POTRET YAYASAN MI`RAJUSH SHIBYAN NW PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN JAKARTA Oleh : H.Muslihan Habib ( Bagian 2)

0
64
banner post atas

PENDAHULUAN

Lembaran sejarah di negeri ini telah mencatat bahwa lembaga pondok pesantren disamping berhasil mencetak kader-kader ulama, juga telah banyak berhasil mencetak dan melahirkan pemimpin masyarakat dan bangsa yang mumpuni dalam intlektualitas dan spiritualitas. Banyak pondok pesantren menjadi harum lantaran kesuksesan dan keberhasilannya dalam mencetak santri atau muridnya menjadi pemimpin bangsa. Oleh sebab itu, keberadaan dan kontribusi pondok pesantren di negeri ini, sejak dahulu sampai saat sekarang ini telah banyak berperan aktif dan memberikan andil besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memperbaiki mental bangsa dan telah menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bertabat di mata dunia.

Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes), yang selanjutnya istilah ini pameliar dengan pesantren, merupakan lembaga pendidikan Islam yang dibangun dalam perpaduan tradisi intlektual Islam dengan budaya nusantara. Dalam konteks lembaga pendidikan di Indonesia, Pesantren disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia dan dianggap sebagai produk budaya Indonesia yang indigenous. Lembaga pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara pada abad ke-13. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian dan mendirikan tempat-tempat penginapan bagi para pelajar atau santri yang disebut pondok. Meskipun pesantren dengan bentuknya yang masih sederhana, namun demikian pesantren saat itu merupakan satu-satunya institusi pendidikan yang terstruktur, sehingga pendidikan ini dianggap sangat bergengsi.

Iklan

Dalam sejarah dan perkembangannya, lembaga pesantren semakin berkembang secara cepat dengan adanya sikap non-koopratif ulama terhadap kebijakan “Politik Etis” pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke- 19. Kebijakan pemerintah kolonial ini dimaksudkan sebagai balas jasa kepada rakyat Indonesia dengan memberikan pendidikan modern, termasuk budaya Barat. Namun pendidikan yang diberikan adalah sangat terbatas, baik dari segi jumlah yang mendapat kesempatan mengikuti pendidikan maupun dari segi tingkat pendidikan yang diberikan. Sikap non-koopratif dan silent opposition para ulama itu kemudian ditunjukkan dengan mendirikan pesantren di daerah-daerah yang jauh dari kota untuk menghindari intervensi pemerintah kolonial, disamping bertujuan memberikan pendidikan pada masyarakat bawah, sehingga dari sisi inilah, pesantren mendapat sebutan lembaga pendidikan grass root people.
Dalam sejarah dan perkembagannya, pesantren yang sejarahnya di kenal mulai muncul sejak awal penyiaran Islam di Indonesia ini, umumnya didirikan oleh para ulama secara mandiri, sebagai bentuk tanggung jawab dan ketaatannya kepada Allah Subhaanahu wa ta`ala untuk mengajarkan dan mendakwahkan ilmunya kepada umat. Oleh sebab itu, eksistensi pesantren dapat dikatakan sebagai pusat pendidikan dan pendalaman ilmu pengetahuan agama (tafaqquh fiddin), sebagai pusat dakwah Islam serta pusat pengembangan masyarakat. Dari pesantren inilah, kemudian lahir para kader ulama, guru agama, muballigh yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dan tidak hanya itu, tapi dari pesantren lahirlah generasi islami, tunas-tunas agama dan negara dalam menjalankan tugas sebagai abdullaah wa khalifah fi al-Ardh.

Dalam konteks ini, sebagai basis argumentasinya adalah firman Allah Subhaanahu wa ta`ala dalam al-Qur`an surat at-Taubah (9): 122 ;
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya “. ( Q.S. At-Taubah (9): 122)
Lembaga yang disebut pondok pesantren, dikenal sebagai lembaga yang memiliki keunikan, dibandingkan dengan lembaga-lembaga lainnya, sehingga sampai saat ini para pakar tidak henti-hentinya melakukan berbagai upaya pengkajian dari berbagai aspeknya, tetapi seakan tidak pernah terselesaikan. Para pakar menyebut Pesantren memiliki ciri khas dalam berbagai bentuk kesederhanaan hidup, kesederhanaan pada bangunan-bangunan fisik lingkungan pesantren, kesederhanaan cara hidup para santri, kesederhanaan dalam berpakaian, kepatuhan mutlak santri terhadap kiyai, dan dalam hal pengajaran-pengajaran kitab klasik abad pertengahan dan lain-lainnya. Spesifikasi tersendiri seperti ini, disebut sebagai keunggulan dan ciri khasnya pesantren yang tidak dimiliki oleh lembaga lainnya.

