Pandemi Corona yang melanda secara luas di tingkat Dunia, merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah SWT. Sebagai hamba yang beriman.
Dua pekan terakhir istilah New Normal menjadi topik pembicaraan banyak kalangan di Indonesia. Meski kasus baru Covid-19 terus bermunculan, nampaknya wacana pemberlakuan New Normal terus menguat. Di sisi lain,
tak sedikit pengamat mendesak kepada pemerintah pusat agar tidak tergesa-gesa untuk menerapkan skema New Normal.
Berbicara tentang New Normal paling tidak menyangkut dua hal yang harus diperhatikan.
Pertama, *New Normal sebagai pernyataan kebudayaan, artinya adanya Covid-19 ini menghadirkan sebuah pertanyaan besar tentang seberapa kuat kebudayaan Indonesia. Bagaimana nantinya di saat memasuki era New Normal, apakah kebudayaan kita cukup elastis, apakah kebudayaan kita punya resilience cukup kuat sehingga bisa mengiringi atau mendampingi masyarakat masuk era New Normal*
Kedua, *New Normal dinilai sebagai preseden kebudayaan. Melalui Covid-19 ini sesungguhnya menjadi sebuah momentum historis karena banyak pihak diajarkan pada sesuatu yang baru*
“Sesuatu yang baru itu, misalnya mudik tidak harus disakralkan namun lebih pada situasional dan fungsional. Juga soal tradisi berkumpul yang sangat kuat,” ujarnya, Menyiapkan Kenormalan Baru Pasca Pandemi Covid-19, Kelahiran Interaksi sosial dan Budaya Baru.
Nampak melihat dari segi kesehatan Covid-19 tidak bisa dilawan karena hingga saat ini vaksin belum ditemukan dan tingkat kematian jelas.
Oleh karena itu, jika mau meningkatkan imunitas tubuh jalannya adalah sosial budaya.
“Ada kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat dan keluarga. Di sinilah tantangan sosial budaya untuk mendampingi masyarakat kita untuk kuat masuk ke dalam tahap New Normal,”.
Dari hasi penelitan penelitian yang telah dilakukan saat ini memperlihatkan satu terinfeksi di rumah maka bisa menghancurkan satu keluarga. Satu orang di desa terkena meskipun baru ODP sudah bisa mengacaukan pertahanan satu desa.
“Desa yang dulu disebut solid dan harmoni runtuh. Itu yang saya bilang tadi terkait seberapa kuat kebudayaan kita. Jadi, kalau hari ini bertanya imunitas tubuh ada pada fondasi kebudayaan, ini yang harus kita bangun kembali,” terangnya.
New Normal adalah tantangan besar. Meski begitu cara menghadapinya diharapkan bisa lebih rileks dan lebih tenang agar imunitas tubuh tetap baik, sebab New Normal membutuhkan mekanisme kultural agar membuat masyarakat cukup siap menghadapi.
“Sudut New Normal harus kita definisikan lebih seksama, jadi New Normal itu bukanlah sesuatu yang normal. Tapi untuk saya itu adalah new “upnornal”. Jadi, new upnormal itu bukan pakai “ab”, abnormal tapi upnormal, kenapa? New Normal yang akan hadir adalah New Upnormal, artinya mainnya di upstream salah satu tandanya hidup kita menjadi terinstrumentalisasi, jadi seperti sekarang ini, kita kuliah dengan Zoom dengan Google Meet, seminar dimana-mana berjalan terus. Semua mulai normal, setiap hari ada seminar itulah New Normal,” .New Normal adalah peradaban baru. Semua sudah tidak pada normal yang lama dan secara alami beradaptasi.Baginya yang perlu ditekankan pada situasi saat ini adalah bagaimana mengubah krisis dari the loosers menjadi the winners. Dia berharap masyarakat jangan sampai berhenti menjadi the loosers, yang setiap harinya hanya mengeluh, menangis bahkan sampai keinginan bunuh diri dan sebagainya.
