POTRET YAYASAN MI`RAJUSH SHIBYAN NW PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN JAKARTA, Prinsip-Prinsip Dan Ciri Khas Pendidikan Pesantren. Oleh : H.Muslihan Habib

banner post atas

Nurcholish Madjid, menjelaskan bahwa setidaknya ada dua belas prinsip yang melekat pada pendidikan pesantren, yaitu: (1) teosentrik; (2) ikhlas dalam pengabdian; (3) kearifan; (4) kesederhanaan ( sederhana bukan berarti miskin); (5) kolektifitas (barakatul jama’ ah) ; (6) mengatur kegiatan bersama; (7) kebebasan terpimpin; (8) kemandirian; (9) tempat menuntut ilmu dan mengabdi 9) thalabul ‘ilmi lil ‘ibadah; (10) mengamalkan ajaran agama; (11) belajar di pesantren untuk mencari sertifikat /ijazah saja; dan (12) kepatuhan terhadap kyai.

Melihat prinsip-prinsip yang khas di atas, maka tidak tepat kiranya jika ada orang yang menilai pesantren dengan tolok ukur atau kacamata non pesantren. Misalnya, dalam prestasi akademik, pesantren selalu identik dengan nilai-nilai moral dan etik. Kualitas prstasi santri sering diukur dengan tolok ukur akademik dan kesalihan (kualitatif), bukan indikator-indikator kuantitatif.
Lembaga yang disebut pondok pesantren ini, dikenal sebagai lembaga yang memiliki keunikan, dibandingkan dengan lembaga-lembaga lainnya, sehingga sampai saat ini para pakar tidak henti-hentinya melakukan berbagai upaya pengkajian dari berbagai aspeknya, tetapi seakan tidak pernah terselesaikan. Para pakar menyebut Pesantren memiliki ciri khas dalam berbagai bentuk kesederhanaan hidup, kesederhanaan pada bangunan-bangunan fisik lingkungan pesantren, kesederhanaan cara hidup para santri, kesederhanaan dalam berpakaian, kepatuhan mutlak santri terhadap kiyai, dan dalam hal pengajaran-pengajaran kitab klasik abad pertengahan dan lain-lainnya. Spesifikasi tersendiri seperti ini, disebut sebagai keunggulan dan ciri khasnya pesantren yang tidak dimiliki oleh lembaga lainnya.

Untuk lebih jelasnya, maka dapat di identifikasikan cirri-ciri khas pendidikan pesantren itu adalah sebagai berikut:
Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai. Kyai sangat memperhatikan santrinya. Hal ini dimungkinkan karena mereka sama-sama tinggal dalam satu kompeks dan sering bertemu baik disaat belajar maupun dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan, sebagai santri diminta menjadi asisten kyai yang disebut badal (Pengganti) atau juga khadam (pembantu).
Kepatuhan santri kepada kyai. Para santri menganggap bahwa menentang kyai, selain tidak sopan juga dilarang agama, bahkan terancam untuk tidak memperoleh berkah karena dianggap durhaka kepada sang guru.

Iklan
BACA JUGA  Perkuat Silaturrahim antar Alumni, IKAMAH NW Gelar Reuni & Konsolidasi Kader

Hidup hemat dan sederhana benar-benar diwujudkan dalam lingkungan pesantren. Hidup mewah hampir tidak di dapatkan dalam pesantren. Bahkan sedikit santri yang hidupnya terlalu sederhana atau terlalu hemat sehingga kurang memperhatikan pemenuhan gizi.
Kemandirian amat terasa dipesantren. Para santri mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar tidurnya sendiri dan memasak sendiri.
Jiwa tolong-menolong dan suasana persaudaraan ( ukhuah Islamiyyah) sangat mewarnai pergaulan di pesantren. Hal ini disebabkan selain kehidupan merata dikalangan santri juga karena mereka harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sama, seperti shalat berjamaah, membersihakn masjid dan ruang belajar bersama.

Disiplin sangat dianjurkan. Untuk menjaga kedisiplinan ini pesantren biasanya memberikan sangsi-sangsi edukatif.
Keprihatinan untuk mencapai tujuan mulia. Hal ini sebagai akibat kebiasaan puasa sunnah, zikir, dan i’tikaf, shalat tahajjud, dan bentuk-bentuk riyadloh lainnya atau meneladani kyainya yang mernonjolkan sikap zuhud.
Pemberian ijazah, yaitu pencantuman nama dalam satu daftar rantai pengalihan pengetahuan yang diberikan kepada santri-santri yang berprestasi. Ini menandakan perkenan atau restu kyai kepada murid atau santrinya untuk mengajarkan sebuah teks kitab setelah dikuasai penuh.

Beberapa Ciri-ciri pesantren yang penulis sebutkan diatas menggambarkan pendidikan pesantren dalam bentuknya yang masih murni (tradisional), sehingga dapat disebut pesantren saat ini, telah mengalami pergeseran dan cukup beragam. Ppenampilan pendidikan pesantren sekarang yang cukup beragam ini, merupakan akibat dinamika dan kemajuan zaman yang telah mendorong terjadinya pergeseran dan perubahan terus-menerus, sehingga lembaga tersebut melakukan berbagai adopsi dan adaptasi sedemikian rupa. Tegasnya, ciri-ciri pendidikan pesantren tradisional seperti yang di jelaskan diatas, akan sedikit berbeda, jika dilekatkan dengan pesantren-pesantren yang telah mengalami pembaharuan dan pengadopsian sistem pendidikan modern saat ini.