Prof H Agustitin: PUASA SEHARUSNYA DAPAT MENYADARKAN PADA KITA BAHWA PUJIAN ITU HANYA MILIK ALLAH

Prof H Agustitin: PUASA SEHARUSNYA DAPAT MENYADARKAN PADA KITA BAHWA PUJIAN ITU HANYA MILIK ALLAH

Puasa khusus adalah jenis ibadah yang diamalkan sebagaimana oleh orang orang saleh. Puasa ini bermakna menjaga seluruh organ tubuh manusia agar tidak melakukan dosa dan harus pula memenuhi keenam syaratnya :

1. Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah Swt.
Suatu hal yang suci, menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, “pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata mata karena takut kepada Nya, niscaya Allah swt. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. ” (H.r. al Hakim, hadis shahih). Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengurnpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu.”

2. Menjaga Ucapan
Menjaga lidah (lisan) dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, berkata keji dan kasar, melontarkan kata kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi); dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca [mengkaji] al-Qur’an. Inilah puasa lisan. Said Sufyan berkata, “Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, ‘Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong.”
Rasulullah saw. bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa’!” (H.r. Bukhari Muslim).

3. Menjaga Pendengaran
Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela; karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Itulah mengapa Allah swt. tidak membedakan antara orang yang suka mendengar (yang haram) dengan mereka yang suka memakan (yang haram). Dalam al Qur’an Allah swt. berfirman, “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal.” (Q.s. 5: 42).
Demikian juga dalam ayat lain, Allah swt. berfirman, “Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang?” (Q.s. 5: 63).
Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah swt. berfirman dalam wahyu Nya, ‘Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka …” (Q.s. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah saw. mengatakan, “Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa.” (H.r. at Tirmidzi).

4. Menjaga Sikap Perilaku
Menjaga semua anggota badan lainnya dari dosa: kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Puasa tidak punya arti apa apa bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal dan hanya berbuka dengan makanan haram. Barangsiapa berpuasa seperti demikian, bagaikan orang membangun istana, tetapi merobohkan kota. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Maka puasa dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut. Karena didera kekhawatiran, atau karena sakit yang berkepanjangan, seseorang dapat memakan obat secara berlebihan.

5. MAKA dengan demikian jelas tidak masuk akal jika kemudian ada yang menukar obat dengan racun. Makanan haram adalah racun berbahaya bagi kehidupan beragama; sedang makanan halal ibarat obat, yang akan memberikan kemanfaatan apabila dimakan dalam jumlah cukup, tidak demikian halnya dalam jumlah berlebihan. Memang, tujuan puasa adalah mendorong lahirnya sikap rendah hati bahwa “sesungguhnya pujian itu milik Allah semata”

6. Bersabda Rasulullah saw, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!” (H.r. an Nasa’i, Ibnu Majah). Ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berdiri diatas egonya ,dlm arti belum mau mengerti bahwa dengan memuji orang lain sama artinya memuji ciptaanya. Tetapi ada pula yang menafsirkan bahwa sebaik baik pujian hanya di berikan pada selain diri sendirinya saja/.kita Jangan sampai enggan memuji orang lain .

Kalimat “Segala puji hanya bagi Allah SWT ” Tertulis pada ayat pertama surat Al-Fatihah atau surat pembuka dalam kitab suci al-quran. Surat al-fatihah ini biasa disebut sebagai surat pembuka atau umul kitab ( Ibunya kitab ).

Kalimat tersebut berada pada urutan pertama karena memang mempunyai makna yang dalam. Ibarat pintu, ada banyak pintu yang harus dilalui, maka kalimat ” segala puji hanya milik Allah ” adalah pintu pertama yang harus dibuka.

“Segala Puji hanya milik Allah. “Artinya adalah buanglah dulu egomu, buanglah dulu pemujaanmu terhadap makhluk, buanglah dulu pemujaanmu pada diri sendiri- tahta- harta- wanita. Buanglah semua pemujaanmu pada hal selain Allah.

Bisa saja seseorang bersikap arogan, menindas, berbuat jahat , semua disebabkan oleh pemujaan yang salah. Kadang mereka memuja bangsa, tokoh, agama tertentu, atau kelompok tertentu. Akhirnya mereka tidak sampai pada kemuliaan, bahkan menciptakan peperangan, konflik dimana- mana. Semua itu disebabkan oleh penyakit psikologis (Ruhani ) diri manusia yang masih suka memuji selain Allah.

Zat yang pantas- layak untuk dipuji, jika kita memujinya maka pasti akan menimbulkan kebaikan dan kemuliaan. Allah adalah zat yang Esa,  yang maha benar, yang bijaksana, keadilan. Tentu ketika kita memuji Allah maka pasti dampaknya adalah kebaikan bagi semuanya.

Membuka pintu-pintu penutup yang menutupi ruhani kita itu maka bukalah dulu puji-pujianmu terhadap makhluk. Jangan lagi memuji jabatan, kedudukan, kekayaan, kecantikan seseorang. Letakkan pujian itu pada tempatnya , yaitu pada zat yang pantas untuk dipuji, zat yang dapat memberikan kebaikan menyeluruh jika kita memujiNya.

