Renungan Seorang Musafir :Ukuran Dirimu

Renungan
Renungan
banner post atas

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

Artinya:”Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya Al-Hujurat:13)

Bukanlah karena harta engkau dipandang, tidaklah sebab jabatan dirimu dimuliakan Islam, iman dan ihsanmu menjadi rujukan Ilmu dan amal salehmu akan menentukan Dirimu dimata Tuhan yang Maha Rahman.
Al-Syaikh Tajuddin ibn ̳Athaillah al-sakandari memberikan penjelasan bahwa manusia yang ingin mengetahui kedekatannya dengan Tuhan dapat dilihat bagaimana ia menjalankan salatnya.

Iklan

Jika salat dijalankan dengan mengikut rasulullah, syarat, rukun dan juga sunnatnya di datangkan, maka ia akan menjadi dekat dengan Tuhannya, namun jika sebaliknya, salat dijalankannya hanya untuk terbebas daripada kewajiban, maka seperti itulah rupa diri kita dihadapan Tuhan.

Sesungguhnya ruku’ dan sujud yang engkau lakukan tiada bermakna disisi Allah jika hanya gerakan, bacaan tanpa bermaksud dan hadir hati saat melakukannya. Al-Ta’dzim lillahi Rabbul Baraya adalah hakikat dari gerakan yang dijalankan.

Mereka yang akan terselamatkan dan berjaya dalam membina kehidupannya ialah mereka yang khusyu‘ dan senantiasa memelihara salatnya, dimana pun ia berada saat susah, senang, kaya-miskin, pemimpin atau rakyat jelata, salat tetap dijalankan. Dan orang-orang yang berada dalam kebahagiaan adalah mereka yang senantiasa berada dalam ―rasa‘ salat ketika selesai menjalankannya.

BACA JUGA  Prof Agustitin: WALAUPUN VIRUS CORONA MASIH BELUM USAI DI SAAT IDUL FITRI, AKAN TETAPI TETAPLAH BERSILATURAHMI

Rasa salat ialah tetap hati dalam mengingat Allah seperti kita sedang berada dalam salat, memelihara gerakan, pandangan, pendengaran, ucapan dan hati agar selalu istiqamah dalam kebajikan. Salam yang diucapkan dibarengi dengan melihat ke kanan dan ke kiri memiliki makna simbolik yakni hendaklah nilai-nilai salat dijalankan untuk menebar kasih-sayang kepada orang lain.

Salam berarti kesejahteraan dan keselamatan bagi kita mahupun untuk orang lain.
Di dalam sembahyang seperti dijelaskan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang ditulis dalam kitab Munyah al-Mushalli oleh al-Syaikh Daud ibn ̳Abdullah Fathani memiliki rupa zohir dan rupa batin. Rupa zohir dapat dilihat dari syarat yang diibaratkan bagaikan ruh, rukun-rukun salat bagaikan kepala, sunnat ab‘ad seperti anggota badan dan sunnat hai‘at bagaikan perhiasan.

Kesempurnaan manusia terletak pada kewujudan seluruh komponen yang ada seperti adanya ruh yang menggerakkan, ada kepala yang berpikir, anggota badan yang lengkap merupakan kebanggaan dan kesempurnaan wujud seseorang dan hiasan-hiasan zohir seperti pakaian dan hiasan batin seperti akhlak dapat menjadi penentu kualitas manusia disisi Tuhan dan juga manusia lainnya.

Sedangkan hakikat batin yang dimaksudkan Imam al-Ghazali ialah kehadiran hati sejak takbiratul ihram hingga salam. Tanpa kehadirannya, salat yang kita jalankan, disisi Allah terlihat kurang, walaupun secara zahir telah dijalankan.

Salat yang baik dan lengkap ialah salat yang dijalankan bersesuaian dengan tuntunan Allah dan RasulNya. Rasul bersabda yang maksudnya: Lima sembahyang dipardhukan kepada hambaNya, sesiapa yang mendatangkannya dengan sempurna dan tiada dikurangkan haknya, maka Allah akan memberikan janji- janjiNya dan sesiapa yang menjalankan salat dengan mengurangkan hak-haknya, maka tiada janji Allah untuknya.

Salat juga akan terlihat manifestasinya dalam cara berinteraksi dalam dunia sosial, orang salat mestinya semakin dekat dengan makhluk Allah yang lain, semakin sayang kepada fakir-miskin, keperdulian akan saudaranya yang memerlukan bantuan. Salat mestinya mampu mewujudkan kedamian sikap dan sifat bagi setiap orang, tiada pilih kasih antara miskin dan kaya, cantik ataupun biasa.

BACA JUGA  BASUHAN KAKI MAULANA SYAIKH UTK PONPES NW JAKARTA