Oleh sebab itu, di dunia pesantren terkenal istilah Panca Jiwa Pondok Pesantren, yaitu Jiwa Keikhlasan, Jiwa Kesederhanaan, Jiwa Ukhuah Islamiyyah, Jiwa Kemandirian dan Jiwa Bebas. Selain itu pula, para pakar menyebutkan juga tentang kekhususan yang terdapat dalam Pondok Pesantren. Dengan kekhususan tersebut, seolah sebuah lembaga pesantren baru “sah” disebut sebagai sebuah Pondok Pesantren, apabila ada di dalamnya “rukun” yang lima, yaitu; Kyai, Santri, Masjid, Pondok (asrama) dan Pengajian Kitab Kuning (turats).
Dengan memerhatikan pesantren yang memiliki potret seperti diatas, maka selanjutnya lembaga ini di sebut sebagai lembaga pendidikan yang bercirikan tradisional atau salafiyah. Namun demikian, pada dasarnya penyebutan ciri pesantren yang bersifat tradisional tersebut tidak perlu dirisaukan dan apalagi bermaksud untuk dihilangkan, karena ternyata ciri khas seperti inilah yang sebenarnya menjadikan salah satu rahasia sukses pendidikan di institusi ini.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa keikhlasan kyai sebagai ulama pemimpin pesantren, ketundukan santri pada kyai, ustadz atau ustazh, pembelajaran dengan sistim sorogan dan bandongan, kesederhanaan tempat tinggal, kesederhanaan dalam berpakaian, kesederhanaan dalam makan dan minum dan lain-lainya dalam berbagai aspek kehidupan pesantren, maka semua itu pada dasarnya adalah merupakan modal dasar dalam pendidikan pada lembaga pesantren yang secara tidak langsung mengarah pada kecerdasan spiritual dan emosional santri, yang dominan juga mengarah pada kesuksesan menjadi seorang pemimpin kelak setelah berkiprah dan terjun pada masyarakat.
Dalam konteks ini, penyebutan tradisional dalam pesantren disini, sebenarnya bukanlah berarti kolot atau ketinggalan zaman (out of date), tetapi menunjuk pada pengertian bahwa lembaga ini adalah sarat dan melekat dengan ciri-ciri kesederhanaannya serta telah hidup sejak ratusan tahun yang lalu, sehingga menjadi bagian dari sistem kehidupan sebagaian besar umat Islam Indonesia.

Selain itu pula, Pesantren merupakan sub sistem tersendiri yang menjadikan Kyai sebagai figur sentral dan seluruh warga pondok merupakan satu kesatuan sistem tersebut. Aktivitas Pondok Pesantren adalah merupakan pelaksanaan aturan-aturan yang mengikat seluruh warga pondok, sehingga pembelajaran terjadi secara holistik dan komprehensip. Pembelajaran di Pesantren, tidak hanya dalam bentuk pembeljaran di kelas saja, tapi juga yang terkait dengan hubungan timbal balik antara Kiyai atau Ustadz dengan santri. Demikian juga antara sesama santri atau pelajar dan bahkan kepada warga pesantren secara keseluruhan. Model lainnya yang tak kalah pentingnya yang merupakan kekuatan pondok adalah metodelogi pembelajaran seperti halaqah, sorogan, bandongan dan watonan yang mengarah pada pembelajaran tuntas (mastery learning).
Alhasil, dalam perkembangannya, sampai saat ini pesantren masih mampu memertahankan eksistensinya berdampingan dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya dalam upaya memberikan kontribusi dan pelayanannya dalam bidang pendidikan bagi anak bangsa atau umat, khususnya umat Islam di Indonesia. Sistem pendidikan dan metode pembelajaran dengan berbagai modifikasi modern yang dilakukan saat ini, tidaklah menjadikan lembaga tersebut surut dan kehilangan identitasnya, justru makin eksis dalam berkompetisi.

Selain itu pula, dalam perkembangan dewasa ini, umumnya pesantren telah mengarah pada relevansi tuntutan perkembangan dan kemajuan zaman, dengan menawarkan konsep keterpaduan dalam sistem pembelajarannya, materi/kurikulumnya. Konsep keterpaduan seperti ini, diharapkan dan bertujuan agar para lulusan (mutkharrijin)-nya dapat berkompetisi pula dalam menghadapi persaingan gelobal yang semakin kompleks. Oleh sebab itu, pendidikan keterampilan juga mendapat perhatian di berbagai pesantren, guna membekali para santri untuk pegangan hidup masa depan (life skiil). Untuk pendidikan keterampilan pada umumnya disesuaikan dengan keadaan dan potensi lingkungan pesantren, seperti keterampilan bidang pertanian, peternakan, perkebunan, pertukangan, perdagangan, otomotif dan lain-lainnya.
Konsep keterpaduan seperti inipun, sebenarnya akan melahirkan kesuksesan yang lebih paripurna dan lebih gemilang lagi, karena dengan keterpaduan tersebut akan memperkuat dan menyempurnakan potensi awal yang dominan pada pesantren, sehingga out put-nya pun, akan lebih tersetruktur mengarah pada integritas kecerdasan intlektual, spiritual dan emosional santri.

