Perhatikan Hal Ini Dalam Melakukan Setiap Kebaikan

banner post atas

Dalam pengajian mingguan Ponpes Nahdlatul Wathan Jakarta yang disampaikan tadi malam, senin (2/11/20) oleh TGKH. Muslihan Habib, M.Ag, beliau menjelaskan tentang beberapa permasalahan serius yang harus diperhatikan dalam beramal, karena dengan melalaikan hal ini akan dapat membahayakan kwalitas amal ibadah seseorang.

Dalam mengawali ta’limnya, beliau mengutip salah satu ayat suci Al-quran yang berisi tentang do’a Nabi Ibrahim ketika selesai membangun Ka’bah bersama anaknya Ismail AS yaitu dalam Surat Al-Baqarah (2) Ayat 127

Iklan

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“.

Dalam ayat ini, beliau menarik sebuah pelajaran yang sangat berharga dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail AS yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dan tauladan bagi kaum muslimin, yaitu apabila sudah selesai mengerjakan perbuatan yang baik, maka sebagusnya ditutup dengan do’a sebagaimana halnya Nabi Ibrahim ketika selesai membangun Ka’bah beliau memanjatkan doa seperti dalam ayat di atas, yaitu mohon supaya Allah mengabulkan dan menerima kebaikan yang sudah dilakukan.

Kaitannya dengan hal yang baik, tidak hanya terkait dengan membangun Ka’bah, akan tetapi meliputi seluruh bentuk kebaikan, misalnya seperti mengaji, bershodaqoh dan lain sebagainya dari berbagai bentuk kebaikan yang sudah selesai dikerjakan, maka hendaklah ditutup dengan doa memohon supaya Allah menerima amalan tersebut.

Selanjutnya beliau melanjutkan penjelasannya kepada beberapa hal yang menjadikan amal kebaikan diterima, dengan menyebutkan dua persyaratan yang harus ada, yaitu lurus dan benar dalam berniat, serta mutaba’ah (amalannya sesuai dengan tuntunan Nabi SAW).

1. Lurus dan benar dalam niat.
Dalam mengerjakan amal kebaikan harus dilandasi dengan niat yang tulus, lurus ikhlas karena Allah bukan karena yang lain, ini adalah syarat mutlak yang harus ada dalam setiap amal kebaikan. Di samping lurus ikhlas, juga harus benar dalam berniat, karena kalau niat salah, maka amal itu mardud alias tertolak meskipun dalam pelaksanaannya dilakukan dengan niat yang ikhlas. Misalnya saja dalam pelaksanaan salat isya, jika dalam mengerjakannya dengan menggunakan niat shalat maghrib, maka salat tersebut tidak sah, karena niatnya tidak benar alias salah. Dapat dikatakan, bahwa ikhlas dan benar dalam berniat adalah syarat utama yang tidak boleh terpisahkan.

2. Mutaba’ah ( mengikuti Nabi).
dalam beribadah kepada Allah hendaklah mengacu kepada apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi SAW. Sebagaimana diterangkan dalam hadisnya,

صَلُّوا كَمَا رَأَيتُمُونِي أُصَلِي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Kesimpulan dalam pengajian mingguan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang disampaikan oleh TGKH. Muslihan Habib, M.Ag tadi malam adalah hendaklah dalam setiap selesai mengerjakan amal kebaikan ditutup dengan do’a, memohon supaya Allah menerima apa yang sudah dilakukan. Dan adapun syarat di terimanya amal kebaikan adalah dikerjakan dengan niat yang benar dan ikhlas karena Allah serta amalannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Fath

BACA JUGA  208 Anggota Brimob Polda NTB Yang BKO Ke Papua Kemabli Dengan Selamat