pradaban. Suatu pemandangan perserikatan permusyawwaratan yang penuh hikmah, penuh dengan nilai – nilai tradisi Pancasila, kongres yang melestarikan budaya Nusantara.
Dalam kongres yang sangat Pancasilais bersahaja penuh kekeluargaan. Muhamadiyah selalu mempertontonkan visi misi berkemajuan dengan suasana kongres yang hidmat, mengedepankan etika moral tinggi, untuk kemajuan bangsa, negara, ummat diletakkan diatas semua kepentingan yang lain.
Silaturahim dan kolaborasi antar semua kader di seluruh Nusantara. Muhamadiyah telah membawa misi pencerahan untuk semesta. Dengan telah munculnya lembaga dakwah dan pendidikan di berbagai negara di belahan dunia sebagai bukti kongkrit Muhamdiyah terdepan dalam membangun pradaban yang lebih berkeadilan.
Berbagai kebesaran dan torehan sejarah sudah sangat banyak dibangun Muhamdiyah. Berbagai bentuk prestasi nasional dan internasional sudah tidak terhitung. Kehadirannya sebagai perserikatan telah banyak menginpirasi ormas Islam di tanah Nusantara. Bahkan dunia, Indonesia tentu sangat berterimakasih atas jasanya menjaga mendidikan negri.
Harapan besar rakyat Indonesia terhadap perserikatan ormas Islam di tanah Nusantara ini khususnya Muhamdiyah sebagai lumbung cerdik pandai, cendikia insan Ulul Al-Bab. Penting kemudian turut serta menata Indonesia sehingga negara besar berpenduduk muslim terbesar dunia ini, dapat segera menghadirkan amanat UUD’45 Pancasila, mewujudkan janji leluhur sila kelima Pancasila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai wujud pelaksanaan dari amal makruf nahi mungkar selaku semboyan Muhamadiyah.
Ormas Islam harus ikut bertanggung jawab atas arah perjalanan kebangsaan mewujudkan pesan dan tujuan bernegara tujuan Indonesia dilahirkan, karena para tokoh ormas Islam adalah peletak dasar pondasi NKRI serta arah dan tujuan Indonesia merdeka. Muhamdiyah adalah Guru bangsa.
Mengingat ummat Indonesia adalah penduduk yang merupakan warga ormas Islam. Maka, ormas Islam bertanggung jawab atas jalannya roda pemerintahan yang bernapaskan Pancasila menuju Baldatun thoyyibatun warabbun Gafur. Adil makmur sentosa sejahtera lahir batin. Road map arah bernegara harus jelas dan mesti dibuat ormas selaku peletak dasar NKRI bukan diserahkan ke partai yang notabenenya adalah berorientasi politik kekuasaan.
Haluan negara harus dirumuskan, 77 tahun lebih negara Indonesia merdeka makna kemerdekaan belum sepenuhnya ummat bangsa nikmati. Karena masih begitu menganga ketimpangan dalam kehidupan berbangsa bernegara di negri serpihan surgawi di bumi ini. Ormas Islam harus mengawal ini sebagai tanggung jawab kebangsaan dan keummatan.
Kami meyakini terpilihnya Prof.KH.Haedar Naser, MSi dengan Sekum Prof.Dr.Abd.Mu‘thi, MEd. Beliau berdua dan semua tokoh formatur lainnya adalah guru bangsa akan dapat membawa Muhamdiyah menata ummat bangsa menuju NKRI bermartabat. Negri yang bersih, berbudaya, tegak lurus menyuarakan perbaikan amal makruf nahi mungkar. Clen government serta aparatur negara yang berorientasi melayani ummat.
Selamat bertugas mencerahkan semesta memajukan bangsa dan selamat hari guru untuk semua guru di tanah air. Jasa guru terukir di bumi dan di langit. Guru adalah pelita kehidupan menerangi arah jalan untuk bekal kehidupan dunia akherat. Bangsa besar bermartabat adalah yang menghormati dan menghargai jasa guru. (SM)





