Prof Dr Harapndi Kisah berseri: Kampoeng Semat  

Prof Dr Harapndi Kisah berseri: Kampoeng Semat  

Seandainya bukan karena tuntutan perjuangan, aku tidak akan meninggalkanmu, engkaulah kampoeng yang telah menerimaku dan engkaulah yang mengajarkanku makna kehidupan 

 
Semat menurut cerita tetua kampoeng berasal dari kata “simat” sama dengan “alâmât” yang berarti “tanda” dalam bahasa arab. Dalam nama ini terdapat beberapa cerita heroic terkait dengan keberadaan masa lalu kampoeng semat.

Salah satunya adalah dulu pernah terjadi seorang penjahat dari sebuah kampoeng lain mencari (memeta:lombok) seorang lelaki (musuhnya) diperkirakan bersembunyi di kampoeng semat.
Lalu lelaki itu berangkat menuju kampoeng semat, jarak (masafah) letak kampoeng semat tidak terlalu jauh dari kampoeng penjahat tersebut, namun setelah menempuh perjalanan dan kakipun terasa letih ia baru tersadar bahwa kampoeng semat yang dituju telah dilewatinya.  
Akhirnya ia mencoba berbalik arah menyusuri pematang sawah, ajaibnya kampoeng yang dicaripun tak kunjung ditemukan, setiap orang yang ditanya memberikan petunjuk arah bahwa dirinya telah melewati kampoeng yang dimaksud.
Merasakan kemusykilan dan keanehan, iapun memutuskan untuk tidak meneruskan pencariannya, selamat dan amanlah lelaki (musuh) yang dicarinya tersebut.

Dari cerita ini tersimpan pesan (massage) bahwa, perangai jahat yang dipenuhi emosi tak akan dapat melihat jalan lurus yang terhampar dihadapannya, selalu ada ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Sedangkan orang baik akan mendapatkan perlindungan dari Allah, kejahatan pasti dapat dikalahkan oleh kebaikan.

Karena itu, jadilah orang terbaik, jika ada salah dan khilaf terjadi pada orang lain memaafkan merupakan solusi terindah. Allah lebih suka kepada orang-orang yang memberi maaf dibandingkan mereka yang selalu menuntut balas terhadap perkara yang tejadi. Waan Ta’fuu Aqrabu li al-Taqwa (al-Baqarah/2:237).

Diceritakan bahwa Maulana Syaikh –panggilan akrab para murid dan pengikut– untuk Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri Organisasi Nahdlatul Wathan wa Nahdlatul Banat, telah berkata bahwa kampoeng Semat merupakan sebuah “mercu tanda” keberagamaan penduduknya, mereka (para penduduk) kampoeng ini taat beribadah dan mudah menerima dakwah dari para da’i. Akan muncul (lahir) dari kampoeng ini seorang anak laki-laki yang akan menjadi mercu-tanda “simat” keberhasilan dan kecemerlangan dari penduduk kampoeng ini.

Apakah mercu-tanda yang dimaksud sudah ada (lahir?), wallahu a’lamu bi al-Shawab.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA