Pemuda Itu Banyak Berperan Bukan Baperan

banner post atas

Oleh : Abdul Hafiz

Berbicara soal Pemuda, tidak lepas dari semangat yang menggebu-gebu, semangat yang membara. Usia muda merupakan masa transisi dari usia remaja menuju usia dewasa, istilah lain usia pendewasaan diri. Hurlock (1990), membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17) dan masa remaja akhir (16 atau 17 hingga 18).

Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. Dari pernyataan tersebut menggambarkan bahwa usia 18 tahun ke atas merupakan usia menuju pendewasaan. Adalah usia matang secara hukum. Mereka belajar menguasai ketarmpilan social, seperti kemuliaan berbicara, mengorganisir kegiatan social, dan sebagainya. Adalah proses menuju kematangan, sehingga memiliki penyesuaian sosial yang baik sepanjang hidupnya.

Iklan

Uraian diatas menggambarkan bagaimana psikologi pemuda tersebut dalam proses pematangan diri. Proses pematangan diri tentu tidak lepas dari semangat. Semangat belajar, semangat berkegiatan, dan lain sebagainya.

Namun mekmanai hakikat atau kesejatian pemuda itu dilihat dari sejarahnya, termasuk pemuda Indonesia. Jika kita bercermin pada sejarah menengok kebelakang, maka kita akan menemukan banyak sekali peran para pemuda Indonesia dalam menghadapi dinamika-dinamika yang terjadi di Indonesia. Banyak sekali kita temukan perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam perjalanan Indonesia oleh para kaum muda.

Terdapat ungkapan yang mengatakan : “Sejarah dunia adalah sejarahnya anak muda, jika angkatan anak mudanya mati rasa, maka matilah semua bangsa”. -Anonim-

Sejarah Pemuda Indonesia dimulai sejak tahun 1908 hingga seterusnya. Para kaum muda Indonesia telah menunjukkan semangat juang dan gerakannya dalam membangun peradaban bangsa. Dari masa kemasa, setiap dinamika yang terjadi para pemuda selalu hadir, baik permasalahan-permasalahan dari luar hingga permasalahan-permasalah dalam negeri, pemuda selalu angkat bicara dan tidak lupa mengepal tangan disertai dengan hentakan kaki.

BACA JUGA  Manfaat Teknologi & Kesolehan Sosial Dimasa Pandemi

20 Mei 1908, merupakan awal munculnya persatuan para pemuda. Meskipun cakupannya tidak luas, hanya meliputi jawa dan para mahasiswa kedokteran Stovia jakarta yang dinamai dengan “Budi Oetomo”, namun memberikan stimulus terhadap daerah-daerah yang lain di Indonesia. Seperti, Jong Java (1915), Jong Sumateranen Bond (1917), Jong Cilebes dan Jong Minahasa (1918), Sekar Roekoen (1919), Jong Bataks Bond (1925), dan lain sebagainya. Tanggal berdirinya Budi Oetomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Namun, organisasi-organis yang tersebut di atas merupakan gerakan pemuda dengan semangat kedaerahan. Belum menyatu dalam satu gerakan. Dengan kata lain, keberagaman organisasi dengan latar yang belakang yang berbeda.
Boedi Utomo, misalnya, pada awal kelahirannya (1908) fokus pada upaya moderat untuk peningkatan derajat masyarakat, khususnya pulau jawa dan Madura, melalui pendidikan da Kebudayaan. Boedi Utomo sekaligus menjadi manifestasi dari persilangan gagasan antara golongan tua dan muda pada awal munculnya kaum pergerakan intelektual.

Meskipun masih bersifat kedaerahan, namun organisasi-organisasi tersebut memiliki keyakinan dan cita-cita yang sama. Yaitu, ide dan gagasan persatuan yang bermuara pada kesejahteraan sosial. Lambat laun ide dan gagasan itu bertranformasi pada persatuan kebangsaan. Wujud dari gagasan dan ide itulah yang kemudia melahirkan perkumpulan Indonesia Muda pada tahun 1927, yang diawali pada Kongres Pemuda I digelar di Batavia pada 30 April-2 Mei 1926.
Yang kemudian, Indonesia Muda berkumpul kembali atas nama persatuan bangsa. Bersatu dalam satu gerakan yang terhimpun dalam satu ide dan cita serat tujuan yang mulia, yakni kemerdekaan berbangsa dan bernegara. Para pemuda kembali mengadakan Kongres II pada tanggal 28 Oktober 1928 di Batavia, yang menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda, yang diperingati sebagai hari lahirnya Sumpah Pemuda.
“Perkumpulan-perkumpulan pemuda daerah itu terdiri dari pelaar-pelajar dari SMP, SLTA, STA, dan lain-lain sekolah sederajat. Jadi dapat dikatakan sebagian besar dari para intelek muda di seluruh Indonesia telah insaf benar atas saktinya sumpah pemuda itu,” tulis Abu Hanifah (Sekretaris Organisasi Kongres Pemuda II-1928) seperti yang dimuat dalam buku Bunga Rampai Soempah Pemuda (1978).

BACA JUGA  Hati-Hati Konsumsi Cafein Berlebih, Ini Cara Atasinya

Ada dua organisasi mahasiswa yang memegang peran penting dalam soal sumpah pemuda. Yang pertama perhimpunan Indonesia yang belajar di Belanda, yang kedua mahasiswa yang belajar di Jakarta dan di Bandung. Tokoh utama perhimpunan Indonesia adalah Mohammad Hatta yang kemudian memegang peranan penting dalam memegang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda merupakan simbol semangat juang dan pergerakan para pemuda Indonesia. Sejarah mencatat, 28 Oktober 1928 adalah hari dimana para pemuda Indonesia bersumpah atas nama persatuan yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Isi atau teks ikrar Sumpah Pemuda, yaitu sebagai berikut:

SUMPAH PEMUDA
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku menjunung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda merupakan warisan terbesar dari para pendahulu untuk generasi hari ini dan generasi akan datang. Semangat juang para pemuda melahirkan Sumpah Pemuda dipenuhi dengan pengorbanan, waktu, jiwa, bahkan nyawa, dan lain sebagainya.

Mereka rela mengorbankan nyawa demi persatuan bangsa untuk mencapai cita-cita negeri. Jika bukan karena pengorbanan dan perjuangan para pemuda terdahulu, mungkin kita tidak dapat merasakan apa yang kita rasakan saat ini. Sebagai generasi bangsa, pemuda Indonesia, kita tidak boleh lupa atau ahistori terhadap perjuangan dan pengorbanan para pendahulu. Kita harus sepakat bahwa pemuda adalah harapan bangsa, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan bangsa. Jauh sebelumnya, Rasulullah pernah berkata: “Pemuda dan Pemudi adalah tiang Negara”.