Prof H Agustitin: MARHABAN YA ROMADHON

banner post atas

Puasa di bulan Romadon merupakan salah satu kewajiban setiap muslim yang sudah baligh dan berakal.

Adapun dalil kewajiban puasa Ramadhan dalam Al-Qur’an dan hadis adalah sebagai berikut.

Dalil Al-Qur’an

Iklan

*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ*

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Imam Izzuddin bin Abdis Salam di dalam kitabnya Maqsidus Shaum menafsirkan bahwa maksud dari firman Allah swt. la’allakum tattaqun adalah agar kalian terpelihara dari panasnya api neraka dengan berpuasa.

Artinya puasa dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang dapat menjerumuskan kita ke dalam api neraka.

Sementara itu, di dalam kitab Jalalain ditafsirkan bahwa la’allakum tattaqun adalah (puasa diwajibkan) agar kalian terpelihara dari kemaksiatan-kemaksiatan. Di mana yang menjadi permulaan munculnya syahwat adalah disebabkan dari kemasiatan-kemaksiatan itu.

Dengan demikian, tujuan diwajibkannya puasa adalah agar manusia dapat menahan nafsunya dari perbuatan dosa dan kemasiatan yang dapat menjerumuskannya ke dalam api neraka.

Dalil Hadis

*عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: بُنِيَ الإِسْلامُ عَلى خَمْسٍ: شَهادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقامِ الصَّلاةِ وَإِيتاءَ الزَّكاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخاري*
Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima (pondasi), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (H.R. Al-Bukhari)

Ketika kita membaca hadis tersebut, pastinya kita akan bertanya-tanya bukankah puasa Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat.

Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima (pondasi), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.”

 
Di tahun Hijrah 1441 ini Kemenag memprediksi Ramadhan akan berlangsung serentak. Dan jika tak ada perbedaan, dinyatakan umat Islam di Indonesia mulai melaksanakan ibadah puasa 1 Ramadhan 1441 Hijriyah pada hari Jum’at tanggal 24 April 2020.

Bagi umat Islam bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nanti, bulan penuh rahmat dan ampunan. Bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk kaum muslimin, pembeda antara haq dan bathil serta penjelasan mengenai petunjuk itu sendiri. Ramadhan satu-satunya nama bulan yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, di dalamnya terdapat malam yang digambarkan lebih baik dari seribu bulan (lailatul qodar). Syahrul adzim mubarak, bulan yang agung dan berlimpah keberkahan, itulah Ramadhan.

Dengan berbagai keistimewaannya inilah kita dianjurkan bergembira dan bersukacita dalam menyambutnya. Sebab kegembiraan menyambut Ramadhan itu juga menjadi salah satu tanda keimanan seorang muslim. Ibarat akan menyambut tamu agung yang dinanti-nanti, maka kita perlu mempersiapkan segalanya dan tentu dengan senang hati menyambut datangnya.

“Katakanlah (Muhammad), Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus 10: Ayat 58)

Akan.tetapi kegembiraan tersebut sepertinya harus dilingkupi juga dengan kesedihan. Ada tamu tak diundang yang mungkin akan menemani kita selama Ramadhan nanti, bahkan beberapa bulan kedepannya.

BACA JUGA  Renungan Seorang Musafir : Syukur & Nikmat

Hampir tiga bulan sudah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) melanda dunia. Virus yang berawal dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei Cina ini dalam waktu singkat menyebar ke lebih dari 200 negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Pada 11 Maret 2020, WHO (World Health Organization) pun mengumumkannya sebagai pandemi global. Pemerintah Indonesia meresponnya dengan menyatakan status Bencana Nasional dan kemudian mengeluarkan aturan sosial distancing (diubah jadi physical distancing) guna mencegah penularan lebih masif. Kampus dan sekolah-sekolah mengalihkan proses belajar menjadi sistem daring, sejumlah perusahaan dan instansi menugaskan karyawan atau pegawainya untuk bekerja dari rumah. Dunia seakan “diistirahatkan” dengan adanya pandemi Covid-19 ini, manusia tidak dapat beraktivitas.

Data WHO hingga Selasa, 7 April 2020, ada 1,35 juta orang di dunia terinfeksi, 287.679 sembuh, dan 74.870 orang diantaranya meninggal dunia. Sedangkan di Indonesia sampai 7 April 2020, tercatat 2.738 kasus dengan 204 sembuh dan 221 orang meninggal dunia. Data ini menunjukkan kenaikan angka yang begitu drastis, sejak dua pasien pertama virus Covid-19 di Indonesia diumumkan oleh Presiden.

Kabar yg kurang baik ini, terlebih bagi umat Islam di Indonesia maupun di seluruh dunia yang berharap dapat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan ketenangan dan kekhusyuan.

