Setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Namun, yang membedakan seseorang bukanlah banyaknya kekurangan yang dimiliki, melainkan sejauh mana ia mau menyadari dan memperbaikinya. Kesadaran akan kelemahan diri merupakan pintu awal menuju perubahan, sekaligus kunci lahirnya berbagai kebaikan dalam kehidupan.
Sayangnya, banyak orang lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kekurangan dirinya sendiri. Mereka sibuk mengkritik, menyalahkan, bahkan merendahkan orang lain, tetapi lupa bercermin. Padahal, orang yang mengenal kelemahannya akan lebih rendah hati, lebih mudah menerima nasihat, dan lebih terbuka untuk terus belajar.
Dalam Islam, sikap introspeksi atau muhasabah merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Umar bin Khattab r.a. pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Nasihat ini mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya mengevaluasi dirinya setiap hari. Apa yang telah dilakukan? Kesalahan apa yang masih sering diulang? Kebaikan apa yang perlu ditingkatkan? Dengan muhasabah, seseorang tidak akan cepat merasa puas terhadap dirinya.
Menyadari kelemahan bukan berarti merendahkan diri atau kehilangan rasa percaya diri. Sebaliknya, hal itu menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Selengkapnya baca di Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 296
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHADI




