اعمل المعروف ورم البحر
Jalankan kebajikan dan janganlah engkau ceritakan kepada siapapun
Ungkapan ini bermaksud, jika sudah melakukan kebajikan jangan menceritakannya kepada orang lain.
Jadilah seperti lautan, apapun yang kita lempar ke dalamnya pasti diterima dan tidak akan pernah menolaknya, begitu luas penerimaannya seluas dirinya.
Bekerja dan lakukanlah pekerjaan karena Allah semata, carilah ridha dan kasihnya dari amal yang kita lakukan.
Jika sikap ini dilakukan, maka tidak akan pernah menyesal, namun jika melakukan perbuatan baik karena manusia, maka rasa sesal akan muncul saat orang lain memperoleh ganjaran pahala dan kebaikan Allah di hari kemudian.
Hanya kepada Allah menyerahkan semua tujuan, dan kepada Dialah segala urusan serta untukNyalah segala pekerjaan di arahkan. Lain dari tujuan itu akan sia-sia bagaikan debu yang berterbangan.
Salah satu penyakit yang dapat menodai keikhlasan seorang hamba adalah riya’ yaitu memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan dengan tujuan mendapatkan pujian manusia.
Semakna dengan riya’ adalah sum’ah yaitu memperdengarkan suatu amalan dengan tujuan yang sama yaitu mendapatkan pujian manusia. Riya’ termasuk syirik khafiy (tersembunyi), maknanya adalah kesyirikan yang terdapat di dalam hati manusia yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
Seseorang bisa saja selamat dari syirik akbar yaitu dengan menjauhi segala bentuk peribadatan kepada selain Allah, namun terkadang dia tidak selamat dari riya’ yang merupakan syirik asghar. Oleh karena itu, sepatutnya seorang mukmin mewaspadai hal ini.
Penyakit riya’ dapat menimpa siapa saja, termasuk orang yang shalih sekalipun. Di dalam hadits yang panjang dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa golongan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid, seorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu, dan seorang yang bersedekah.
Namun, ternyata Allahta’ala masukkan mereka ke dalam neraka karena niat ibadah mereka tidak ditujukan kepada Allah ta’ala. Orang yang mati syahid ternyata berperang sampai syahid supaya dia dikatakan pemberani, orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu ternyata ingin dikatakan sebagai seorang alim, dan orang yang bersedekah ternyata ingin supaya dikatakan dermawan oleh orang lain.
Selain itu, seorang yang riya’ dalam ibadahnya, berarti terdapat dalam dirinya satu bagian dari sifat-sifat kaum munafikin, sebagaimana firman Allah ta’ala;
“Dan apabila mereka (kaum munafikin) berdiri mengerjakan shalat, maka mereka berdiri dalam keadaan malas dan riya’ di hadapan manusia dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisa: 142).
Ayat lain Allah berfirman; ”Maka kecelakaanlah bagi orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya,(dan) mereka yang riya’…” (QS. Al Ma’un: 4-6).




