Memperkokoh Landasan Pendidikan: Monitoring Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) dan Arah Pembelajaran Mendalam di SMP NW Jakarta

Memperkokoh Landasan Pendidikan: Monitoring Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) dan Arah Pembelajaran Mendalam di SMP NW Jakarta

Memperkokoh Landasan Pendidikan: Monitoring Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) dan Arah Pembelajaran Mendalam di SMP NW Jakarta

JAKARTA, SinarLIMA — Di sela-sela agenda pembinaan dan monitoring pendidik di lingkungan sekolah, kru media SinarLIMA berkesempatan mewawancarai Pengawas SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, Dr. H. Muhammad Dimyati, M.M. Wawancara berlangsung hangat di Ruang Kepala SMP Nahdlatul Wathan Jakarta pada pukul 11.20 WIB.

Berikut adalah petikan wawancara selengkapnya:

SinarLIMA: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, keberadaan Bapak di sini dalam rangka apa, ya, kira-kira? Mohon dijelaskan.

Dr. H. Muhammad Dimyati, M.M.: “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini saya melaksanakan monitoring ke SMP Nahdlatul Wathan dalam rangka khusus menelaah KSP (Kurikulum Satuan Pendidikan). Kurikulum sekolah ini akan saya telaah untuk melihat bagaimana arah dan mekanismenya ke depan.”

SinarLIMA: Langkah atau proses seperti apa yang Bapak lakukan dalam menelaah KSP tersebut?

Dr. H. Muhammad Dimyati, M.M.: “Dengan KSP yang ada, kita mencoba menelaahnya menggunakan instrumen yang sudah saya buat. Saya tinggal meminta dokumen KSP ini dibaca dan disesuaikan dengan instrumen penelaahan tersebut. Dari situ, hanya dalam waktu sekitar 5 menit, hasil telaahnya langsung muncul.

Melalui proses ini, kita dapat mengetahui ‘raport’ atau gambaran KSP kita hari ini. Memang belum sempurna, tetapi nantinya akan terus disempurnakan agar hasil telaah dan implementasinya benar-benar sesuai dengan harapan kita bersama.”

SinarLIMA: Lantas, bagaimana keterkaitan antara penyempurnaan KSP ini dengan proses pembelajaran guru di kelas?

Dr. H. Muhammad Dimyati, M.M.: “Pertama-tama tentu berdampak pada guru-guru kita. Jika dasar kurikulumnya sudah sempurna, artinya landasan utama sekolah ini sudah sangat kokoh.

Setelah landasan KSP tersebut direvisi dan disempurnakan, langkah selanjutnya adalah pembelajaran oleh para guru. Para guru tinggal menyusun modul ajar berdasarkan landasan KSP yang telah disepakati. Modul ajar ini menjadi bekal utama sebelum masuk ke kelas, karena di dalamnya memuat mekanisme pembelajaran, alur prosesnya, hingga penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) pada setiap topik mata pelajaran.”

SinarLIMA: Apa imbauan khusus Bapak kepada para guru terkait penggunaan modul ajar ini dalam aktivitas mengajar sehari-hari?

Dr. H. Muhammad Dimyati, M.M.: “Dengan modul ajar yang sudah dibuat, guru tinggal mengikutinya secara konsisten. Saya sangat menganjurkan, sebelum mengajar, guru wajib membaca dan mempelajari modul ajarnya terlebih dahulu—bila perlu 2 hingga 3 kali. Dengan begitu, saat mengajar di kelas, guru sudah benar-benar tertuntun oleh perencanaan yang matang.

Selain itu, KSP ini disesuaikan dengan karakteristik dan kekhasan sekolah kita. Kita tidak bisa menyamakan begitu saja dengan sekolah lain karena kita memiliki ciri khas tersendiri. Mengenai 8 dimensi atau standar yang diminta dalam kurikulum, sekolah tidak harus memaksakan semuanya sekaligus, melainkan memilih mana yang menjadi prioritas terlebih dahulu.

Ketika diterjemahkan ke dalam modul ajar, guru bisa lebih spesifik. Misalnya, pada satu materi pembelajaran difokuskan pada dua dimensi terlebih dahulu, lalu materi berikutnya berkembang ke dimensi lain. Pada akhirnya, secara bertahap seluruh dimensi dapat tercapai dan tujuan kurikulum sekolah dapat terwujud.”

SinarLIMA: Sebagai penutup, apa pesan atau dorongan motivasi dari Bapak agar para guru semakin bersemangat memberikan yang terbaik?

Dr. H. Muhammad Dimyati, M.M.: “Pesan saya, jangan jadikan administrasi sebagai beban. Saat ini penyusunan administrasi guru sudah sangat dipermudah dengan bantuan berbagai aplikasi modern.

Kepala SMP Nahdlatul Wathan Jakarta H. M. Sabini, S Ag dengan serius mengikuti arahan dan kebijakan dari pengawas seputar KSP

Setelah administrasi dan modul ajar selesai dibuat dengan mudah, tugas guru berikutnya adalah membacanya minimal dua kali sebelum mengajar. Jika kebiasaan ini konsisten dijalankan—katakanlah selama satu tahun—Bapak dan Ibu guru akan sangat hafal, merasa tenang, serta mahir menguasai materi maupun metode pengajarannya.

Baru pada tahun berikutnya, ketika pemahaman dan pembiasaannya sudah matang, para guru dapat terus berinovasi mengembangkan bahan ajar mandiri yang lebih kaya.”

Redaksi SinarLIMA: Marolah Abu Akrom 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA