Prof H Agustitin: Mengambil Pelajaran dan Hikmah dari Berpuasa untuk Menggapai Jiwa Tenang , Damai dan Optimis

Prof H Agustitin: Mengambil Pelajaran dan Hikmah dari Berpuasa untuk Menggapai Jiwa Tenang , Damai dan Optimis

Menahan diri dari bergolaknya nafsu dan perang batin melawan ego dengan menjalankan ibadah puasa, tidak lain adalah untuk menghamambakan diri kepada Allah SWT. Terlebih dari iidarada ekspresi rasa syukur kita dam kehidupan ini.

Dengan melalui ragam ibadah lainnya, Allah Swt mengajarkan kepafa manusia, untuk mengungkapkan rasa terimakasih baik dari sisi pemenuhan materi maupun sisi ketenangan dan ketentraman yang jiwa kita. Ibadah tidak sekadar pemenuhan kewajiban.akan tetapi Ibadah merupakan ekspresi ketaatan kita kepada Allah Swt tanpa batas, sekaligus menjadi kepatuhan kita kepada perintahnya untuk mengabdi kepada-Nya. Dan yang terpenting ibadah merupakan upaya beribadah tanpa terikat dengan janji pahala dan surga serta ancaman dosa,.

Di era yang tidak menentu ini berpuasa telah menjadi aspek utama dalam rangkain ibadah/ berkomunikasi lansung kpd Allah Swr. Tanpa ibadah dengan tertib dan khusu’,
Jadi kita sebgai umat beranggapan begitu pentingnya berpuasa ini, bahkan berpuasa telah menjadi bagian ibadah kaum-kaum sebelum kita seperti syariat kaum dan para Nabi sebelumnya..  
Memang, puasa secara sederhana sekadar menahan lapar, dahaga, dan menjaga kemaluan. Namun, justru menahan sesuatu itu lebih membuktikan rasa syukur kita,dan rasa ingin tahu hikmah dari ber- puasa itu sejatinya membunuh persaan egoisme kita.
Sementara rasa Egoisme telah liar apabila tidak ditekan untuk tidak memenuhi keinginannya,secara bebas.
Rasulullah Saw bersabda bahwa, “Puasa adalah setengah kesabaran,” yang selaras dengan hadis, “Kesabaran adalah setengah dari keimanan.” Karena keistimewaanya di hadapan Allah SWT dibanding dengan amalan-amalan lainnya, seperti firman-Nya dalam hadis qudsi, “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjarnya secara Personal.”

Sebab, di dalam puasa manusia diuji kesabarannya. Sabar dalam menjalani perintah ketakwaan kepada Allah, dan sabar menjalankan larangan. Karena ketika puasa, hati kita senantiasa berontak mempertanyakan manfaat semua ini. Hati serasa mengajak berdebat tentang arti ibadah ini; Kenapa harus menahan? kenapa tidak boleh melakukan ini dan itu? Kenapa tak boleh makan dan minum;.

Seperti sudah di jelaskan pada tulisan terdahulu bahwa kesabaran itu ada dua: Sabar atas musibah, dan ini baik sekali. Akan tetapi, yang paling utama adalah sabar dari perbuatan maksiat. Karena yang terakhir ini pada akhirnya akan memperoleh kemenangan dan kesuksesan. Sementara pelakunya akan mendapatkan jejak-jejaknya di dunia sebelum Hari Kiamat, dan pada Hari Kiamat dia akan memperoleh pahala surga
(QS Ali ‘Imran [3]:

Berpuasa berarti menghidupkan kesabaran dalam menjalankan sifat ketakwaan sekaligus sabar dalam rangka menjaga diri dari kesatan. Dengan demikian , kita dapat megomenetralisirisme kita. Bila ego sudah di netralisir, secara tidak langsung kita telah menjaga hati dari penyakit. Karena segala penyakit hati ada dalam kendali IQ.EW ,SQ dan KQ. Maka “Berpuasalah, maka itu menyehatkan.” Sebab dengan puasa kita mampu mengendalikan aspek lahiriah dan batiniah secara bersamaan. Termasuk mengendalikan ego yang berpotensi membuat kerusakan.

Puasa Romadon dapat menjadi tolak ukur dalam memenej spiritual sekaligus moral. Aktivitas untuk merubah dan merekonstruksi jiws manusia. Dengan Berpuasa, kesadaran ketuhanan semakin tinggi, hati selalu terpaut dengan Allah, dan diamini melalui perilakunya. Optimisme, dapat membangun kepercayaan diri dalam melakukan kejujuran, dan terhindar dari bergunjing, permusuhanan, adu domba, serta menyebarkan virus perpcahan.  

Ramadan senantiasa mengantarkan umat Islam pada satu titik kesadaran insaniah sekaligus Ilahiah yang terpendam dalam batinnya. Satu bulan bulan penuh umat Islam digembleng untuk merunduk, melihat jauh ke dalam relung jiwanya dengan menggemuruhkan amalan lahir dan batin serta mengontrol diri (self-control) dari segala perbuatan tercela. Dengan harapan, selepas Ramadan katub-katub keberimanan dan ketakwaan umat semakin terbuka lebar, dan kesadaran untuk menjadi manusia yang lebih unggul.

Inti dari ketakwaan dan ketundukan umat terhadap segala pesan-pesan teologis dalam kurva terus meningkat. Karena itulah, puasa selayaknya berfungsi memancing aktivitas ibadah lainnya supaya tambah bersemangat; puasa sepatutnya menjadi motivasi bertambahnya nilai-nilai dalam segala lini kehidupan, baik yang secara langsung bersifat ukhrawi maupun yang tidak langsung. Dengan dalih kurangnya asupan makanan dari subuh hingga magrib, maka puasa menjadi ajang menikmati kemalasan. Bukan pula untuk membenarkan secara tekstual ungkapan hadis yang mengatakan bahwa “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah,”.

Puasa harus mampu memantik nilai-nilai positif dalam membangkitkan semangat kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Aktivitas ini harus dijalaninya dengan rasa penuh kesyukuran dan kebahagiaan. Karena bulan Ramadan menjadi salah satu dari keutamaan Allah SWT, maka kita pun diperintahkan untuk menyambutnya dengan segenap kegembiraan dan kesenangannya, seperti firman Allah SWT, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, selayaknyalah mereka bergembira dengan itu semua. Karena karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]:

Hadis Nabi Saw,
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya.”[1] Sebab, dia menyadari betul bahwa puasa menjadi pintu utama bagi segenap ibadah, seperti dalam sabdanya, “Setiap sesuatu memiliki pintu, dan pintu ibadah adalah puasa.”

Kesempurnaan puasa khusus: Pertama, menjaga pandangan (ghadhdhul bashar). Dalam konteks ini yaitu menundukkan pandangan dan menjaganya dari jangkauan pandangan segala sesuatu yang merendahkan dan dibenci, serta semua yang menyibukkan hati dan melalaikannya dari Allah SWT.[3] Oleh sebab mata merupakan pihak pertama yang menjadi pintu masuknya segala kebaikan dan keburukan, maka dia menempati urutan pertama yang harus dijaga. Ketika puasa, kita dianjurkan menjaganya dengan bantuan hati dan pikiran. Mata menahan, hati menguatkan, dan pikiran memberikan kontrol serta memverifikasi antara potensi merusak (mafsadat) atau manfaat.

Segala kemaksiatan bisa terlaksana. Sebaliknya, lewat kontrol mata, kebaikan dapat berlanjut dan kemaksiatan dapat digagalkan. Seseorang pun dapat mengatur hati dan pikirannya, serta bersikap abai dari pandangan orang lain,

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA