Prof Dr Harapandi :Sedih, Gelisah dan Khawatir

banner post atas

Sadar, bahwa alamat yang dituju sudah terlewati, tiada cara lain kecuali kembali menyusuri pinggir jalan yang telah dilalui dengan berjalan kaki. “Tersesat” jalan akibat kelalain sopir angkot adalah salah satu cara Allah memberikan ujian dan cobaan terhadap kesabaran hambaNya dalam perjuangan. 

Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian
Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Kedua bait syair (pepatah) indonesia ini sangat populer terkait dengan pola dan cara membina kehidupan. Ketika hidup dijalankan dengan penuh kesabaran, kekuatan dan kegigihan, maka keberjayaan akan menjumpai kita, namun saat bermalas-malasan dalam mengarungi lautan kehidupan maka tunggulah kegagalan akan menghampiri kita.

Iklan

Seirama dengan kalimat syair tersebut, kata-kata bijak pun ada yang menjelaskan cara hidup yang akan membawa keberuntungan;

Man sabara najaha waman ghafala fasyala (sesiapa yang tetap bersabar dengan segala cobaan berjaya dan sesiapa yang selalu merasakan kenikmatan, kemudahan pasti akan gagal).

Selangkah demi selangkah kaki terayun dengan pasti walau alamat yang dicari belum tahu masih jauh ataukah sudah dekat, langit seakan-akan ikut bersedih, mendung hitam pertanda hujan akan segera turun. Hatipun terasa semakin gelisah, bagaimana kalau hujan benar-benar turun, dimana akan berteduh dan yang paling mengkhawatirkan hari semakin sore, apa yang akan terjadi jika sampai malam alamat tak kunjung dijumpai.
Sambil berjalan mulut dan hati dipadukan seraya bermunajat;
“Ya Rabb, Engkau Maha Mengetahui apa yang sedang terjadi pada hambaMu, dekatkanlah yang jauh dan berilah petunjukmu ke arah yang dituju”.
Di tengah kegelisahan, dipenghujung jembatan kampung midang-gunung Sari terlihat satu bangunan kecil sepertinya tempat istirahat dan salat bagi orang yang belum salat. Tempat tersebut dikenal dengan nama “wakaf” yakni tempat berhenti sejenak untuk melakukan ibadah salat atau meluruskan kaki saat penat dalam perjalanan.
Melihat bangunan kecil seakan-akan seseorang sedang melambaikan tangannya seraya berkata; datanglah kemari, lalu kaki yang sudah terasa penat diarahkan untuk menuju bangunan wakaf tersebut. Setelah sampai, lalu menuju ke sebuah kolam untuk mengambil air sembahyang. Selepas menjalankan ibadah salat sunnat, Allah mengirimkan malaikat penyelamat, seorang lelaki dan bertanya darimana asal dan kemana tujuanmu?.
Menangkap isi pertanyaan yang begitu meyakinkan, dalam hatiku berkata, Ya Rabb, Engkau telah mengijabah doa-doaku – memang sepanjang perjalanan mulut dan hatiku seirama memanjatkan doa kepada Rabb agar ditunjukkan jalan kepastian dan dipertemukan dengan ayahanda–.
Setelah pertanyaan beliau terjawab, iapun selain menujukkan arah tujuan dengan jelas, beliau memberikan 2000 rupiah untuk membeli makanan dan minuman. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, hatiku tiada pernah alfa bersyukur memuji kebesaran Ilahi yang telah mengabulkan dengan segera doa-doa suci yang terpanjatkan, juga ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada lelaki suruhan Allah untuk memberikan kejelasan arah dan tujuan hingga ayahanda dapat ditemui.
Maha benar Allah dengan segala firmanNya;
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (غافر/٤٠: ٦٠)

Terjemahannya: Dan Tuhanmu berfirman “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Melihat ayat al-Qur’an tersebut bahwa tidak ada doa yang dipanjatkan tidak diijabah Allah, namun yang paling penting ialah memahami makna “istijabah” (keterkabulannya) doa.

Allah Maha Mengetahui apa-apa yang layak dan baik untuk hambaNya, karena itulah tidak semua yang kita persepsikan layak akan dikabulkan, bisa jadi dalam pandangan Allah apa yang kita inginkan tidak sesuai atau akan memudlaratkan diri kita sebagai hambaNya.

20 menit dari “wakaf” tempat lelaki kiriman Allah memberikan arah rute perjalanan, destinasi yang ditujupun dapat ditemukan. Al-hamdulillah wa al-Syukru lillah.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, ucapan salamku arahkan kepada sekumpulan orang yang sedang bekerja. Terdengar suara jawaban yang sangat aku kenal, dialah suara ayahku, dengan sigap tangan ayah ku pegang lalu aku menciumnya, sebagai tanda syukur tiada terhingga telah dipertemukan Allah di tempat tersebut.

Tidak lama, setelah perjumpaanku dengan ayah, beliau membawa diriku ke satu ruangan yang tertata rapi, di ujung meja duduk seorang lelaki setengah baya, ayahku memanggilnya “Mamiq”, yah “Mamiq” dialah yang memiliki tempat (rumah) dimana ayahku bekerja.

Sambutan hangat Mamiq dan pada akhirnya aku kenal bernama Haji Awwaluddin itu membuat rasa penat dan letih akibat perjalanan terobati. Beliau membawaku ke sebuah kamar seraya berkata;”Inilah kamarmu, tidak usah mengganggu kamar ayahmu”.

Spesial, kamar yang indah, ya sangat indah, jika dibandingkan dengan rumahku di lombok timur, jangankan kamar, tempat tidurpun belum pernah dimiliki. Pemisahan kamar dengan ayahku memiliki makna dan tujuan, Mamiq memintaku selain bekerja sebagai tukang Cat “pengecat” kursi, bangku-bangku dan meja sekolah juga untuk mengajarkan putra putri beliau (Irsyad dan Indar) membaca al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama.

Alhamdulillah tiada henti aku panjatkan, nikmat Allah sangat banyak tak terhitung jumlahnya, dalam firman Allah ditegaskan bahwa;

Seandainya engkau menghitung-hitung nikmatKu, niscaya engkau tidak akan dapat menghitungnya”. (QS. Ibrahim:34).

Karena begitu banyak nikmat Allah yang telah dibagi kepada kita, sehingga tidak mampu kita menghitungnya. Bahkan tiada syukur terhadap nikmat Allah menjadi tanda ketidak sempurnaan iman seorang mukmin.

Dua tahun 1882-1984 kerja sebagai pengecat bangunan, kursi, meja dan dinding-dinding sekolah dijalankan, akhirnya Mamiq Haji Awwaluddin memanggilku ke dalam ruangannya dan bertanya, uang gajimu selama dua tahun ini mau diapakai untuk apa?, akan diapakai untuk biaya sekolah seruku. Memang selama dua tahun kerja tidak pernah mengambil upah pekerjaan, disimpan di Mamiq Haji Awwaluddin.

Setelah uang gaji diterima dari Mamiq, lalu aku minta kepada ayahku untuk mendaftarkanku sekolah di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Pancor Lombok Timur.