Prof H Agustitin: Tugas Kita Setelah Shaum Harus di Tindak Lanjuti Dengan Mengembangkan Kajian Ilmu Ilmu Yang ada di Dalam Al-QUR’AN , Kemudian Mengenalkannya.

banner post atas

Seusai kita menjalankan shaum ( menahan Diri untuk mengkaji ilmu2 yang ada di dalam AlQur’an) selama 30 hari adalah memperdalam ilmu , menuntut, dan menginvestasikan ilmu, agar lebih bermanfaat.

Barang siapa yang mengetahui ilmu , yang bermanfaat , kelak akan menjadi bekal, mempersiapkan diri ke taufik akhir..

Mempelajari ilmu yang kelak tidak kita pergunakan, minimal hidup kita tidak akan sia-sia, karena ilmu yang kita dapat akan memperkaya khasanah kita.

Iklan

Pemikiran semacam ini pernah dirasakan murid Imam Al-Ghazālī. “Saya telah membaca bermacam-macam ilmu pengetahuan. Lalu, manakah ilmu yang bermanfaat bagiku esok? Dan menghiburku di alam kubur? Dan manakah yang tidak bermanfaat bagiku sehingga aku dapat menambahkan keluasan ilmunya.
” Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa : ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang bermanfaat ”

Pada hakekatnya seluruh ilmu itu bermanfaat , tinggal tergantung kemampuan orang yang memakainya ilmu itu. Karena nya tidak perlu gelisah denga ilmu kita,manfaatkan sesuai peruntukannya.
Memintalah nasihat dan doa dari gurunya dengan permintaan khusus agar gurunya memberi petunjuk cara memanfaatkan ilmu.

Muhammad ibn Muhammad Abu Hamid Aṭ-Ṭūsī seorang ahli fikih, ahli tasawuf, filosof beliau mendapat gelarhujjah al-Islām (Argumentasi Islam).
Nama beliau dinisbatkan pada ghazalah sebuah nama desa di kota Ṭūs oleh karenanya beliau lebih dikenal dengan sebutan Al-Ghazālī.

Ayyuhā al-Walad, “Hai anakku”. Nama kitab yang sederhana nan unik ini, mengajak muridnya laksana anak sendiri. Mengindikasikan bahwa hubungan mereka bukan sekadar antara guru dan murid tapi lebih pada kasih sayang bapak pada buah hatinya agar relasi antara keduanya layaknya hubungan kausalitas yang tak mungkin terpisahkan sehingga tak ada alasan untuk menolak petuah-petuah yang mengalir dari lisan agung gurunya. Kitab ini memang ditujukan khusus atas permintaan murid Imam Al-Ghazālī, namun isi kandungan nasihat-nasihatnya bersifat umum pada setiap insan yang sedang menempuh jalan Allah. Kitab ini sangat cocok untuk dijadikan rujukan khususnya bagi para pencari ilmu.Nah inilah barangkali contoh dari cara mengembangkan dan mengimplentasikan ilmu dari hasil shaumnya

Hal ini merupakan hal edi shaumnya yang dikembangkannya menjadi kasih sayang seorang guru pada muridnya.

Kita bisa mengatakan bahwa Imam Al-Ghazālī tidak hanya mengajarkan ilmu pada muridnya melainkan disertai dengan pendidikan moral, akhlak dan spiritualnya.

Adapun ccara menyampaikan nasihat-nasihatnya beliau sangat bijak tidak hanya memaparkan inti-inti nasihatanya tapi juga disertai dengan contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman orang terdahulu yang dapat dijadikan teladan atau ‘ibrah dan dikuatkan dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan al-Hadist.

BACA JUGA  Doa Hari Ini Sabtu 15 Agustus 2020

Imam Al-Ghazālī dalam karya ini juga mengutip perkataan ulama terdahulu seperti As-Syiblī,beliau berkata :
”Saya telah berkhidmat kepada empat ratus orang guru, dan saya telah membaca empat ribu hadis nabi, kemudian saya memilih satu buah hadis saja, hadis tersebut saya amalkan sementara yang lainnya saya jadikan khasanah saja.

Karena setelah saya berfikir, saya menjumpai bahwa keselamatan saya lantaran mengamalkan hadis tersebut. Hadis tersebut adalah sabda nabi sebagai berikut:

*اعمل لدنياك بقدر مقامها فيها، واعمل لأخرتك بقدر بقائهك فيها، واعمل لله بقدر حاجتك اليه، واعمل للنار بقدر صبرك عليها*

“Beramallah untuk duniamu selama engkau tinggal disitu dan beramallah untuk ahkiratmu sebanyak masa tinggalmu, dan beramallah bagi Allah sekedar kebutuhan pada-Nya, dan beramallah bagi neraka sekedar kesabaranmu menghadapinya.”