“Ini butuh transformasi sosial budaya untuk menjadikan mereka the winners. Karena itu bagaimana mengkalkulasi energi dan potensi daerah-daerah menjadi fighting covid sehingga transformasi dapat tercapai,” selalu ada problem-problem baru dan tantangan baru, tetapi sekaligus menghadirkan kesempatan baru yaitu kesempatan baru untuk melakukan transformasi sosial. Oleh karena itu, jika disikapi secara positif, pandemi Covid-19 menjadi momentum besar bagi bangsa untuk melakukan transformasi besar dengan membangun budaya-b
Tokoh sufi Jalaluddin Rumi dikenal dengan karya-karya puisinya yang menakjubkan tentang Tuhan. Salah satu puisi sufi juga seolahmembangun
kan semangat di kala hati dan jiwa tertimpa kesulitan.
Jalaluddin Rumi menggambarkan bagaimana harusnya manusia menjalani kesulitan dalam ujian yang diberikan Allah. Sebab adanya ujian itu merupakan jalan untuk menguatkan bagi manusia itu sendiri. Rumi menjabarkannya dalam puisi sebagaimana berikut:
Wujud manusia adalah rumah penginapan
Setiap pagi tamu baru
Kegembiraan, kesumpekan, kekejaman
Kadang kesadaran-kesadaran sesaat tiba sebagai tamu kejutanSambut dan jamu semua jika itu tumpukan kesedihan.
Yang ganas sapu semua perkakas rumahmu
Boleh jadi ia bersihkan dirimu demi pesona baru
Kesumpekan, rasa malu, kelicikan
Songsong di pintu dengan tawa
Ajak masuk. Syukuri apa saja yang datang
Karena semua diutus
Sebagai pandu dari sana.
Jika ujian direnungkan dan diambil hikmahnya, maka kesulitan itu sesungguhnya dapat mematangkan jiwa kita, manusia. Ujian dapat memberikan pencerahan.
Keserbaadaan pada zona nyaman justru menurut Rumi dapat melenakan manusia lupa diri.
Di saat ini sedang ramai-ramainya upaya _”New Normal”_ sebagai bentuk reaksi terhadap pandemi Covid-19 demi kesehatan jasmani dan memang demikianlah seharusnya sikap dan tekad yang harus kita lakukan.
Disamping upaya jasmaniah marilah kita bertanya, “Sudah adakah upaya _”New Normal”_ agar rohani kita pun sehat dari *virus² maksiat yang merajalela hingga hampir membuat hati kita berkarat tertutup dosa*
_*Adakah yang masih memperhatikan dan mempedulikan hal ini
*Protokol NEW NORMAL yang perlu dan utama untuk kesehatan rohani kita adalah*
a. *”New Normal”* dengan *TAUBAT* sebagai landasan perubahan pola kehidupan kita yang telah banyak dan sering melenceng dari rel syariat, kembali menuju jalan yang diridlai dengan menjadi hamba-Nya yang rajin beribadah sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya saw.
b. *”Masker”* dengan *ASSHUMTU* yaitu diam, meninggalkan perkataan jelek dan tak berguna agar kita tak menulari dan tertular virus ghibah, dusta, fitnah, hoax dll.
c. *”Sanitizer”* dengan *ISTIGHFAR* kalau-kalau kita telah terkontaminasi dosa dan maksiat saat berinteraksi dengan orang lain.
d. *”Sosial Distancing”*ll dengan *SABAR*.
Menahan diri dan meninggalkan hal-hal yang tak berfaedah dan menjaga jarak dari perkara-perkara yang mengundang nafsu syahwat.
e. *”Cek Suhu”*dengan *MUHASABAH*.
Apakah ada indikasi bahwa nafsu dan emosi kita meningkat atau tak terkendali.
f. *”Rapid Test”* dengan *MUNAJAT*
Memohon petunjuk agar batin kita dibersihkan kembali jika telah terpapar sifat-sifat buruk, dengki, egois, pemarah, malas, su’udzhan dll.
g. *”Imunisasi”* dengan *DZIKIR, TILAWAH, TADARRUS Al QURAN DAN DOA* agar batin kita memiliki imunitas /kekebalan terhadap virus-virus yang dibawa oleh nafsu dan setan yang membayangi setiap langkah kita.
Semoga Allah SWT selalu melindungi jasmani dannrohani kita dari berbagai penyakit
*Selamat menjalani perubahan menuju New Normal untuk menjadi hamba-Nya yang sukses Dunia dan Akhirat*



