PBB Klaim Sebanyak 10 Ribu Anak di Dunia Tewas Akibat Kelaparan Ditengah Pandemi

0
94
banner post atas

Sinar5news.com – Jakarta – Ditengah terjadinya pandemi covid-19 mengakibatkan muncul sebuah kasus kelaparan di seluruh dunia. Hingga kini terdapat sepuluh ribu kasus kematian anak akibat kelaparan ditengah pandemi.

Dari data yang diambil melalui penyampaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelum akhirnya dipublikasikan dalam jurnal medis Lancet, lebih dari 550 ribu anak setiap bulan menderita kekurangan gizi. Selama lebih dari setahun, angka itu naik 6,7 juta dari total 47 juta kasus pada tahun sebelumnya. Kasus kelaparan secara permanen telah merusak anak-anak secara fisik dan mental mereka.

Seperti yang dilansir melalui laman resmi Associated Press pada Selasa (28/7), di Burkina Faso misalnya, satu dari lima anak mengalami kekurangan gizi kronis. Harga makanan kian melonjak dan 12 juta dari 20 juta warga negaranya tidak memiliki kesediaan pangan yang cukup untuk mereka konsumsi sehari harinya.

Iklan

melansir dari CNN, diketahui mulai dari Wilayah Amerika Latin, Asia Selatan hingga Afrika sub-Sahara, terdapat banyak keluarga yang tidak memiliki pasokan makanan yang cukup.

Pada bulan April lalu, kepala Program Pangan Dunia (WFP), David Beasley, mengingatkan bahwa jika ekonomi terus berada dalam tekanan ditengah Pandemi virus corona akan menyebabkan kelaparan secara massal yang mencakup global di tahun ini.

Bahkan di bulan Februari lalu, lembaga tersebut telah memperkirakan satu dari tiga warga di Venezuela mengalami kelaparan. Hal tersebut dikarenakan inflasi yang memaksakan jutaan orang mengungsi ke luar negara. Kemudia keadaan makin memburuk semenjak datangnya pandemi ini.

“Orang tua dari anak-anak itu tidak bekerja. Bagaimana mereka akan memberi makan anak-anak mereka?,” kata Annelise Mirabal yang bekerja dengan sebuah yayasan yang membantu anak-anak kekurangan gizi di Maracaibo, sebuah kota di Venezuela yang paling parah terdampak pandemi. Dikutip dari laman resmi CNN.

Saat ini banyak sekali pasien baru yang tergolong anak-anak migran sedang melakukan perjalanan jauh, beberapa diantaranya berasal dari Peru, Ekuador ataupun Kolombia yang tujuannya pergi ke Venezuela. Kebanyakan diantara mereka menjadi pengangguran dan tidak dapat membeli makanan selama pandemi berlangsung ini.

Dokter Fransisco Nieto yang bekerja di salah satu dirumah sakit negara bagian Tachira memiliki sebuah kenangan dimana pada bulan Mei setelah dua bulan karantina di Venezuela, terdapat anak kembar berusia 18 bulan tiba dirumah sakitnya dengan tubuh kembung karena kekurangan gizi.

Ibu dari anak-anak itu menganggur dan mereka tinggal hanya berdua dengan ibunya. Sang ibu mengatakan kepada dokter bahwa dia hanya bisa memberi minuman sederhana yang dibuat dari pisang rebus.

Ketika dokter mencoba mengobati anak-anaknya, salah satu dari mereka menderita “sindrom refeeding” yaitu makanan dapat menyebabkan kelainan metabolisme. Lalu delapan hari kemudian, dia meninggal.

Nieto mengatakan meski kelompok sukarelawan telah memberikan bantuan, tapi upaya mereka terhalang oleh karantina Covid-19.