Percepatan Menciptakan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju : Sebuah Tinjauan Samianto Muthohar Nahdatul Wathon anggota LPOI.

banner post atas

Sinar5News.com. Beberapa hari yang lalu pelantikan Presiden dan Kabinet baru sudah selesai dilaksanakan, dengan perhelatan yang sederhana humanis penuh kekeluargaan adalah ciri khas budaya Pancasila. Beragam komentar dari khalayak bermunculan atas wajah wajah kabinet Indonesia maju yang baru dilantik. Apakah mereka sanggup menjalankan visi Presiden membawa Indonesia maju adil makmur ?. Sebagai warga negara yang baik tentu mari kita kawal dan mempercayakan mereka untuk bekerja terlebih dahulu, karena sungguh keliru jika penilaian itu sudah kita lontarkan sementara kabinet baru saja dilantik belum mulai bekerja. Priode pertama Jokowi memimpin negri ini sungguh luar biasa dan atas pengalamannya itu tentu beliau ingin melakukan percepatan, terobosan, lompatan yang lebih dahsyat. atas kinerja kabinetnya yang kita paham bersama, Indonesia ini penuh dengan birokrasi yang berbelit belit. Wacana pemangkasan birokrasi itu presiden sudah sampaikan di awal pelantikannya di gedung Parlemen Senayan. Wajah kabinet yang muda profesional adalah sangat tepat untuk melakukan perubahan dan berorientasi hasil. untuk meritokrasi, mereformasi birokrasi yang lamban ketinggalan zaman. Birokrasi harus berorientasi pelayanan yang perima terhadap semua komponen anak bangsa untuk melahirkan percepatan pembangunan dan laju perekonomian yang sejalan dengan komando Presiden bekerja cepat tuntas sehingga hasilnya rakyat segera rasakan manfaatnya.

Dalam konteks kerja cepat upaya menghadirkan kesejahteraan rakyat khususnya percepatan pembangunan Sumber Daya Manusia adalah langkah yang harus utama Presiden tempuh adalah menggandeng dan bekerjasama dengan organisasi kemasyarakatan khususnya LPOI yaitu Lembaga Persahabatan Ormas Islam. Dalam tatanan sejarah Ormas-Ormas ini adalah penggagas dan pendiri cikal bakal NKRI. semua Ormas ini telah mendidik membangun SDM sebelum kemerdekaan. Ini sesuai dengan kaidah” memelihara yang lama yang baik tentunya dan mengambil yang baru untuk kemajuan dan kemaslahatan kita semua” guna menghadirkan peradaban yang bermartabat berlandaskan Pancasila. Ada beberpa alasan kenapa Presiden harus melibatkan LPOI di garda terdepan membantu mengawal pemerintah.

Pertama, Alasan fundamental  adalah sehebat apapun program yang akan dijalankan dengan komposisi kabinet yang profesional unggul dibidangnya tetap akan bermuara semua pada grasroot masayarakat lapisan paling bawah. Karena keberhasilan Presiden penilaian utama ada pada masyarakat. Sementara LPOI adalah lembaga yang keseharian bersentuhan lansung dan napasnya sepanjang zaman bersama rakyat bersama ummat. Ini amat sesuai dan sejalan dengan agenda pemangkasan birokrasi agar pelayanan lansung bersentuhan rakyat melalui kerjasama sinergi bersama antara pemerintah pusat dengan lembaga LPOI adalah jawaban percepatan menghadirkan SDM unggul.

Iklan

Kedua, Ormas keagamaan ini sudah terbukti pakta sejarah dari jauh sebelum kemerdekaan sudah melakukan pengajaran dan pendidikan kepada anak bangsa. Salah satu hasil maha karya besar ormas keagamaan adalah pendidikan berbasis pesantren yang saat ini dunia moderen kita kenal dengan nama Boarding school. Model pendidikan ini, bukan hanya di desa tapi sekarang sudah merambah ibu kota bahkan dunia.

Ketiga, pendiri bangsa serta peletak dasar dan perumus Pancasila dan UUD 45 adalah para KH,Tuan Guru, Buya, Habaib. Dan semua beliau- beliau adalah berasal dari santri. Kemudian proklamator dan wakil presiden pertama bersama jajaran kabinet waktu itu juga lebih didominasi kaum santri. Sehingga hampir semua pendiri Ormas yang tergabung dalam LPOI semuanya sudah bergelar pahlawan nasional. Artinya kiprah dan perjuangan beliau sudah dimaklumi negara.

Dengan uraian diatas amat sangat wajar kemudian Presiden dapat memanggil LPOI untuk duduk bersama bersinergi membangun ummat bangsa agar fungsi dan peran negara hadir lebih maksimal terhadap pembinaan SDM  yang sudah terlebih dahulu dilakukan Ormas LPOI ini sebelum negara merdeka. Jalan panjang dan berliku yang Ormas Keagamaan alami selama ini tidak dilibatkan dalam menentukan kebijakan dan arah haluan bernegara yang sejak orde baru dikesampingkan akibat pertarungan politik kekuasaan yang menjadikan negara bangsa terbelenggu, ketakutan dan tentu tertinggal jauh dalam pradaban. Padahal ketika orde lama hampir setiap kunjungan kenegaraan Presiden Ir.Soekarno ke luar negri dapat dipastikan, pasti mengajak salah satu atau sebagian tokoh Ormas keagamaan ini.

Keempat, Nilai-nilai kearifan lokal organisasi keagamaan ini adalah lumbungnya, ahlinya. sebagai perekat keberagamaan, menjaga merah putih, merajut kebhinnekaan, benteng NKRI sudah tidak perlu kita ragukan. Lebih-lebih ditengah serbuan globalisasi yang serba cepat ini. Nilai kerifan  lokal, budaya leluhur harus kita jaga sebagai identitas negri, budaya Nusantara yang penuh humanis, kekeluargaan, gotong royong, saling asih asah dan asuh. Penuh cinta, saling menyapa mendoakan, menebar kebaikan, menghormati perbedaan, menjaga kerukunan. Semua nilai- nilai kebangsaan ini sebagai akhlak bangsa Nusantara, akan bisa terus lestari manakala harus terus dijaga dirawat, didakwahkan.Karena bangsa maju moderen berperadaban manakala bangsa tsb harus selalu tampil menjaga identitas budaya leluhurnya. Nah, Ormas keagamaan ini adalah ahlinya. sebagai  benteng NKRI memelihara kerukunan menjaga perdamaian ummat bangsa.

Kami melihat priode kedua Jokowi Amin yang sangat terbuka, egaliter, humanis, penuh cinta, pekerja keras harapan itu masih terang benderang, terbuka lebar. Untuk menghadirkan kebahagian dan kesejahteraan warganya melalui program prioritas SDM Unggul. Ini akan sangat efektif dan berjalan cepat ketika Presiden mengundang Ormas keagamaan ini sesegera mungkin. Karena ormas keagamaan ini sudah terbukti sebagai peletak dasar SDM Nusantara. Pengawal dan benteng NKRI sampai akhir zaman. Semoga segera diwujudkan. Amien.Merdeka!