Prof Harapandi: Rizki dan Amal

banner post atas

Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya Orang yang ragu terhadap rezekinya, maka dia telah ragu terhadap pemberi rezeki (Allah Azza Wajalla)

Rezeki itu tidak hanya berupa harta-benda, tidak pula berupa kebahagiaan duniawi, meliankan rezeki juga dapat berupa peluang, pertjumpaan dan informasi yang kita dapatkan dari seorang teman bahkan musuh.
By Harapandi Dahri

Hasan al-Bashri berkata; Aku tahu bahwa rezeki yang Allah tentukan kepada masing-masing manusia tidak akan pernah diambil orang lain, maka tenanglah.
Rezeki yang kita terima jauh sebelumnya sudah ditentukan dan dibagi-bagikan oleh Allah, perjalanan manusia dalam mencari rezeki hanyalah sebagai syarat untuk mendapatkannya, bagi mereka yang serius mencari, maka ketentuan Allah akan didapatkannya, namun bagi mereka yang malas, tidak mencari dan menjalankan taqdir al-kasb, maka tidak akan mendapatkan apa yang telah ditentukan Allah untuknya.

Iklan

Semua ketentuan Allah sudah pasti, namun sebab kita tidak mengabaikan dan mengikuti ketentuan (taqdir) Allah akhirnya segala cita-cita dan keinginan kita tidak dapat dinikmati. Yakin terhadap Allah sebagai pemberi rezeki adalah kunci kesuksesan, namun sebaliknya jika kita ragu terhadap rezeki, maka berarti juga kita ragu kepada pemberi rezeki (Allah al-Razzaq). Al-Syaikh Tajuddin Ibn ‘Athaillah telah berkata; “Sesiapa yang ragu terhadap rezeki, maka ia telah ragu kepada pemberi rezeki”.

Lanjutan al-Imam;”Aku juga tahu bahwa semua pekerjaan yang telah ditaqdirkan Allah tidak akan pernah dikerjakan orang lain, maka lakukanlah”.
Amal dan perbuatan yang kita jalankan pun adalah ketentyuan Allah sejak azali, kita diminta untuk terus menjalankan apa-apa yang telah ditentukan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, tanpa banyak bertanya terhadap apa-apa yang telah diperintahkan.

BACA JUGA  Refleksi Tentang Apa Yang Kita Tuju Dalam Mencari Ilmu

Tidak berdebat untuk apa melakukan pekerjaan ini dan mengapa tidak boleh melakukan perbuatan yang sejatinya menurut pandangan hawa nafsu sangat logik.

Tidak, sekali lagi tidak, sebab apa yang menurut pandangan akal (logika) yang bercampur dengan nafsu tidak akan pernah dapat mengalahkan logika yang murni datang melalui tuntunan Ilahi. Allah lah yang Maha tahu apa-apa yang dititihkan untuk diperbuat dan Dia pula yang tahu hikmah dibalik apa-apa yang menjadi alasan dilarangnya melakukan suatu perbuatan.

Pekerjaan yang telah ditentukan Allah untuk kita lakukan tidak akan pernah diberikan kepada orang lain, karena itu, selesaikan pekerjaan dan tanggungjawabmu, jangan engkau berangan-angan bahwa pekerjaan kita akan diselesaikan orang lain.

Satu prinsip utama dalam sebuah pekerjaan, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita untuk mengerjakan pekerjaan yang dapat kita selesaikan hari ini, jangan menunda-nunda pekerjaan hari ini untuk esok hari, karena belum tentu umur kita akan sampai esok pagi. Hidup kita adalah detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, bukan kemarin karena telah berlalu dan bukan pula nanti karena belum datang.

Kemudian beliau juga berkata;“Aku tahu bahwa Allah sentiasa mengawasiku, maka aku sangat bahagia saat Allah melihat aku melakukan perbuatan yang disuruhNya dan aku malu saat Allah melihatku berbuat maksiat kepadaNya”.
Allah mengawasi kita, Allah melihat segala apa yang kita lakukan bahkan apa yang terlintas dalam sanubari kitapun Allah Maha Mengetahuinya.
Berpikir dan bertindaklah yang baik-baik, karena apapun yang kita lakukan Allah mencatatnya walau sebesar biji sawi pun kita akan saksikan seperti firman Allah dalam surat az-Zilzalah/99:6-7 “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya) dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.

BACA JUGA  Prof H Harapandi :Langkah Kelima Agar Semakin Dekat Dengan Al-Khaliq

Dan aku tahu bahwa kematian selalu mengintaiku karena itulah aku lakukan perbuatan baik dan tinggalkan laku maksiat sebagai persiapanku menghadapi kematian.
Kematian itu pasti, hanya sebabnya saja yang membedakan, sesuatu yang pasti janganlah dicari dan dinanti, persiapkan diri untuk menjumpainya, tidak ada waktu dan tempat yang pasti, dia akan datang tanpa mebritahukan diri.

Tanda-tanda kematian bagi setiap orang terus berjalan tak dimengerti oleh setiap insan yang merugi, namun bagi mereka yang setiap saat tersadarkan pasti dapat mengambil signal-signal Tuhannya.

Badan yang sudah tidak kuat lagi, mata tak tajam, telinga tak lagi seterang masa muda, tulang belulang terasa nyeri bila duduk dan hendak berdiri, muka tidak lagi elok dipandang dan rambutpun mulai memutih itulah beberapa tanda bagi mereka yang memahami, ujar Malaikat maut kepada Nabi Allah Ayyub Alaihissalam.

Mudah2an Allah memberikan kecerdasan untuk menyadari akan tanda-tanda yang Allah kirimkan kepda kita, berharap signal-signal tersebut mampu membuat persiapan yang lebih baik untuk menghadap Allah Azza Wajalla. Amin