RELASI GURU & MURID KUNCI KEBERKAHAN ILMU

RELASI GURU & MURID KUNCI KEBERKAHAN ILMU

Oleh : Harapandi Dahri

Al-Barakah merupakan satu kata yang dapat mencerminkan eksistensi seseorang dalam menjalankan kehidupan. Buat apa banyak harta kalau tidak berkat, untuk apa banyak ilmu jika tidak memberikan manfaat. Kalimat-kalimat semacam ini sering kita dengar khasnya bagi mereka yang terlahir dari Rahim Pondok Pesantren.
Keberkahan sebuah ilmu akan terlihat dari tutur bahasa dan sikap dalam pergaulan, cara merespon situasi dan kondisi dalam interaksi sosial, keberkatan juga akan tampak saat mendengar panggilan-panggilan Tuhan melalui suara mahupun gerak sikap makhlukNya.

Para imam terdahulu telah membangun suasana yang dapat memberikan nilai-nilai (value) keberkatan. Antara lain dengan membangun relasi (hubungan) baik antara guru dan murid. Imam al-Syafi’i sangat konsen terhadap hubungan baik dengan guru beliau iaitu Imam Malik (Malik bin Anas) penulis kitab al-Muwattho’ dan pengasas mazhab Maliki.

Dalam keseharian Imam al-Syafi’i selalu menjaga sikap di depan gurunya bahkan beliau sangat berhati-hati agar tidak mengganggu kekhusyu’an dalam pengajaran yang dijalaninya bersama sang guru. Demikian juga hubungan baik Imam Hambali iaitu pengasas Mazhab Hambali yang Bernama Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani dengan gurunya iaitu Imam al-Syafi’i.

Relasi guru dan Murid juga terpelihara dengan baik pada generasi lebih modern yang ditunjukkan oleh Ulama’-ulama’ Nusantara seperti Al-Shaikh Muhammad Zaein bin al-Shaikh Faqih Jalaluddin dengan al-Shaikh Daud ibn ‘Abdullah al-Fatani, demikian juga dengan al-Shaikh al-Banjari, al-Shaikh Nawawi al-Bantani.

Hubungan-hubungan baik yang ditampilkan para Shaikh-shaikh terdahulu telah dapat dirasakan keberkatan ilmu yang mereka share kepada generasi penerus masa kini sehingga kita dapat menikmati pelbagai bidang keilmuan yang telah mereka ajarkan.

Antara syarat-syarat mendapatkan keberkatan ilmu sepertimana dijelaskan oleh Imam al-Shafi’i dalam kitab ta’lim al-Muta’allim mahupun kitab al-Fawaid al-Mukhatarah li Salik Thariq al-‘Akhirah oleh Habib Zain ibn Ibrahim bin Smith pada bab al-Ilmu. Bagi seorang murid yang ingin mendapatkan keberkatan ilmu, maka hendaklah ia menjaga perasaan gurunya, ia tidak berprasangka tidak baik kepada gurunya saat ia melihat perkara-perkara yang belum difahaminya.

Wallahu’ A’lamu bi al-Shawab

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA