Pertemuan Maulidia Fakhma Hayati dengan Gurunya Tercinta, Ibu Adinda Pratiwi, S.Pd., Penuh Haru dan Makna
Bekasi — Suasana penuh haru dan kehangatan mewarnai pertemuan istimewa antara seorang murid dan gurunya pada Senin, 29 Desember 2025, sejak pukul 17.00 WIB hingga menjelang Magrib. Pertemuan tersebut berlangsung di kediaman Ibu Adinda Pratiwi, S.Pd., yang berlokasi di Gang Saritas VII, RT 03 RW 14, Kebalen, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Momen ini mempertemukan kembali Maulidia Fakhma Hayati, siswi kelas VIII SMP IT Al Fath Jalen, dengan guru yang sangat ia cintai dan hormati. Ibu Adinda Pratiwi merupakan guru Maulidia saat duduk di kelas VII, yang kini telah bertugas di tempat lain dan tidak lagi mengajar di SMP IT Al Fath Jalen.
Kunjungan tersebut menjadi ajang silaturahmi yang sarat emosi dan makna. Bagi Maulidia, pertemuan ini adalah wujud kerinduan dan ungkapan terima kasih kepada sosok guru yang pernah menjadi sandaran di masa awal pendidikannya, ketika ia menjalani pendidikan formal sekaligus mondok di Pondok Pesantren Al Fath Jalen.
Pada masa-masa awal sekolah, Maulidia menghadapi berbagai tantangan, baik dalam pelajaran maupun kondisi kesehatan yang sering menurun. Dalam situasi tersebut, kehadiran Ibu Adinda Pratiwi begitu berarti. Beliau tidak hanya mengajar, tetapi juga mengayomi, peduli, serta memberikan perlindungan dan perhatian tulus kepada muridnya.

Meskipun hanya mengajar selama satu tahun, kesan yang ditinggalkan sangat mendalam. Sikap ramah, komunikasi hangat, serta kepedulian yang konsisten menjadikan Maulidia merasa diterima dan diperhatikan. Kebaikan itulah yang terus terpatri dalam ingatan Maulidia hingga kini.
Perhatian dan ketulusan Ibu Adinda Pratiwi juga dirasakan oleh kedua orang tua Maulidia. Mereka mengapresiasi keterbukaan dan komunikasi yang dibangun selama proses pembelajaran, terutama dalam menyampaikan perkembangan belajar, tugas sekolah, dan berbagai masukan penting demi kemajuan pendidikan putrinya.
Didorong oleh kesan mendalam tersebut, Maulidia telah lama menyimpan niat untuk bersilaturahmi. Ia pun mengajak kedua orang tuanya untuk datang langsung ke rumah gurunya sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas jasa serta ketulusan yang pernah diberikan.
Kedatangan Maulidia bersama kedua orang tuanya disambut dengan penuh kehangatan. Rasa haru tak terbendung saat Maulidia memeluk gurunya tercinta, seakan melepas rindu yang telah lama terpendam. Suasana kebahagiaan dan keakraban pun menyelimuti pertemuan tersebut.
Dalam perbincangan yang hangat, dibahas kondisi kesehatan Maulidia, perkembangan belajarnya di sekolah, serta kehidupan mondoknya. Kedua orang tua Maulidia turut memperkuat penjelasan tersebut dengan berbagai informasi penting. Dengan penuh perhatian, Ibu Adinda Pratiwi memberikan dukungan, nasihat, serta motivasi agar Maulidia terus semangat belajar dan tidak mudah menyerah.
Ibu Adinda Pratiwi berpesan agar Maulidia senantiasa menjaga tekad, mengejar cita-cita setinggi mungkin, dan mempersiapkan masa depan yang baik serta membahagiakan.
Sebagai penutup, Maulidia, kedua orang tuanya, dan Ibu Adinda Pratiwi mengabadikan momen kebersamaan melalui foto bersama. Dari raut wajah mereka terpancar kebahagiaan dan rasa syukur, menjadikan pertemuan ini sebagai kenangan indah yang tak terlupakan.
Di akhir silaturahmi, kedua orang tua Maulidia memanjatkan doa agar Ibu Adinda Pratiwi, S.Pd. senantiasa berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, diberikan kesehatan, umur panjang, kelapangan rezeki, kemudahan dalam segala urusan, serta dikabulkan seluruh hajat dan harapannya.
Pertemuan ini menegaskan bahwa ketulusan seorang guru akan selalu hidup dalam ingatan muridnya, meski waktu berlalu dan tempat tugas berubah. Sebuah kisah penuh haru tentang cinta, pengabdian, dan jejak kebaikan yang abadi.
Diliput oleh Redaktur media SinarLIMA (Sinar5News.com), Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah




