Kita masih berada dalam ruang dan waktu sya’ban. Dalam beberapa hari kedepan, bulan sya’ban akan berganti menjadi bulan suci Ramadhan.
Waktu terus berjalan tanpa henti, banyak waktu yang telah pergi meninggalkan kita semua. Sya’ban sudah sering kita temui di masa lalu, begitu juga dengan bulan yang akan datang, Ramadhan dalam perjalanan dan telah mendekati tempat kita semua.
Sya’ban adalah kesempatan, kesempatan untuk menjadi lebih baik dalam intraksi hubungan manusia dengan tuhannya. Tuhan di bulan ini menurunkan rahmat, kasih sayang kepada hambanya. Hamba yang mengambil mamfaat bulan ini, akan mendapatkan ampunan atas semua dosanya yang ia telah lakukan. Begitulah dalam beberapa keterangan soal keistimewaan bulan ini.
Soal kesempatan dalam Islam begitu banyak. Ini disebabkan karna ummat Nabi Muhhamad memiliki banyak keistimewaan dibanding dengan ummat Nabi yang lain. Menurut keterangan, hikmah umur pendek dari ummat Nabi Muhammad adalah diperbanyaknya keistimewaan dari kesempatan yang diberikan tuhan kepada Ummat Nabi Muhammad. Keistimewaan inilah yang mampu mengimbangi takaran beratnya umur panjang ummat Nabi yang lain.
Namun kesan umumnya adalah banyaknya dari kita tidak mengambil mamfaat dari keistimewaan bulan ini. Hal ini semakin menguatkan thesisnya Muhammad Abduh soal jarak ummat islam dan khazanahnya. Entah apa yang terjadi dengan kita. Apakah kita tidak memiliki giroh terhadap tuhan? Giroh kita kemana? Satu minggu kedepan, kita akan kedatangan bulan Ramadhan, bulan penuh kesempatam, banyak keistimewaan, didalamnya kita akan dilatih selama satu bulan full menjadi manusia yang baik.
Agama telah menjadi semacam rutinitas yang tidak kita jiwai. Ia telah menjadi ritual yang hanya dilaksanakan untuk menghilangkan kewajiban. Kita seperti kehilangan makna dari semua ibadah mahdoh yang diperuntukkan untuk kita. Ibadah menjadi sesuatu yang sederhana dan tidak memiliki makna sama sekali. Ibadah di tinggalkan karna kita merasa ia tidak memberikan mamfaat dalam kehidupan kita yang sulit.
Kita seperti sudah kehilangan rasa percaya terhadap tuhan dengan segala yang ia firmankan semisal siapa yang bertakwa, pasti kami berikan kemudahan. Firmannya seakan sebuah tulisan yang biasa-biasa saja. Kita seakan hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh akal kita. Kita seperti hidup hanya dengan petunjuk akal kita saja. Kita seperti tidak memiliki perbedaan dengan mereka yang tidak percaya terhadap tuhan.
Islam adalah agama yang menyampaikan soal kevalidan informasi dari tuhan dan akal. Setiap muslim memiliki dua pedoman paling dasar dalam menjalani hidupnya, informasi dari tuhan dan akalnya sendiri. Hal inilah yang menjadi pembeda dengan yang di luar islam.
Kita perlu kembali mempertanyakan keislaman kita sendiri, kita harus mulai dari awal kenapa kita beragama Islam, kenapa kita memilih islam sebagai pilihan agama, sebagai aturan dalam kehidupan kita, sebagai pedoman kehidupan kita. Kita perlu mengkritisi kembali kenapa intraksi kita kepada tuhan menjadi suatu intraksi yang sangat biasa.
Dalam satu sisi, islam menantang pemeluknya untuk menguji masing-masing pribadi sebelum memilih Islam sebagai agama. Islam menantang pemeluknya apakah ia tidak sesuai dengan akalnya, apakah ajarannya adalah ajaran yang tidak manusiawi, apakakah Islam adalah agama yang memang tidak pas untuk kita semua. Iman adalah soal rasa kata Harun Yahya, ia eksis pasca proses menguji. Ramadahan berada di belakang gerbang menguji kembali, mengkritisi kembali soal keislaman kita. Jika kita tidak kunjung membaik, maka Ramadhan sudah berlalu.



