POTRET YAYASAN MI`RAJUSH SHIBYAN NW PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN JAKARTA Oleh : H.Muslihan Habib. Pondok Pesantren Lahir Dengan Motivasi Perjuangan

banner post atas

Menyaksikan perkembangan terkini (tahun 2019) pada pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang dibangun di atas tanah waqaf seluas 5000 m2 dengan fasilitas gedung yang sudah mulai megah dan permanen serta sarana pesantren lainnya yang sudah mulai memadai, tidaklah di bayangkan seperti membalik telapak tangan, tapi tentunya semua itu telah melalui proses berat dan panjang dalam berjuang mengembangkannya. Dalam catatan sejarah para pendirinya, menceritakan bahwa di awal berdirinynya pondok pesantren ini, sungguh telah melalui proses panjang yang tidaklah lepas juga dari berbagai rintangan, ujian dan cobaan serta berbagai macam bentuk lika-liku pait dan manisnya perjuangan yang pernah dialaminya.

Kemajuan dan kesuksesan pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang sudah mulai nyata saat ini, tidaklah terlepas dari keikhlasan pendiri dan pimpinan serta teman-teman seperjuangan yang terlibat di dalamnya. Membangun pesantren ini, lebih di dorong oleh dedikasi dan motivasi perjuangan serta pengabdian yang tinggi dalam rangka menegakkan kalimat (agama) Allah, memuliakan Islam dan kaum muslimin, melalui organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang telah didirikan oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Secara embriotik, sejarah muncul dan lahirnya pesantren ini, tidaklah lepas dari sejarah awal terdamparnya pendiri pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi bersama teman-teman di tanah Betawi Jakarta yang terjadi pada akhir tahun 1979.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada awal kelahiran pesantren ini, Kyai Haji Muhammad Suhaidi bersama teman-teman seperjuangan dan jama`ahnya, mencoba merintis dan membangun sebuah pengajian al-Qur`an dan pengajian majlis taklim dari rumah ke rumah penduduk. Namun demikian, suatu hal yang tidak pernah diprediksi sebelumnya, dimana dalam perkembangannya, kegiatan pengajian al-Qur`an dan pengajian majlis taklim ini berujung dan mengarah pada lahirnya sebuah pondok pesantren yang kemudian dinamakan dengan nama pondok pesantren Nahdlatul Wathan. Sebuah nama pesantren yang dilekatkan pada nama organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikan oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Dalam membangun dan mengembangkan pesantren ini, al-Ustadz H.Muhammad Suhaidi sebagai pendiri dan teman-teman seperjuangannya, boleh dikatakan hanya bermodal motivasi dan semangat perjuangan. Hal ini, karena diawal lahirnya pesantren ini, tidaklah dengan persiapan dan perencanaan yang terukur dan matang. Dan memang, diawal pendirian dan bahkan dalam proses pengembangannya, ternyata tidaklah beliau memiliki persiapan berupa budget (anggaran) modal yang memadai secara material.

Iklan

Oleh sebab itu, penulis dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa dalam sejarah awal berdiri dan pengembangan pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini oleh pendirinya adalah lebih didasarkan dan di motivasi oleh semangat perjuangan untuk membangun Islam,. Dan dalam konteks ini, membangun Islam disini adalah melalui bendera organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikan oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang berpusat di Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Membangun dan mendirikan sebuah pesantren di kota besar dan metropolitan, seperti Jakarta adalah suatu hal yang tidak pernah dimimpikan oleh para pendirinya, karena dianggap seolah suatu hal yang mustahil, berat dan sulit dari segala sisi. Oleh sebab itu, Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, ketua dan pendiri pesantren ini, selalu menyebut dan menyitir potongan ayat al-Qur`an yang menyatakan;هذا من فضل ربي : “ Ini adalah diantara kelebihan yang berasal dari Tuhanku”.

BACA JUGA  Merajut ke NW an Untuk Semesta. Catatan Singkat Muswil oleh : PDNW Jakpus

Kelahiran pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini, disebut oleh pendirinya juga dengan istilah “ lahir dengan tanpa direkayasa”. Disebut demikian, karena dalam pendiriannya tidak pernah ada konsep awal secara matang, terukur dan terencana yang mengarah pada pendirian sebuah pondok pesantren yang ideal. Para pendirinyapun, memang nyatanya tidak pernah berencana, bahkan berniat datang ke Jakarta untuk sengaja datang dalam rangka mendirikan pesantren tersebut.
Oleh sebab itu, dalam sejarah berdiri dan lahirnya pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini, tidak terlepas dari peran utama para pendirinya yang terdampar di tanah Betawi yang memiliki jiwa juang yang ikhlas dan dedekasi tinggi serat penuh dengan kobaran semangat dan api perjuangan menegakkan kalimat Allah. Disamping itu, tidak terlepas pula sambutan dan dukungan pemerintah setempat, dukungan dan sambutan positif dari masyarakat sekitar, serta dukungan nyata dari para mahasiswa yang berasal dari Lombok khususnya. Semuanya ambila bagian dengan ikhlas berkiprah dan berjuang sesuai dengan bidang dan bakat masing-masing dengan niat dan motivasi menegakkan panji-panji Islam, melalui bendera Nahdlatul Wathan.