Dalam menyambut Ramadhan ini, dilandasi oleh AL QURAN SUROH AL BAQOROH AYAT 183 YANG BERART:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

Di tengah situasi sulit seperti ini kita tetap harus mempersiapkan diri dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Menyambut yang dimaksud sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Siti Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sebulan penuh selain puasa Ramadhan, dan aku juga tidak pernah melihat beliau begitu banyak berpuasa selain pada bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, dalam menyambut Ramadhan kita dapat melakukan berbagai persiapan. Sebab Ramadhan adalah momentum olah jiwa tahunan (riyadhah tsanawiyah), dimana ada dua dimensi yang dibentuk disini, yaitu ruhiyah dan jasadiyah. Pertama, dimensi ruhiyah yang mencakup segala hal tentang semangat dan ketaatan dalam beribadah (sholat, tilawah, dzikir, dll). Kedua, dimensi jasadiyah yang menguji ketahanan fisik, dengan adanya larangan makan dan minum dari mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari di waktu maghrib.

Persiapan fisik dapat dilakukan diantaranya dengan mengatur pola hidup sehat, rajin berolahraga, makan yang sehat dan bergizi, istirahat cukup, dan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban ini, agar saat Ramadhan nanti langsung terbiasa. Selain itu mempersiapkan mental juga penting, dengan memperdalam ilmu agama, terutama berkaitan tentang Ramadhan, lalu membuat targetan amalan yang akan dikerjakan selama Ramadhan nanti

Karena Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya banyak keutamaan dan melimpah keberkahan, sayang jika dilalui begitu saja tanpa produktivitas tinggi yang penuh arti. Membaca buku, menulis, mendengar tausyiah, podcast, mengikuti kajian daring, membuat kerajinan tangan, dll. bisa menjadi alternatif untuk mengisi waktu selama Ramadhan #DiRumahAja, tentu yang paling utama memperbanyak amal ibadah kepada Allah. Dengan ruang terbatas di tengah pandemi Covid-19 bukan menjadi alasan untuk kita melakukan banyak kemalasan dan kemubadziran.

BACA JUGA  Idgham (ادغام)

Apalagi jika kita berkaca pada sejarah, banyak peristiwa besar dalam peradaban umat Islam terjadi di bulan Ramadhan. Perang Badar pada tanggal 17 Ramadhan 2 Hijriyah, pertempuran kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy, yang dimana dengan rasio kekuatan 1/3 dari musuh, umat Islam mampu memenangi pertempuran tersebut. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana sebuah pasukan yang sedang berpuasa bisa terus berperang mengangkat pedang. Bahkan memenangkan pertempuran yang sama sekali tidak seimbang. Namun itulah janji Allah, Tuhan yang tidak pernah ingkar akan janji-Nya.

Lalu peristiwa Fathu Makkah (pembebasan Kota Mekkah) dari kaum kuffar pada tanggal 10 Ramadhan 8 Hijriyah, dan yang tak kalah heroik kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi pada perang salib “Battle of Hattin” di Palestina yang bertepatan dengan tanggal 26 Ramadhan. Di Indonesia Ramadhan juga bulan bersejarah karena proklamasi kemerdekaan jatuh pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 yang bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 Hijriyah. Ini artinya puasa di bulan Ramadhan bukan alasan untuk malas berpikir maupun bertindak.

Dan jika kita merujuk kembali pada ayat di atas, QS. Al-Baqarah : 183. Perintah berpuasa sesungguhnya bukan titah biasa. Kata amanu di ayat tersebut merupakan panggilan khusus bagi mereka yang mengaku dirinya beriman. Ini berbeda dengan lafadz lain semisal ayuha an-naas (wahai manusia), yang merupakan seruan umum kepada semua umat manusia. Karenanya, dengan berpuasa, kita pun sebenarnya telah mengaku diri sekaligus membuktikan sebagai orang yang beriman.

Sekali lagi, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan pahala kebaikan, dimana untuk mendapat pahala tersebut kita harus menguatkan iman kita, agar bisa melakukan banyak amalan kebaikan. Melakukan ibadah, baik yang wajib maupun sunnah, mulai dari sholat wajib, tarawih, tilawah, dzikir, sedekah, dan memperluas wawasan keislaman. Dimana tujuan akhir dari itu semua adalah untuk mencapai derajat takwa (la’allakum tattaquun). Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu mari kita selaku kaum muslimin senantiasa membersihkan jiwa maupun raga. Dengan terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Jadikan bulan Ramadhan kali ini sebagai momentum refleksi dan muhasabah diri atas apa yang dilakukan sebelas bulan kebelakang. Dan barangkali dengan adanya wabah ini Allah mengisyaratkan kaum muslimin untuk lebih banyak waktu dalam mendekatkan diri dan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Mari kita berdo’a semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu, agar kita bisa menjalani Ramadhan dengan tenang dan khusyu. (*)
*Selamat.Menunaikan ibadah puasa di Bulan Romadon 1441H,*
*SMG CAHAYA ILLAHI ROBBI SENANTIASA MENERANGI JALAN HIDUP KITA*