TGB mengatakan, memperluas makna Milkul Yamin selain budak rampasan perang adalah kecerobohan sekaligus kebodohan. Persis seperti kecerobohan dan kebodohan Syahrur dalam menafsirkan banyak kosa kata dan istilah dalam Alquran.
Di mana tesis utama Syahrur, Alquran turun sebagai pedoman untuk semua manusia dan sepanjang masa. Karena itu, harus bisa disesuaikan dengan cara hidup apa pun dan di mana pun. Alquran harus sesuai, disesuaikan dan dipaksa sesuai.
“Dalam kasus ini, karena seks di luar nikah adalah jamak di banyak tempat maka Alquran harus menyesuaikan. Dengan ilmu cocokologi alias gothak gathuk, ketemulah Milkul Yamin,” ujarnya.
Khulasatul kalam, kata dia, membaca konsep Syahrur berujung pada ungkapan yang sering dikutip Imam Alusi dalam tafsirnya; “suara alu bertalu-talu, namun tak ada tepungnya. Wallohu a’lam.” (s5n)



