Refleksi Tentang Apa Yang Kita Tuju Dalam Mencari Ilmu

banner post atas

Suatu sore di sebuah pematang sawah, ada seorang bocah santri sedang menggigit lidahnya sekuat tenaga, dengan air mata yang yang menetes pada sebuah nadzom (red.kumpulan syair ilmu) yang ia pegang, ia lalu menundukan mukanya dan menangis, ia tak bisa membaca dan menghafal nadzom tersebut, 

dan kesal kepada dirinya sendiri kenapa dan berpikir kenapa ia begitu bodoh,dilihatnya pemandangan sawah, dengan mata yang lebam dan merah, ia memandang pada hatinya,merenung dan berjalan pulang ke asrama dengan persiapan untuk kakinya akan segera disabet. 

 

Iklan

Itu adalah penggalan cerita dari pengalaman saya ketika mondok di pondok pesantren, saat saya masih kelas dua SMP. 

 

Arti Sebuah Niat Dalam Menuntut Ilmu

 

Mengingat tentang pondok pesantren,saya teringat tentang apa itu “arti sebuah niat” dalam menuntut ilmu, ustad saya pernah bilang, 

 

“Kalau kamu niat mondok untuk mencari teman, itu yang kamu dapat, kalau kamu niat mondok untuk mencari pengalaman, itu juga yang kamu dapat, namun apabila kamu niat mondok itu murni untuk mencari ilmu, kamu dapat banyak hal termasuk dua yang di sebutkan tadi”.

 

Kata-kata tersebut dapat di aplikasikan bukan hanya dalam ruang lingkup mondok saja, dalam artian ketika kita mencari ilmu di sekolah,organisasi atau di manapun,lebih baik diniatkan pada tujuannya yaitu mencari ilmu, karena dengan ilmu kita bisa mendapatkan banyak hal, adapun teman, pengalaman dan hal-hal lainnya itu sebagai efek dari apa yang kita lakukan dalam menuntut ilmu, dengan tidak mengesampingkan pentingnya bersosialisasi dan mencari pengalaman.

 

Tujuan Mencari Ilmu

 

Lalu, kenapa kita harus mencari ilmu?, kenapa kita harus mondok dan bersekolah?.

 

BACA JUGA  Prof DR Harapandi:  MENGAJI

Setelah meluruskan niat dalam menuntut ilmu, ada tujuan yang harus dituju dalam menuntut ilmu yaitu mencari ridho Allah SWT dan kebarokahan.

 

Kenapa harus untuk menggapai ridho Allah SWT?

 

Dalam hidup, banyak jalan yang bisa kita pilih, banyak tujuan hidup yang bisa kita pilih untuk keberlangsungan diri kita, namun baik buruknya tujuan tersebut, itu yang akan berdampak pada diri kita di kedepannya. Namun, bagi seorang muslim, sebaik-baiknya tujuan di dunia ini adalah untuk mendapatkan ridho-Nya. Dengan kita bertujuan untuk itu, kita seimbang dalam hal dunia dan akherat, jadi semua yang kita lakukan di dunia ini bertujuan untuk di akherat kelak, dengan begitu, kita akan senantiasa melakukan hal-hal positif dan membawa pengaruh positif pada semua orang.

 

Lalu apa itu kebarokahan?

 

Mungkin ada yang berpikir, “kenapa penulis tidak mencantumkan dalam tujuan menuntut ilmu yaitu untuk menghilangkan kebodohan?”. Nah saya jawab, karena itu termasuk dalam hal kebarokahan.

 

Barokah adalah Ziyadatul khair atau kalau di artikan dalam bahasa indonesia yaitu bertambahnya kebaikan. bisa kita ambil dari potongan cerita di awal tadi, ketika santri atau pelajar berpikir bahwa kenapa dirinya terlalu bodoh, dan ia merenungkannya dan berusaha agar terlepas dari jerat kebodohan tersebut, kelak apa yang dia usahakan pasti ia dapatkan.

Itulah inti dari barokah yaitu bertambahnya kebaikan, ketika menuntut ilmu banyak kebaikan yang akan kita dapatkan, yang tadinya bodoh menjadi berilmu, tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya tak berpengalaman menjadi berpengalaman,dan banyak kebaikan-kebaikan yang akan kita dapatkan dalam hidup dengan menuntut ilmu.

Para penuntut ilmu dengan tujuan jelas dan matang juga akan semakin dekat dengan apa yang ia tuju. Ibarat seorang yang sudah hafal jalan tempat yang dia tuju pasti akan lebih cepat dan sudah pasti sampai pada tempat tujuannya di bandingkan seorang yang belum hafal jalan tempat tujuannya.

Jadi kita lebih baik menentukan dahulu apa tempat yang akan kita tuju, dan bagaimana cara ke tempat tersebut dan berjalanlah ke tempat tersebut.

Saya tutup artikel kali ini dengan Hadits nabi SAW

Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim, no. 2699)

(Manap Pasha)

BACA JUGA  Seorang Anak Bertengkar dengan Ibunya dan Meninggalkan Rumah