Dengan hanya memuji kepada Allah maka tidak akan ada seorang yang punya gelar tinggi yang akan merasa angkuh atau terhormat. Tidak ada orang yang gila kehormatan. Tidak ada seorang pejabat yang arogan atau seorang penindas, sebab semua orang sudah tahu kalau yang pantas dipuji hanya Allah, bukan diri sendiri atau makhlukNya.

” Segala Puji Hanya Milik Allah ” Maka kamu telah memasuki pintu pertama untuk menjadi pribadi suci, pribadi objektif, pribadi netral . Pada hakikatnya , artinya adalah ” Buanglah dulu egomu,

Setiap harinya, orang yang beriman tentu tidak akan pernah melewatkan kalimat alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan penguasa alam). Kalimat tersebut adalah ayat kedua Surah Al-Fatihah yang menjadi salah satu rukun salat. Yang menarik adalah ayat suci tersebut menggunakan kata “segala puji”,.

Ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa pada dasarnya semua pujian yang ada di muka bumi ini akan bermuara kepada Allah yang Maha Penguasa. Sebab, tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang indah, hebat, bagus dan hal lain yang menuai pujian jika tidak ada campur tangan Allah Azza wa jalla.

Setidaknya terdapat 4 macam pujian yang pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

a. Allah memuji dirinya sendiri (qadim ala qadim). Allah sebagai penguasa seluruh alam berhak memuji dirinya sendiri karena memang Dia lah yang pantas untuk melakukannya.

Contoh Allah memuji dirinya sendiri adalah ayat sebagai berikut:
Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa’budnii wa aqimis-salaata lidzikrii
Artinya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)

b. Allah memuji makhluknya (qadim ala hudus) .Allah juga memiliki kewenangan untuk memuji kepada makhluknya salah satunya yang terdapat dalam Surah Al-Qalam ayat 4. .Dalam surah tersebut Allah berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung.”

c. Makhluk memuji Allah (hudus ala qadim). Tidak ada kata lain selain memuji ketika kita sebagai makhluk-Nya menyaksikan kebesaran Allah yang terhampar luas di muka bumi.
Begitu pula ketika kita berdoa maka kita pasti selalu memuji kepada Allah. Misalnya, “Ya Allah sesungguhnya Engkau yang Maha Pengasih dan Maha Mengetahui.”

d. Makhluk memuji makhlukNya (hudus ala hudus)
Tanpa kita sadari ketika kita memuji orang lain pada hakikatnya kita memuji kepada Allah Swt. Misalnya ketika kita mengatakan suara orang lain merdu, maka saat itu juga kita memuji Allah karena suara adalah ciptaan-Nya.

Dan pujian itu sesungguhnya di dikhususkan bagi Allah ta’ala sebagaimana diperoleh dari susunan kalimatnya yang sempurna, baik menjadikan huruf “lam al-ta’rif [لام التعريف]” dalam kata “al-hamdu [الحمد]” yang berfungsi lil-istighraq [للإستغراق] sebagaimana pendapat Jumhur al-‘ulama, dan ini cukup jelas, atau berfungsi li al-jinsi [للجنس] sebagaimana dikemukakan oleh al-Zamakhsyari karena huruf lam [لام] pada kata lillahi [لله] berfungsi li al-ikhtishash [للإختصاص ], karena memang senyatanya bahwa keseluruhan pujian itu khusus bagi Allah saja dan karena tiada suatu kebaikan pun kecuali Dia sajalah penguasanya.

Maka hendaklah lidah dan sikap kita senantiasa memuji Allah dengan sepenuh rasa mengagungkan Dia Sang Pemberi Nikmat tak terhingga banyaknya, baik kepada yang orang yang memberikan pujian kepada-Nya atau tidak. Karena segala pujian itu pada hakikatnya adalah khusus bagi-Nya dan hanya menjadi milik-Nya semata, maka saat kita mendapatkan pujian hendaklah pujian itu dikembalikan kepada pemilik pujian yang sesungguhnya, yaitu Allah ta’ala, dengan mengucapkan alhamdulillah.

Jika kita mampu memahami hakikat tersebut dan tidak enggan mengucapkan alhamdulillah niscaya kita tidak selalu mengharap atau tergila-gila pada pujian, tidak menjadi besar kepala dan lupa diri karena pujian dan kita akan menunaikan dan menuntaskan tugas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita dengan penuh kesadaran diri, bukan bekerja sekedarnya demi berharap pujian makhluk-Nya.

Janganlah kita enggan dan berat untuk memuji segala ide, ucapan dan perbuatan terpuji yang dilakukan oleh siapa saja, karena barangkali si penerima pujian itu menyadari sepenuh hatinya bahwa semua itu terjadi atas izin-Nya lalu ia mengucapkan alhamdulillah yang juga menjadi sebab mengalirnya pahala baginya dan bagi kita.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA