Proh H Agustitin: ALLAH MENJANJIKAN KEPADA ORANG YANG BERADA DENGAN PENUH KESABARAN PAHALA, SETIAP SATUKEBAIKAN SEPULUH KALI LIPAT DAN SETIAP SEPULUH KEBAIKAN TUJUH RATUS KALI LIPAT

banner post atas

 

“Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”
(H.r. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah, Malik, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i).
Makna dari hadist tersebut, bahwa kebaikan berpuasa di banding dengan ibadah-ibadah yang lain adalah bahwa seluruh amal adalah untuk-Allah Swt dan Allah sendiri yang akan membalas atas pahala kebaikannya tersebut.
Maka dari itu, Hadis tersebut memberi pemahan bahwa, ‘Puasa adalah untuk-Allah dan Allah pulalah yang akan membalas setiap kebaikan yang diprbuatnya’”. Dan bila kita cermati Hadis tersebut memiliki dua makna yakni:
Pertama, bahwa puasa mengandung makna khusus dari ibada-ibadah fardhu yang lain. Sebab ibadah-ibadah fardhu Salin puasa orang lain bisa melihat apa yang la kerjakan. Sementara ibadah puasa tidak, karena ibadahb puasa tidak demikian. Allah SWT berfirman:. “ibadah Puasa itu adalah untuk-Ku (Allah).”

Kedua, Allah ber, Allah berfirman,
“untuk-Ku” ber-arti bahwa, “ash-Shamadiyyah adalah Dzat yang tidak tidak butuh makan dan minum. “Maka barangsiapa berperilaku dengan akhlak-Ku, hanya Akulah Yang bakal membalasnya dengan balasan yang tidak pernah terduga dalam benak hati manusia.“

Iklan

Ketiga bahwa makna dari firman-tsb,
“Dan Akulah yang akan membalasnya, ”
artinya sesungguhnya Allah telah menjanjikan pahala untuk setiap perbuatan baik dengan jumlah dari satu hingga sepuluh kali lipat, dan dari sepuluh hingga tujuh ratus bagi orag-orang yang berpuasa, mereka adalah orang-orang yang sabar dan benar di setiap akhlaknya.

Allah SWT berfirman yang artinya:
“Hanya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala mereka yang tidak terbatas.”
(Q.s. az-Zumar: 10).

Jadi ibadah puasa dikecualikan dari ibadah-ibadah lain yang memiliki ganjaran terbatas dan tertentu. Karena puasa adalah kesabaran jiwa untuk tidak melakukan apa yang menjadi kebiasaannya, mengekang anggota badan dari seluruh kesenangannya. Maka orang-orang yang berpuasa adalah orang-orang yang sabar.

BACA JUGA  Prof Dr Harapandi :Tujuan Menuntut Ilmu

Sesuai dengan makna di atas adalah Sabda Nabi saw yang berbunyi.
.“Jika engkau berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, lisan dan tanganmu juga ikut berpuasa.”
(H.r. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah).

Senada dengan sabda Rasulullah SAW
“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa maka hendaknya tidak berkata keji dan fasik. Jika ada seseorang yang mengumpatnya hendaknya mengatakan, Saya sedang berpuasa’.”  (H.r. Bukhari-Muslim).

Jadi Sahnya puasa dan baiknya adab seseorang dalam berpuasa adalah
‘’ Sangat bergantung pada sah (benar)nya tujuan seseorang, menghindari kesenangan nafsu (syahwat)nya, menjaga anggota badannya, bersih makanannya, menjaga hatinya, selalu mengingat Allah : tidak memikirkan rezeki yang telah dijamin Allah, tidak melihat puasa yang di lakukan, takut atas tindakannya yang ceroboh dan memohon bantuan kepada Allah untuk bisa menunaikan puasanya, dan inilah adab orang yang berpuasa.

Dikisahkan dari Abu Ubaid al-Busri – rahimahullah – bahwa ketika bulan Ramadhan tiba, la masuk rumah dan segera?. mengunci pintunya lalu berpesan kepada istrinya, “Setiap malam tolong lemparkan sepotong roti lewat lubang dinding (ventilasi).” la tidak akan keluar dari kamar sehingga bulan Ramadhan berakhir. Tatkala tiba hari Raya dan istrinya masuk di kamar, la menemukan tiga puluh potong roti tertumpuk di sudut kamar.

Rasulullah Saw. mengungkapkan betapa istimewa kedudukan ibadah puasa. Karena Perintah puasa termaktub dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183.

“Telah ditetapkan bagi kalian puasa sebagaimana telah ditetapkan bagi orang-orang sebelum kalian (QS 2:183).”

Puasa, merupakan sifat Samdaniyyah–sifat khusus yang hanya diperintah Allah Swt. sebagai tempat kita bergantung dan meminta pertolongan.
Sementara hakikat makhluk sebetulnya menuntut adanya makanan.

Jadi ketika seseorang bertekad melakukan sesuatu yang bukan termasuk hakikatnya dan dikerjakan semata tuntutan syariat, maka Allah sendiri yang akan menentukan dan memberikan pahalanya.

BACA JUGA  Hikmah Pagi : HIKMAH KEUTAMAAN BULAN RAJAB

Rasulullah bersabda:

*كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ*

Artinya: Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.
 (Shahih Muslim).

Ihwal Ibadah Puasa Menurut Sufi Ibnu Arabi” ini mengatakan, seakan-akan Allah menyatakan kepada orang yang berpuasa, “Akulah yang menjadi imbalannya, karena Akulah yang dituntut oleh sifat pelepasan dari makanan dan minuman, tetapi engkau melekatkan sifat itu padamu wahai orang yang berpuasa,”

“Sementara, sifat itu bertentangan dengan hakikatmu dan bukan milikmu. Karena engkau bersifat dengannya ketika engkau berpuasa, maka sifat itu memasukkanmu kepada Diri-Ku. Kesabaran yang ada dalam puasa adalah mengendalikan jiwa, dan engkau telah melaksanakan atas perintah-Ku dari mengonsumsi makanan dan minuman yang diperbolehkan,”

Dan Rasullullah bersabda: “Hendaklah kalian berpuasa karena Allah, sebab tidak ada ibadah lain yang serupa dengan ibadah berpuasa,”