Sinar5news- Jakarta- Menghadiri halal bihalal silaturrahim nasional ormas – ormas Islam bertempat di asrama haji pondok gede yang diselenggarakan oleh MUI pusat. Mengambil tema ” Meneguhkan peran ulama dan umara untuk penguatan ukuwah dan akhlaq bangsa ” bersama sebagian ormas kepemudaan Islam nasional yang berdiri sebelum kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. 24/4/25
Dalam kesempatan ini NWDI hadir dengan delegasi pengurus besar ( PB) TGH. Muslihan Habib rektor Institut Islam Alhasimiyah, M.Syahroni Roffi Dosen UI, Samianto Dir. Pengembangan dan Kerjasama Kampus Ganesha, Husni Haris Humas Pondok NW Cakung Imam besar masjid Al Bina Nuril Falah.
Semantara dari kalangan tamu undangan perwakilan pemerintah dan lembaga diantaranya : Panglima TNI, Kapolri, Kementrian Agama, Mentri Koprasi, Ketua KPU pusat , ketua Bawaslu pusat, ketua Kadin Pusat dan beberapa tamu undangan lainya. Dalam kesempatan ini ditandatangani kesepakatan piagam bersama yang diprakarsai 10 ormas yang melahirkan MUI.
Dalam sambutan pembuka yang sangat inspiratif Ketua dewan pertimbangan MUI KH.Ma’ruf Amien mantan wakil presiden RI menyampaikan amanat dan nasehatnya.
” Ratusan tahun yang lampau para ulama terdahulu sudah mengingatkan diantaranya nasehat dari ulama asal Nusantara gurunya ulama bangsa Arab Syekh Nawawi al-Bantani bahwa ulama kita sibuk mengurus diri sendiri, mengurusi negri masing masing. Dalam konteks kita sekarang sibuk dengan ormas masing masing. Padahal, tugas kita meneguhkan kesepakatan yang sudah dibangun sebelumnya antara lain;
1), kesepakatan sama Allah yang dahulu dilakukan bersama para nabi nabi yaitu Perjanjian untuk membawa ummat ke jalan Allah.
2), Kesepakatan nasional bersama dalam negara kesatuan Republik Indonesia, antara kesepakatan negara dan ketuhanan tidak ada pemisahan. Inilah tugas utama MUI untuk meneguhkan persatuan ummat”. Terangnya.
Kondisi kehidupan ummat saat ini baik dalam masyarakat dan bernegara banyak kesamaan/kemiripan baik yang Haq maupun yang batil. Padahal dalam kitab suci maupun perkataan para Nabi semua perkara yang haram dan halal sudah jelas perkara yang rusak dan benar sudah terang. Banyak pelanggaran dalam sistem pengelolaan aset negara, penduduk banyak melanggar, sistem tata kelola kehidupan berbangsa bernegara sudah melampaui batas kewajaran. Orang baik sekalipun karena berada di sistem yang rusak ikut jadi rusak. Semua sudah lingkaran setan istilah Mukidi.
Kesamaran Haq dan batil ini, dalam keterangan KH. maruf yang banyak menggelincirkan para pelaksana negara para pejabat. Dalam MUI tidak ada kesamaran yang Haq dan yang batil semua perkara sdh jelas”. Ungkap beliau.
Penduduk banyak melanggar, saling cela mencela. Antar golongan satu dengan golongan yang lain saling menjatuhkan. Gambaran ini sudah diterangkan 100 tahun yang lalu oleh para ahli zikir para ulama terdahulu.
Lanjut beliau, itu sebabnya pentingnya saling memberi nasehat. Karena nasehat sesungguhnya menjaga cinta sesama karena tausiah itu memberi nasehat dari yg dicintai kepada yg mencintai. Agar tidak disalah artikan terkhusus pemerintah yang mendapat nasehat dari para Ulama dan Ormas Islam yang lahir sebelum kemerdekaan yang telah memperjuangkan Indonesia merdeka mengusir penjajah.
Sementara NWDI menilai momentum Hala bi halal ini bukan saja sebagai rutinitas tahunan tapi lebih memaknai sebagai penguatan peran ormas dalam mengisi kemerdekaan untuk membangun bangsa Indonesia yang bermartabat upaya hadirkan pemerataan pendidikan baik swasta, pesantren dan sekolah negri harus ada keseimbangan keadilan menuju kesejahteraan sosial sebagaimana amanat Pancasila sila ke-5. Negara harus bersinergi dengan Ormas khususnya yang telah melahirkan Indonesia merdeka. Sebagaimana contoh para pendahulu bangsa kita tercinta yang selalu bersama. ( Sm)

