Renungan Seorang Musafir :Pemurah & kehormatan

Renungan
Renungan
banner post atas

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Oleh itu bertaqwalah kamu kepada Allah sedaya supaya kamu; dan dengarlah (akan pengajaran-pengajaranNya) serta taatlah (akan perintah-perintahNya); dan belanjakanlah harta kamu (serta buatlah) kebajikan untuk diri kamu. Dan (ingatlah), sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya. (al-Thaghabun:16)

Mudah memberi bukan berarti harus kaya, mudah memberi adalah kekuatan iman dan keyakinan, sesiapa yang memberi, maka ia akan diberi, sesiapa yang menahan pemberiaan maka ia akan dipersulit.

Iklan

Menjadi pemurah dalam berbagi merupakan ciri orang beriman dan sebaliknya susah berbagi adalah tanda-tanda kemunafikan, munafik karena ia lupa bahwa apa-apa yang dimiliki adalah anugerah Allah dan sebagian anugerah itu adalah amanah yang terdapat di dalamnya hak-hak fakir miskin.

Jika kalian mensyukuri segala anugerahKu, maka Aku akan berikan (tambahan) nikmat, namun jika kalian kufur (ingkar), maka ketahuilah bahwa azabKu amatlah pedih.
Bersyukur terhadap nikmat Allah melalui hati dengan keyakinan yang teramat dalam bahwa Dialah Allah yang memberi, karena itu keyakinan diwujudkan dengan ucapan syukur melalui lisan (al-Hamdulillah), lalu wujud syukur yang terakhir ialah rela berbagi terhadap nikmat yang diperoleh “adapun dengan nikmat-nikmatKu, sebarkan (berbagi) lah”.

Kerelaan berbagi akan menjadikan kita mulia dan mendapatkan keutamaan dibandingkan dengan mereka yang susah berbagi, keutamaan yang diperoleh di atas dunia seperti orang lain akan membantu kita saat dalam kesusahan dan keutamaan pula didapatkan di nakhirat kelak dengan dimasukkan Allah pada kumpulan orang-orang pemurah.

Orang yang pemurah pasti memiliki tawakal yang kuat, zuhud yang mantap, serta keyakinan yang kokoh. Karena itulah sesungguhnya sifat karam terkait dengan iman, secara lahir adalah tangan yang mulia dan pendorongnya adalah jiwa yang pemurah. Rasulullah menggambarkan seorang mukmin dengan sabdanya: “Seorang mukmin adalah orang yang mulia lagi pemurah dan orang fasik adalah penipu yang tercela.”

BACA JUGA  MAHADESA, Semburat Cahaya di Ujung Terowongan