Perseteruan Habib Rizik vs Nikita Mirzani: Keduanya Perlu Introspeksi Diri

banner post atas

 

Oleh: Abdurrahman
> Wakil Ketua V PW Pemuda NW NTB

Akhir-akhir ini tanah air di hebohkan dengan perseteruan antara artis Nikita Mirzani dengan Habib Rizieq Shihab dan pendukungnya. Perselisihan tersebut berawal dari komentar Nikita Mirzani soal kepulangan Habib Rizieq Shihab. Ia menyebut ulama tersebut sebagai tukang obat. Pernyataan tersebut terekam dalam video dan viral di media sosial beberapa waktu lalu. Hal ini membuat kemarahan dari para pendukung Habib Rizieq Shihab.

Iklan

Kepulangan Habib Rizieq Shihab ke Indonesia pada 10 November 2020 lalu memang menjadi perhatian publik lantaran kepulangannya disaat kondisi indonesia sedang menghadapi pandemi covid-19. Disatu sisi masyarakat diharapkan tertib dan disiplin dalam menerapkan protokoler kesehatan namun pada sisi yang lain dihadapkan pada simpatisan Habib Rizik Shihab yang jumlahnya puluhan ribu orang yang memadati Bandara Soekarno Hatta di sela-sela kepulangan sang Imam. Sontak hal ini membuat banyak pihak memberikan komentar, termasuk artis Nikita Mirzani yang baru-baru ini heboh dan viral dengan ucapannya yang di anggap menghina sang Habib.

“Gara-gara Habib Rizieq pulang ke Jakarta, penyemputannya gila-gilaan,” ucap Nikita Mirzani di video yang viral sejak Kamis 12 November 2020 lalu.

“Nama habib itu adalah tukang obat, screenshot. Nah nanti banyak antek-anteknya nih mulai nih ya, nggak takut gue juga,” ungkap artis dua anak tersebut.

Lontaran pernyataan dari Nikita Mirzani tersebut rupanya membuat para pendukung Habib Rizik marah dan bahkan mengancam akan mendatangi rumah sang artis dengan ribuan laskar pendukung sang Habib. Mendengar ancaman seperti itu, sang artis bukannya meminta maaf namun justru meladeni dan menantang balik pendukung Habib Rizik hingga perseteruan pun terus berlanjut. Banyak dari simpatisan Habib Rizik melampiaskan kemarahannya di sosial media dengan ungkapan-ungkapan yang menyudutkan dan bahkan membuka aib artis kontroversial tersebut. Bahkan beberapa pihak telah melaporkan Nikita Mirzani ke pihak kepolisian karena di anggap telah menghina Ulama. Namun rupanya Nikita Mirzani nampaknya tidak gentar dengan berbagai sikap yang ditunjukkan oleh pendukung Habib Rizik tersebut.

Dalam menyikapi persoalan tersebut, menurut penulis tidak serta merta lalu kita menyalahkan satu pihak dan membenarkan pihak yang lain ataupun sebaliknya. Justru yang harus kita dorong adalah agar kedua belah pihak masing-masing untuk ikhlas saling memaafkan. Pada dasarnya tidak ada suatu tindakan hadir begitu saja tampa ada hal sebagai sebab hadirnya tindakan tersebut. Sehingga kedua belah pihak seharusnya mengevaluasi diri baik dari pihak sang habib maupun sang artis beserta pendukungnya. Melihat dinamika yang terjadi pasca munculnya perseteruan antara Habib Rizik dengan artis Nikita Mirzani. Setidaknya ada dua hal menurut penulis yang menjadi poin penting yang harus disadari oleh masing-masing pihak yang sedang berseteru.

BACA JUGA  Realisasi Investasi Lotim, Tembus 600 Persen, Disebut  Tertinggi di NTB.

Pertama, sebagai perempuan penganut agama Islam, Nikita Mirzani seharusnya belajar bagaimana adab terhadap seorang ulama. Tidak sepantasnya pernyataan tersebut dilontarkan untuk seorang Habaib yang memiliki hubungan nasab dengan baginda Rasul Muhammad SAW. Bahwa perbedaan pendapat ataupun perbedaan sikap terhadap suatu perkara merupakan hal yang biasa. Perbedaan merupakan sebuah anugerah yang harus di syukuri dan dihormati. Bukan justru menjadi alasan untuk kita memperolok seorang ulama dengan kalimat yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Kita berharap artis Nikita Mirzani segera inshaf dan bertaubat atas apa yang ia lontarkan kepada Habib Rizik. Karena Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menghormati ulama dan habaib yang memiliki nasab dengan baginda Rasulullah SAW. Kita boleh berbeda pandangan dengan ulama akan tetapi bukan berarti menghilangkan rasa hormat kita kepada mereka.