Dewasa ini pun dalam realita dan perkembangannya, pesantren yang menkombinasikan sistem tradisional dengan sistem modern dalam kepesantrenan, ternyata hal inipun dapat melahirkan dan meningkatkan kualitas dan daya saing tersendiri bagi sebuah pesantren dalam berkompetisi dengan lembaga-lembaga pendidikan di luar pesantren dan juga antar pesantren-pesantren lainnya.
Selanjutnya dalam konteks Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang embrionya muncul sejak tahun 1987 adalah merupakan salah satu pesantren yang ada di tengah ibu kota Jakarta yang eksistensinya mengarah dalam mengintegrasikan dan mengkombinasikan sistem pendidikan tradisional dan modern. Hal ini dapat dilihat dari model pesantren yang berbais pada lembaga pendidikan atau sekolah. Lalu, setiap lembaga pendidikan yang ada dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang bernaung pada Yayasan Mi`rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta ini, dari sisi visi dan misinya secara profesional adalah mengarah pada membangun Sumber Daya Manusia (SDM) kualipurna yang bercirikan pada kompetensi yang mumpuni dalam potensi intlektual, spiritual dan emosional yang terintegritas.

Selain itu, untuk pondok pesantren Nahdlatul Wathan ini tidaklah sebuah pesantren yang hanya fokus terhadap aspek pendidikan saja, tapi juga fokus dan berperan aktif dalam aspek sosial dan dakwah Islamiyah. Oleh sebab itu, keberadaan dan kehadiran pesantren ini di tengah-tengah masyarakat adalah cukup efektif untuk berperan sebagai perekat hubungan dan pengayom masyarakat, baik pada tingkatan lokal, regional dan nasional.
Dalam sejarah lahirnya pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta disebut oleh pendirinya lahir tanpa direkayasa. Disebut demikian, karena dalam pendiriannya tidak pernah ada konsep secara matang, terukur dan terencana yang mengarah pada pendirian sebuah pondok pesantren yang ideal. Lalu muncul dan berkembang secara alami dan bertahap dengan mendapatkan sambutan dan dukungan yang penuh dari berbagai pihak dan kalangan masyarakat luas. Hal ini terjadi, karena kiprah pesantren ini, ternyata sangat erat dengan semua kalangan masyarakat.
Untuk Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta dapat disebut sebagai sebuah Pondok Pesantren yang berbasis sekolah dan masyarakat. Di dalamnya telah berdiri berbagai macam lembaga formal dan non formal dari tingkat Taman Kanak-Kanak Islam Nahdlatul Wathan (TKI-NW), Sekolah Dasar Islam Nahdlatul Wathan (SDI-NW), Sekolah Menengah Pertama Nahdlatul Wathan (SMP-NW), Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Diniyah Islamiyah Nahdlatul Wathan (MDI-NW), Panti Asuhan Nahdlatul Wathan (PA-NW), Majlis Dzikir dan Wirid, Majlis Taklim Nahdlatul Wathan (MT-NW), pertanian, peternakan dan beberapa lembaga informal lainnya yang berfungsi sebagai wahana membangun umat.

Disamping itu, keberadaan pesantren Nahdlatul Wathan sebagai sebuah lembaga pendidikan adalah sangat penting sekali dalam peran sertanya sebagai lembaga pembangun Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkarakter dan bertanggung jawab dengan mengedepankan sinerginya kualitas Akademik, Emosional dan Spiritual.
Tidak kalah pentingnya juga, bahwa Pesantren yang satu ini, tidak pernah lepas dari peran sosialnya dalam membantu pemerintah. Sejak berdiri pada tahun 1987 yang silam dan sampai saat ini tidak ketinggalan mengambil bagian dalam mengelola dan mengasuh anak-anak yang terlantar dari kalangan Anak-anak Yatim, Yatim Piatu dan Pakir Miskin yang jumlahnya sangat signifikan. Mereka semua ditampung dan dididik dengan tinggal di pesantren sampai dapat menyelesaikan pendidikan Sekolah Menegah Atas (SMA). ( Bersambung)