Program “LABA” untuk Santri Selaparang yang Hebat dan Kuat

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Pasca pembagian Rapot 17 Desember 2020 untuk jenjang MTs dan MA di bawah naungan Yayasan Islam Selaparang Kediri, maka aktivitas belajar formal semester satu Tahun Pelajaran 2020/2021 dinyatakan tuntas dan santri diperbolehkan pulang kampung.

Tapi, apakah semua santri pulang liburan?Tidak.

Iklan

Khusus di asrama santriwati ada sebuah kegiatan plus (saat liburan). Sebuah kegiatan yang disebut Liburan Asyik Bersama Al-Qur’an (LABA) dari 18-28 Desember 2020 M., yang diikuti oleh para santriwati yang hebat.

Kok mereka hebat? Sebab, kegiatan ini adalah murni dari inisiatif mereka saat menjelang liburan. “Dari pada liburan di rumah melulu pegang HP, lebih baik liburan di asrama sambil mengahafal Al-Qur’an”. Kata Lina Sakinah salah satu santriwati peserta LABA. Sebuah pilihan yang hebat dan kuat.

Betapa tidak, dari pertauran yang sudah ditentukan pembina, di sana tertera selama program, santri tidak boleh membawa HP. Mereka tidak boleh pulang kampung dengan alasan apapun. Tentu, semua ini tantangan berat bagi batin anak remaja pondokan dan milenial zaman sekarang. Selain mereka harus lulus ujian tahsin al-Qur’an.

Falhamdulillah, bagai gayung bersambut, inisiatif mereka diakomodir langsung oleh seorang ustazah hafizhoh 30 juz yang juga alumni Sanawiah dan Aliah di Pondok Pesantren Selaparang ini. Dengan izin pembina asrama Ustzah Hj. Nurlaela, S.Pd.I kegiatan dimaksud pun berjalan dengan baik.

Lagi sekali, ini adalah sebuah pilihan hidup (inisiatif) yang hebat dan kuat dari santri LABA , bila dibanding dengan kebanyakan hasrat hidup bebas tanpa batas anak remaja seukuran mereka. Senang hidup bebas akses google dan ber-facebook ria adalah bagian dari gaya hidup orang sebaya mereka.

BACA JUGA  Pemprov. NTB dengan Dubes Rusia Bahas Peluang Beasiswa

Mereka hebat –juga– karena mereka masuk sleksi. Dari 60-an santriwati yang ikut mendaftar hanya 21 orang yang lulus sebagai peserta LABA. Saya sempat menanyakan kepada pembimbing kegiatan; Kok ada seleksi segala?

“Kita penting menyeleksi agar sejak awal terlihat komitmen mereka. Kegiatan ini juga tidak ringan, sepekan harus betul-betul hafal satu juz dan siap uji publik setelahnya”. Kata Ustazah Harsika Rahmayanti, QH., S.Pd.I alumnus MDQH NW Anjani Lombok Timur.

Ternyata, setelah saya lihat jadwal kegiatan mereka memang cukup padat, namun (pastinya) dikemas asyik oleh Ustazah Harsika. Selain mereka menghafal al-Qur’an, mereka juga bisa bermain, mengikuti kuis dan permainan enjoi lainnya dengan hiburan menyanyi lagu-lagu Islami.

Tentu, kegiatan santriwati atau anak-anak kita semacam ini perlu diapresiasi. Sebuah terobosan yang memiliki saham besar untuk menghadirkan generasi Qur’ani di masa mendatang. Bapak-ibu wali santri juga harus extra mendukubg dengan materil dan moril (panjatan doa dan nasihat) bagi mereka.

Pondok Pesantren Selaparang hanya mewadahi dan berikhtiar penuntut ilmu bening, selebihnya adalah kesungguhan ikhtiar santri dan doa para orang tua/wali santri beserta keluarga yang juga perlu berandil.

Tabarruk dari singkatan nama kegiatan (LABA), maka sungguh kegiatan ini adalah “laba” (keuntungan) atau ilmu plus dari ilmu pengetahuan yang diperoleh dari sekolah formal mereka. Inilah “Laba” bagi diri mereka dan orang tuanya yang bisa dipetik pada masa yang akan datang.

Wa Allah A’lam!

PP. Selaparang, 28 Desember 2020 M.