Prof H Agustitin Setyobudi (KETUA UMUM INDUK KOPERASI PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA) : Dampak Corona Meluas, Ekonomi Indonesia Turun

banner post atas

Diperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan turun karena wabah virus corona. Seperti negara Italia diprediksi mengalami resesi ekonmi yang parah.

Dampak wabah virus corona, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dari 4,9% diperkirakan turun menjadi 4,8%.

Informasi dan data terkini
prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dari 4,9% menjadi 4,8%. Dan pemicu utamanya Virus corona.

Iklan

Penurunan tersebut karena menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi secara global. *“Risiko resesi global telah meningkat. Semakin lama wabah ini terjadi akan mempengaruhi kegiatan ekonomi, permintaan terganggu dan mengarah ke resesi,”*

Untuk negara-negara G-20, prediksi pertumbuhan ekonominya hanya 2,1%, turun 0,3% dari angka perkiraaan sebelumnya. Pelemahan konsumsi dan produksi, terutama akan dirasakan oleh Tiongkok, tempat wabah virus tersebut berawal.

Virus bernama Covid-19 yang telah menyebar ke negara di luar China dalam beberapa minggu terakhir telah mengakibatkan kejatuhan ekonomi yang signifikan. Rantai pasokan terganggu dan permintaan konsumsi domestik di negara-negara terdampak saat ini sedang tertekan. Sektor pariwisata dan perdagangan mengalami pelemahan terbesar.

Ekonomi Tiongkok perkiraannya turun dari 5,2% ke 4,8%. Lalu, Korea Selatan hanya tumbuh 1,4% dari perkiraan sebelumnya di 1,9%. Jepang angkanya di 0%.

Negara Italia diperkirakan akan mengalami resesi. Pertumbuhannya diperkirakan minus 0,5%. Jerman akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, dari perkiraan 1% menjadi 0,3%. Amerika Serikat ekonominya hanya naik 1,5% dari prediksi awal 1,7%.

Pemerintah Siapkan 5 Strategi | Katadata Indonesia04:14Peluang Ekonomi Di Balik Wabah Corona | Katadata Indonesia03:03Dampak Wabah Corona Semakin Luas Di Dunia | Katadata Indonesia03:20Mitos Dan Fakta Pandemi Corona| Katadata Indonesia01:38Kontroversi Tarif Baru Ojek Online| Katadata Indonesia09:19Suara WNI: Terjebak Lockdown Corona Di Norwegia | Katadata Indonesia01:38Video: Kontroversi Tarif Baru Ojek Online| Katadata Indonesia02:22Memahami Social Distancing Atatasi Penyebaran Corona | Katadata Indonesia04:10Menghindarkan Lansia Dari Risiko Tinggi Covid-19| Katadata Indonesia
Di tengah kelesuan ekonomi ini, menurut Moody’s, perekonomian masih bisa diselamatkan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat. Hal ini terlihat dari keputusan bank sentral AS, Federal Reserves, memangkas suku bunga 50 basis poin. Pengumuman bank sentral Eropa dan Jepang yang akan membatasi volatilitas pasar keuangan juga menjadi langkah tepat.

BACA JUGA  Prof H Agustitin : WISATA BATINIAH QS 2 AYAT 267 DAN 268

Di tengah kelesuan ekonomi ini, menurut perekonomian masih bisa diselamatkan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat. Hal ini terlihat dari keputusan bank sentral AS, Federal Reserves, memangkas suku bunga 50 basis poin. Pengumuman bank sentral Eropa dan Jepang yang akan membatasi volatilitas pasar keuangan juga menjadi langkah tepat.

Sementara Kadin memastikan semua bahan kebutuhan masyarakat, pangan maupun nonpangan seperti obat-obatan, mencukupi selama masa darurat wabah virus corona.

Stok mencukupi untuk kebutuhan masyarakat hingga tiga bulan ke depan.

Pemerintah memperpanjang masa darurat wabah virus corona hingga 29 Mei 2020. Kamar Dagang dan Industri Indonesia memastikan semua bahan kebutuhan masyarakat, pangan maupun nonpangan seperti obat-obatan, mencukupi. 

Industri-industri farmasi, makanan dan minuman, serta industri tekstil. Produk-produk tersebut dipastikan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat hingga tiga bulan ke depan.

“Kami melihat satu per satu. Farmasi menyampaikan pasokan obat masih aman hingga Juni, makanan dan minuman untuk dua-tiga bulan ke depan masih aman, dan bahan baku kain dari Tiongkok sudah mulai dikirim,”

Beberapa industri bahan baku di Tiongkok telah kembali berproduksi dengan normal sehingga ketersedian bahan baku cukup banyak. Kendati demikian, sektor-sektor usaha harus berebut dengan negara lain yang seret pasokan.

Saat ini, kondisi paling buruk dialami industri farmasi. Pasalnya, selain harus berebut bahan baku, pemerintah melalui BPJS Kesehatan masih menunggak pembayaran obat dengan jumlah yang besar sehingga industri kesulitan untuk membeli bahan baku.

“Di satu sisi mereka juga ada kendala utang BPJS Kesehatan belum dibayar kurang lebih sampai Rp 6 triliun dan di sisi lain harus rebutan bahan baku itu masalah yang harus segera diselesaikan,”