Ada beberapa alasan yang mendasar mengapa kita harus menghormati para habaib. Seperti yang disampaikan oleh Ulama Kontemporer sekaligus Ketua Umum Organisasi Internasional Al Azhar Indonesia TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA. Dalam pemaparannya di sela-sela kajian Tafsir Al-Quran beberapa waktu lalu, beliau menyampaikan bahwa penghormatan terhadap Habaib itu ada sebab umum dan sebab khusus. Sebab umumnya, karena jalinan persaudaraan sesama Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwah wathoniyah) dan persaudaraan sebagai sesama umat manusia (ukhuwah insaniyah). Adapun sebab khusunya adalah karena Habaib adalah bagian dari zurriyat Rasulullah SAW dan bagian dari seorang ulama.

Namun bukan berarti menghormati seseorang atau ulama itu lantas kemudian mengikuti semua apa yang dikatakan. Tidak demikian.
Maka ikutilah dengan kepahaman. Yang mau mengikuti silahkan, yang tidak juga silahkan. Tapi harus dengan kepahaman. Jangan sampai karena tidak mengikuti lantas kemudian dicap sebagai seorang yang kurang iman islamnya atau seorang yang munafik. Perkara demikian tidak dibenarkan pula oleh islam, ungkap TGB.

Kedua, yang ingin penulis sampaikan adalah pihak dari Habib Rizik Shihab juga seharusnya bisa mengintrospeksi diri dan tidak boleh menganggap kelompoknya paling benar. Sebab boleh jadi orang lain hilang simpatinya terhadap mereka, lantaran disebabkan sikapnya yang berlebihan dalam suatu perkara. Lebih-lebih perkara yang berkaitan dengan demokrasi. Sikap pengikut Habib Rizik yang tetap memaksakan berkumpul dengan sekala jumlah yang besar di Bandara Soekarno Hatta beberapa waktu yang lalu. Hal itu merupakan sikap yang keliru yang perlu di ingatkan. Juga termasuk penyelenggaraan Maulid secara besar-besaran oleh Habib Rizik di wilayah zona merah seperti DKI Jakarta setelah kedatangannya di tanah air. Hal itu juga merupakan sikap yang keliru yang harus di tegur. Perkara Maulidnya tentu kita semua sangat setuju namun jika sampai melanggar ketentuan yang telah di tetapkan oleh pemerintah di era pandemi seperti saat ini, maka harus di tinggalkan demi kebaikan bersama.

BACA JUGA  Porsadinas 2019: DKI Meraih peringkat 1 Cerdas Cermat.

Disamping itu dalam berdakwah sang Habib juga harus mencerminkan sikap sebagai seorang ulama. Perkataan Habib Rizik yang menyebut “Lonte” terhadap artis Nikita Mirzani di hadapan publik dan pendukungnya yang viral beberapa waktu lalu merupakan hal yang tidak pantas. Sebab Nabi SAW tidak pernah mencontohkan kepada ummatnya melontarkan kata-kata yang tidak pantas ketika berdakwah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya Habib Rizik memberikan contoh yang baik kepada ummat bukan justru sebaliknya. Maka jangan heran jika ada sebagian orang di luar sana tidak respek terhadap sang Habib dan menganggapnya sebagai “seorang tukang obat” seperti yang dilontarkan oleh Nikita Mirzani.

Perlu di ketahui bahwa kata “Lonte” dalam bahasa Jawa merupakan kata yang kasar dan tidak pantas diucapkan di hadapan publik. Seorang Peneliti, dan Penyuluh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Wisnu Sasangka menyatakan bahwa kata Lonte berasal dari bahasa Jawa. Ejaan bahasa Jawa yang benar ditulis lonthe Artinya pelacur. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, kata Lonte artinya perempuan jalang, wanita tunasusila, pelacur, dan sundal. Sehingga Wisnu Sasangka menghimbau agar kata lonte tidak digunakan dalam berkomunikasi. Bahkan dalam menghujat sekalipun, karena maknanya sangat kasar.

Sebagai bagian dari ummat islam, penulis mengingatkan kepada masing-masing pihak yang sedang berseteru agar lebih arif dan bijaksana dalam bersikap. Langkah damai merupakan sebaik-baik langkah yang harus di tempuh oleh kedua belah pihak. Masing-masing pihak harus bisa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi dan menjauhkan diri dari sikap yang menganggap diri dan kelompoknya yang paling benar dan menafikkan kelompok yang lain.

Ulama kontemporer TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA pernah menyampaikan bahwa “Jangankan dalam hal-hal yang menyangkut fiqh siyasyah (politik), dalam hal ibadahpun kita tidak bisa mengklaim bahwa cara imam yang kita ikuti itulah yang paling benar. Yang paling merepresentasikan Islam. Jangan mengecilkan Islam pada seseoang. Tidak ada satu orangpun di dunia ini selain Rasul SAW yang bisa mengatakan bahwa pendapatnyalah yang paling benar dalam memahami dan menjalankan Islam,” ungkap TGB.

Kita berharap keributan demi keributan di tanah air indonesia secepatnya berakhir. Semua kita harus menyadari bahwa kita indonesia merupakan negara yang sangat majemuk, baik agama, suku dan adat istiadat. Dari perbedaan tersebut kita belajar tentang arti sebuah persaudaraan. Pada dasarnya kita semua adalah bersaudara, saudara sebangsa dan saudara setanah air indonesia.

Wallahua’lam Bissawab.