Selain itu, dalam catatan sejarah berdiri dan lahirnya pesantren Nahdlatul wathan jakarta ini, sebagai suatu hal yang tidak pernah dipungkiri dan tidak pernah dilupakan serta tidak akan terlupakan oleh pendirinya adalah dukungan dan motivasi nyata secara moril dan materil dari jasa sang guru besar dan ulama terkemuka, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan, yaitu; Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Keterkaitan dan keterlibatan serta jasa besar Maulana Syaikh dalam proses awal berdirinya pesantren ini, bahkan sampai dengan saat sekarang, sungguh sangat besar dan signifikan sekali. Oleh sebab itu, penulis pun dapat menyebut dan mengatakan, bahwa pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini lahir dan berkembang di tengah kota metropolitan Jakarta ini, berkat kebesaran dan karomah dari sang guru dan ulama besar, yaitu; Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Selanjutnya, sebagai embrio awal dalam pendirian pesantren ini adalah berdiri dan munculnya semacam Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA) sebagai lembaga tempat membimbing dan mengajarkan anak-anak membaca al-Qur`an. Keberadaan dan kehadiran lembaga TPA ini, mendapatkan sambutan positif dan antusias dari masyarakat setempat. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang menyerahkan putra dan putrinya belajar, sehingga jumlah santri yang masuk belajar di lembaga inipun cukup banyak.

BACA JUGA  Tuan Guru Paling Sepuh Di Selatan Lombok Timur

Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1987, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi bersama teman-teman seperjuangan dan jama`ahnya, memiliki ide cemerlang dalam pengembangan dakwah Islam di wilayah ini. Ide yang dimunculkan adalah mencoba merintis dan membangun sebuah majlis taklim yang kemudian dinamakan dengan nama Majlis taklim Nahdlatul Wathan sebagai sebuah institusi dakwah di tengah-tengah masyarakat.
Penamaan majlis taklim yang dikaitkan langsung dengan nama Nahdlatul Wathan (NW) sebagai nama organisasi kemasyarakatan Islam yang ada dan berkembang di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) itu adalah merupakan titik awal yang mengarah pada pengenalan NW sebagai organisasi di wilayah ini, sekaligus dapat disebut sebagai rintisan awal dari munculnya pesantren ini juga.
Kehadiran majlis taklim Nahdlatul Wathan Jakarta inipun, langsung mendapatkan sambutan positif dari masyarakat sekitar dan bahkan dari Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) yang berpusat di Lombok Timur, NTB. Dalam konteks ini, sebagai bukti fisik dukungan fositif dan keseriusan dari pihak Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) ini, maka PBNW mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pendiriannya dan meresmikan komposisi kepengurusan majlis taklim tersebut.
Berangkat dari dua lembaga non formal yang telah disebutkan diatas, dalam perkembangan selanjutnya, pesantren ini tumbuh dan berkembang seiring dengan dengan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, termasuk pihak pemerintah setempat, sehingga muncul dan melahirkan ide-ide baru yang mengarah dan mendukung lahirnya lembaga formal dan non formal lainya, seperti Taman Kanak-Kanak Islam (TKI), Sekolah Dasar Islam (SDI), Panti Asuhan (PA) dan lain-lainnya. Perkembangan yang signifikan inilah kemudian melembaga menjadi sebuah institusi pesantren yang resmi mendapatkan Surat Ijin pendirian dari Kanwil Departemen Agama DKI Jakarta dengan nama pondok pesantren Nahdlatul Wathan.

Keberadaan Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, secara embrional muncul sejak tahun 1987 ini adalah merupakan salah satu pesantren yang eksistensinya mengarah dalam memadukan dan mengkombinasikan sistem pendidikan tradisional dan modern. Hal ini dapat dilihat dari model pesantren yang berbais pada sekolah. Lalu, setiap lembaga pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang bernaung pada Yayasan Mi`rajush Shibyan Pondok Pesantren nahdlatul Wathan Jakarta ini, dari sisi visi dan misinya secara profesional adalah mengarah pada membangun Sumber Daya Manusia (SDM) kualipurna yang bercirikan pada kompetensi yang mumpuni dalam potensi intlektual, spiritual dan emosional yang terintegritas.
Selain itu, untuk pondok pesantren Nahdlatul Wathan ini tidaklah sebuah pesantren yang hanya focus terhadap aspek pendidikan saja, tapi juga focus dan berperan aktif membantu pemerintah dalam aspek social dan dakwah Islamiyah. Oleh sebab itu, keberadaan dan kehadiran pesantren ini di tengah-tengah masyarakat Jakarta adalah cukup efektif untuk berperan sebagai perekat hubungan emosional dan shilaturrahmi serta pengayom masyarakat, baik pada tingkatan lokal, regional dan nasional.