Renungan Shubuh

banner post atas

 

Kemarin kita membahas tentang ‘ujub dan kali ini kita akan bahas masalah riya yang merupakan indikator kedua dari hati yang sedang turun ( Khofdh al-Qolbi) menurut imam al-Ghazali.
Kalau kita buka kamus *Lisan al-‘Arab*, kata riya mengandung arti menunjukan suatu perbuatan secara berlebihan demi mendapatkan ketenaran. Sementara Imam al-Ghazali dalam kitab *Ihya ‘Ulumiddin*-nya mendefinisikan sebagai amal yang dilakukan dengan tujuan disaksikan orang lain agar mendapatkan kedudukan dan pepularitas. Secara sederhana dapat digambaarkan, riya itu terjadi ketika kita melakukan suatu perbuatan bukan karena mengharap ridha Allah, tetapi karena ingin dilihat orang lain agar mendapatkan pujian, sanjungan, atau popularitas.

Lawan dari riya adalah ikhlas. Ketika kita beribadah semata karena Allah bukan karena faktor lain di luar Allah SWT, itulah yang namanya ikhlas. Terkait dengan ikhlas ini ada penjelasan menarik dari imam an-Nawawi al-Bantani dalam kitab *Nashoih al-‘Ibad* dimana beliau membagi ikhlas dalam tiga tingkatan yang semuanya masih masuk dalam kategori ikhlas:

Iklan

1.فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

“Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya kecuali (hanya) melaksanakan perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”

Ini tingkatan ikhlas yang tertinggi dimana seorang hamba melakukan amal ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Tak terpikir sama sekali pada dirinya tentang balasan atas amal ibadahnya itu. Bahkan ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Yang Ia harapkan hanya ridho Allah SWT.

Tingkatan ikhlas yang kedua:

2. والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها

“Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”

Pada tingkatan kedua ini seorang hamba melakukan amal ibadahnya karena Allah namun di balik itu ia masih memiliki keinginan agar dengan amal ibadahnya tersebut ketika di akherat nanti, ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT dengan memperoleh kenikmatan surga yang Allah janjikan dan terhindar dari azab api neraka.

BACA JUGA  Pantun Renungan Buah Amal di Dunia

Muncul pertanyaan, memang tidak boleh beramal ibadah dengan motivasi seperti ini dan apakah itu tidak termasuk ikhlas ? Beramal ibadah dengan motivasi seperti tersebut di atas masih termasuk ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang benar-benar ikhlas, sebagaimana yang digambarkan oleh Prof Dr. KH. Quraish Shihab, dimana ikhlas itu bagaikan air bening yang berada dalam gelas yang tidak terkotori sedikitpun, jadi murni dan jernih semata karena Allah. Tapi keihlasan tingkat kedua ini masih diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah juga sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan diberikan harapan mendapatkan pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat nanti.

Adapun tingkatan yang ketiga:

3. والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات

“Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”

Inilah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana dalam melakukan amal ibadah seseorang melakukannya karena Allah namun ia berharap dengan amal ibadahnya tersebut akan mendapatkan imbalan yang bersifat duniawi. Misalnya beribadah melakukan sholat malam/tahajjud karena berharap memperoleh kemuliaan di dunia, melakukan sholat dhuha dengan harapan diluaskan rizkinya dan lain sebagainya.
Beribadah dengan kondisi seperti tingkatan ketiga ini masih dikategorikan ikhlas dan syah saja, karena memang ajaran agama juga memberikan tawaran hal tersebut untuk memotivasi umatnya, namun yang perlu difahami ialah bahwa beribadah dengan motivasi seperti tersebut di atas tingkatan keikhlasannya paling rendah.

Yang tidak boleh adalah ketika kita beramal ibadah dengan niat dan motivasi selain tiga hal tersebut di atas, yang dikategorikan oleh imam an-Nawawi sebagai riya.

وما عدا ذلك رياء مذموم

Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”

Adapun Ciri orang yang pada dirinya ada riya, mengutip ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagaimana teradapat dalama kittab Majmu’ah Tsaman Rosail Syafiiyah Mufiydah yang dikarang oleh asy-Syaikh ‘Alwi bin Ahmad ats-Tsaqqaf, adalah:

BACA JUGA  Hikmah Pagi :Abu Bakar As Shiddiq dan Bekas Tukang Ramal

وقال سيدنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه : لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ : يَكْسَـلُ إذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إذَا ذُمَّ

“Berkata Sayyidina ‘Ali RA: Orang riya’memiliki tiga ciri: malas ketika sendirian, rajin saat di tengah banyak orang, serta amalnya meningkat kala dipuji dan menurun kala dicaci.”

Agar terhindar dari penyakit riya, berikut tips yang hendaknya kita lakukan antara lain:
1. Melawan getaran hati yang mengajak untuk riya. Di sini kita berusaha semaksimal mungkin melawan bisikan dan ajakan setan yang memang ingin agar amal ibadah kita tidak bernilai. Untuk itulah kita harus merawat niat keikhlasan. Bila sudah mulai ada godaan, kembalikan niat kita memang hanya untuk Allah.

2. perbanyak doa dan minta perlindungan kepada Allah. Karena niat itu terletk di hati dan hati itu milik Allah maka kita kembalikan kepada-Nya dengan berdoa agar terhindar dari riya yang merupakan syirik khofiy, syirik yang tersembunyi. Adapun doanya sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhori adalah sebagai berikut:

أَيهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ الله أَنْ يَقُولَ: وَكَيفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخفَى مِنْ دَبِيب النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللهِ؟! قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنا نَعُوذُ بِكَ مِن أَنْ نُشرِكَ بِكَ شَيئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا نَعْلَمُ
“Wahai manusia, takutlah kalian pada syirik ini karena ia lebih samar dari pergerakan semut. Kemudian ada seorang bertanya, ‘Bagaimana cara kami terhindar darinya sementara ia lebih samar dari pergerakan semut, wahai Rasulullah?. Nabi Saw menjawab, ‘Ucapkanlah; ‘Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astagfiruka lima la a’lamu.’( ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu di saat aku mengetahui dan aku memohon ampun kepada-MU dari sesuatu yang aku tidak ketahui).”
Wallahu a’lam.

Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah, agar tidak terlalu panjang renungannya.

Semoga bermanfaat.

*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh ketigabelas, 100062020)