Cerpen Ke-16: Sandal Subuh dan Hikmah Banjir Pagi
Ahad pagi, 18 Januari 2026, selepas salat Subuh. Seusai zikir, wirid, dan doa, saya melangkah keluar dari masjid dengan hati yang tenang. Namun ketenangan itu seketika terusik ketika pandangan saya tertuju pada sandal di teras masjid. Sepasang sandal yang biasa menemani, kini tinggal satu. Yang satunya tampak terseret air, hampir hanyut oleh banjir yang sejak dini hari mengalir deras. Dengan sigap saya menyelamatkannya. Sebuah peristiwa kecil, tetapi cukup menjadi isyarat bahwa pagi itu tidak biasa.
Benar saja, banjir hari itu tergolong cukup besar. Air meluap dan melanda beberapa wilayah di Bekasi, termasuk perumahan Villa Gading Harapan 2, Blok A, B, C, dan D. Warga bergegas keluar rumah. Ada yang menyalakan mesin mobil dengan wajah tegang, ada pula yang menuntun motor ke tempat lebih tinggi. Suasana berubah menjadi hiruk-pikuk yang penuh kewaspadaan. Beberapa kendaraan bahkan mulai mengungsi, mencari tempat aman sebelum air bertambah tinggi.
Saya dan istri pun bersiap. Pengalaman banjir besar tahun lalu masih membekas di ingatan. Kami merapikan rumah dengan langkah cepat namun teratur. Barang-barang berharga kami angkat dan letakkan di atas lemari: televisi, laptop, pakaian, dan keperluan penting lainnya. Di sela kesibukan itu, terselip doa-doa lirih agar air tidak kembali meninggi.
Kekhawatiran menyelimuti banyak warga. Sungai yang meluap seolah mengancam akan meluas ke seluruh kawasan perumahan. Namun Allah Maha Penyayang. Sekitar pukul 09.00, hujan mulai reda dan air perlahan surut. Sungai yang sebelumnya meluap kembali ke batasnya. Jalanan yang tergenang mulai menampakkan permukaannya. Satu per satu warga kembali ke rumah, menghela napas lega. Kendaraan yang sempat diparkir di pintu gerbang perumahan pun dikembalikan ke tempat masing-masing.
Peristiwa pagi itu menghadirkan sebuah hikmah. Alam dapat berubah kapan saja, di luar kuasa manusia. Karena itu, kehati-hatian harus selalu ditingkatkan. Namun lebih dari itu, doa dan tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak boleh terputus. Semoga banjir ini cukup menjadi teguran, tidak meluas dan tidak berlanjut. Sebab di balik rumah-rumah yang sempat terendam kekhawatiran, tersimpan harapan para warga untuk tetap melanjutkan aktivitas harian, bekerja, beribadah, dan menjalani hidup dengan tenang seperti sediakala.
Penulis: Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah (Jurnalis media SinarLIMA, guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta dan SMP Laboratorium Jakarta)


