Sinar5news.com – Jakarta – Akibat kematian seorang pria kulit hitam, Geoge Floyd di Amerika Serikat. Menteri Dalam Negeri Prancis, Christophe Castaner, menyatakan teknik yang disebut chokehold adalah metode berbahaya yang tidak akan lagi diajarkan di akademi kepolisian.
“Saya mendengarkan kritik, dan saya mendengar keluhan soal kebencian yang sangat kuat,” kata Castaner, seperti dilansir CNN, Selasa (9/6).
Castaner mengacu kepada aksi unjuk rasa antirasialisme yang juga digelar di beberapa kota di Prancis pekan lalu, sebagai solidaritas terhadap kematian Floyd.
“Rasialisme tidak punya tempat di masyarakat kita dan republik ini,” ujar Castaner.
Castaner membantah kepolisian Prancis juga bersikap rasial, dan mengatakan aparat penegak hukum mereka tidak seperti di Amerika Serikat.
Selain itu, Castaner mendesak seluruh polisi di Prancis harus mengaktifkan kamera pemantau yang dipasang di tubuh, termasuk saat menangkap tersangka, serta memperlihatkan nomor petugas mereka.
“Segala bentuk rasialisme yang dilakukan polisi akan berujung kepada penghentian. Saya tidak memberi toleransi terhadap rasialisme di republik ini,” ujar Castaner.
Sebelumnya, Kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam di Minneapolis, membangkitkan krisis berupa aksi unjuk rasa di ratusan kota AS.
Publik marah setelah video viral, yang memperlihatkan momen ketika leher Floyd ditindih oleh Chauvin selama hampir sembilan menit.
“Aku tak bisa bernapas.” Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh George Floyd kepada Derek Chauvin, sebelum dia tidak bergerak.
Karena aksinya itu, Chauvin tak hanya dipecat dari Kepolisian Minneapolis, namun juga ditangkap. Dia dijerat dengan tiga pasal, yakni pembunuhan tingkat tiga, pembunuhan tingkat dua, dan pembunuhan tak berencana tingkat dua.
Selain Chauvin, ketiga rekannya, Thomas Lane, Tou Thao, dan J Alexander Kueng dijerat bersekongkol yang berujung pada pembunuhan Floyd.