Intisari dari penggalan hikayat di atas tidaklah perlu kita mencari ilmu yang banyak tanpa diaplikasikan dalam kehidupan. Yang terpenting adalah apa tujuan kita mencari ilmu, mendalami ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut harus mendatangkan cinta produktivitas dan kedamaian serta kelembutan sorti nasehat nasehat berikut ini:
“Meskipun kita diam tenang bagai ikan, tapi sebenarnya kita gelisah pula bagai ombak dalam lautan.Dia adalah Yang tidak mempunyai ketiadaan, saya mencintainya dan Saya mengaguminya.”

“Hawa nafsu adalah induk segala berhala: berhala jasmani adalah ular, namun berhala ruhani adalah naga.
Kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya.”

“Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang telah patah hati terhadap dunia.
Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar.”

“Kemarin saya pintar, jadi saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, jadi saya mengubah diri saya sendiri.
Cobalah Ikat dua burung bersama. Mereka tidak akan dapat terbang, kendati mereka tahu memiliki empat sayap.”

Hati saya begitu kecil, hampir tak terlihat. Bagaimana Anda bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya? Dengar, Dia menjawab, Mata Anda lebih kecil, namun mereka melihat dunia.Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan.

Jalaludin Rumi yang pernah berpesan yang sangat menyejukkan Hati sbb:

Dengan cinta, yang pahit menjadi manis. Dengan cinta, tembaga menjadi emas. Dengan cinta, sampah menjadi jernih. Dengan cinta, yang mati menjadi hidup. Dengan cinta, raja menjadi budak. Dari ilmu, cinta dapat tumbuh. Pernahkah kebodohan menempatkan seseorang di atas tahta seperti ini. Hikmah Tuhan menciptakan dunia supaya segala sesuatu yang ada dalam pengetahuan-Nya menjadi tersingkap. Setiap orang melihat sesuatu yang tak terlihat menurut kadar cahayanya.
Semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah ia melihat segala.

BACA JUGA  -HIKMAH PAGI- MACAM-MACAM HIKMAH MENURUT AL-QUR’AN

Air berkata kepada yang kotor, “Kemarilah.” Maka yang kotor akan berkata, “Aku sungguh malu.” Air berkata, “Bagaimana malumu akan dapat dibersihkan tanpa aku?
15. Dalam perjalanan itu tak ada lorong sempit yang lebih sulit dari ini, beruntunglah orang yang tak membawa kedengkian sebagai teman.
Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.

Adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri?
Selamat tinggal hanya untuk mereka yang suka dengan mata mereka. Karena bagi mereka yang suka dengan hati dan jiwa tidak ada hal seperti pemisah.

Perempuan adalah cahaya Tuhan, Dia bukan dicintai secara duniawi, dia berdaya kreatif, bukan hasil kreasi.
Kata-kata lembut yang kita katakan kepada pasangan kita tersimpan di suatu tempat rahasia di surga. Pada suatu hari, mereka akan berjatuhan bagaikan hujan, lalu tersebar, dan misteri cinta kita akan tumbuh bersemi di segala penjuru dunia.

Jalaludin Rumi juga pernah berpesan Tentang Cinta Sejati
Berikut esan Jalaludin Rumi soal cinta:
“Ketika aku jatuh cinta, aku merasa malu terhadap semua. Itulah yang dapat aku katakan tentang cinta. Hati saya begitu kecil, hampir tak terlihat. Bagaimana mereka bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya. Dengar, Dia menjawab, Mata mereks lebih kecil, namun mereka melihat dunia. Ada lilin di dalam hati mereka, siap untuk dinyalakan. Ada kekosongan dalam jiwa mereka, yang siap untuk diisi.”

Berhenti karena merasa begitu kecil. Padahal kita adalah alam semesta yang bergembira.
Cinta dan kelembutan adalah sifat manusia, amarah dan gairah nafsu adalah sifat binatang yang harus di kembalikan agar tidak liar.

Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakekat.
Jiwaku adalah dari tempat lain, saya yakin itu, dan saya berniat untuk berakhir di dalam cinta.

Kau harus hidup di dalam cinta, sebab manusia yang mati tidak dapat melakukan apa pun. Bagi mereka yang hidup berati Dia yang dilahirkan oleh Cinta.
Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita berdaada