Renungan Subuh :Sholawat Nabi Sunnah yang Kadang Terabaikan

Renungan Subuh :Sholawat Nabi Sunnah yang Kadang Terabaikan

Ada pertanyaan menarik dari seorang sahabat terkait dengan sholawat Nabi. Pertanyaan tersebut di chat ke saya kemarin, dimana dalam chat tersebut beliau memberikan sebuah link tulisan tentang sholawat. Sebenarnya masalah yang diangkat hal yang sederhana tetapi justru hal tersebut kadang kita dan jamaah melakukannya, yaitu saat kita mendengar nama Rasululah SAW disebut, jamaah langsung mengucapkan ; “sholluw ‘ala al-Nabi.”. Tidak salah dengan ungkapan tersebut, hanya sayangnya ungkapan tersebut kadang berhenti pada kalimat “shollu ‘ala al-Nabi” tanpa diteruskan dengan membaca sholawat. صلوا على النبي kalimat ini berbentuk perintah yang artinya” Mari bersholawat Nabi atau Hendaknya kalian bersholawat kepada Nabi”. Jadi bila kita mengucapkan kalimat tersebut, kita memerintahkan atau mengajak orang lain untuk membaca sholawat Nabi, dan sepatutnya setelah kita mengucapkan kalimat tersebut yang mendengar langsung membaca sholawat Nabi dengan kalimat “ Allahumma Sholli ‘ala Sayyyidna Muhammad’ atau dengan kalimat sholawat lainnya. Dan kitapun yang mengajak dan memerintahkan sepatutnya juga mengucapkan sholawat Nabi. Karena ketika kita memerintah atau mengajak untuk bersholawat, kita belum bersholawat, tapi baru mengajak atau memerintahkan.

Oke ya….kita lanjutkan bahasan kapan kita disunnahkan untuk bersholawat. Renungan subuh kemarin sudah sampai nomor ke lima.
6. Ketika kita menulis nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasaallam. ( hal 91)
Hadits diriwayatkan oleh al-Thabrani dari Abu Hurairah RA, belia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasaallam bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku di dalam sebuah tulisan ( buku) maka para malaikat memintakan ampun untuknya selama namaku masih ada di dalam tulisan (buku ) tersebut.”

Hal yang demikian sebagaimana dijelaskan dalam kitab *al-Sholatu ‘ala al-Nabi…* dilakukan oleh para ulama seperti Imam Ahmad bin hambal, al-Syaikh Abu al-Hasan bin Uyainah, Imam Muhammad bin Abi Sulaiman, Imam Sufyan bin Uyainah, Imam Syafii dan lain-lain yang akhirnya mereka memperoleh keutamaan (hal 91-99). Dalam membaca sholawat Nabi ini hendaknya kita tidak menyingkaatnya, al-Imam aln-Nawawi dalam Syarah Muslim-nya menegaskan: ‘ Sungguh para ulama menguraikan tentang kemakruhan menyingkat sholawat Nabi Shollallahu ‘alaihi wassalam dengan tanpa menyebut al-taslim (maksudnya: wasallam).”( hal 100).

BACA JUGA  Keutamaan Muharram Oleh: Harapandi Dahri

7. Ketika kita membuka atau memulai setiap ucapan yang yang mengandung kebaikan disamping juga disunahkan membukanya/memulainya dengan hamdalah dan pujian kepada Allah.

Sebuah riwayat dari Ibnu Mandah menyatakan:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بذكر الله ثم بالصلاة عليّ فهو أقطع أكتع ممحوق البركة

BACA JUGA  Tafsir jalalain juz 30 (surat an-naba')

“Setiap sesuatu yang memilik kebaikan tidak diawali dengan dzikir kepada Allah dan shalawat kepadaku maka perkara itu terputus dan terhapus keberkahannya.”

8. Disunnahkan ketika memulai pemberian nasihat, peringatan dan menyebarkan/mengajarkan ilmu terutama saat membaca hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam (hal. 102).

9. Disunahkan membaca shalawat di waktu pagi dan sore hari (hal 105).
Sebuah riwayat dari Abu Darda bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

من صلى علي حين يصبح عشرا وحين يمسي عشرا أدركته شفاعتي يوم القيامة

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali maka syafaatku akan menghampirinya pada hari kiamat.”

10. Disunnhkan ketika kita hendak tidur (hal 105).

Abu Qirshafah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang menuju tempat tidurnya (hendak tidur) kemudian ia membaca surat Tabâraka (Al-Mulk) kemudian ia membaca sebanyak empat kali:

اللَّهُمَّ رَبَّ الْحِلِّ وَالْحَرَامِ، وَرَبَّ الْبَلَدِ الْحَرَامِ وَرَبَّ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، وَرَبَّ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ، وَبِحَقِّ كُلِّ آيَةٍ أَنْزَلْتَهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، بَلِّغْ رُوحَ مُحَمَّدٍ مِنِّي تَحِيَّةً وَسَلَامًا

Maka Allah akan mewakilkan kepada dua malaikat hingga keduanya datang kepada Nabi Muhammad dan mengatakan kepada beliau perihal yang dilakukan orang tersebut. Maka kemudian Rasulullah menjawab, “untuk Fulan bin Fulan salam dariku dan rahmat serta keberkahan Allah.” (pada catatan kaki pada kitab al-Sholatu ‘ala al-Nabi dikutip perkataan al-hafizh al-Sakhowiy: ini diriwayatkan oleh Abu al-Syaikh..)

BACA JUGA  Renungan Subuh (Edisi 16) Teman yang Mengingatkan

10. Disunahkan membaca shalawat Nabi bagi orang yang baru saja bangun dari tidur malamnya.

Imam al-Nasai dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasannya Allah SWT tertawa dan ridho kepada dua orang yang salah satunya adalah ( hal 106-107):

….وَرَجُلٍ قَامَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ لَا يَعْلَمُ بِهِ أَحَدٌ، فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ حَمِدَ اللهَ وَمَجَّدَهُ، وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتَفْتَحَ الْقُرْآنَ، فَذَلِكَ الَّذِي يَضْحَكُ اللهُ إِلَيْهِ يَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي قَائِمًا لَا يَرَاهُ أَحَدٌ غَيْرِي

“….Orang yang bangun di tengah malam di mana tak ada seorang pun yang mengetahuinya, lalu ia berwudlu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam lalu membuka Al-Qur’an (dan membacanya). Yang demikian itu Allah ‘tertawa’ kepadanya seraya berfirman, “Lihatlah hamba-Ku ia berdiri shalat, tak ada seorang pun yang melihatnya selain Aku”.

Cukup dulu ya… khawatir kepanjangan.. kita lanjutkan in syaa Allah besok. Mudah-muudahan tidak telat seperti renungan subuh kali ini…. Al’afwu.

BACA JUGA  Hikmah Pagi :Amarah Sang Istri Reda Karena Istighfar

Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Subuh ke 67, 25082020)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA