NW & Tradisi Tasawuf

banner post atas

Oleh : Zulkarnaen

Mereka menyebutnya dengan tasawuf amali, sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apa yang dilakukan oleh jama’ah Nahdlatul Wathan adalah contoh yang baik dalam hal ini. Karena memang yang mereka lakukan adalah tasawuf amali. Setiap kelompok yang bermazhab Alghozali secara otomatis mengamalkan tasawuf jenis ini. Nahdlatul Wathan sendiri memang menyatakan diri bermazhab Alghozali dalam hal tasawuf. Hamzanwadi menamakannya sebagai hizib Nahdlatul Wathan, salah satu wirid yang kemudian menjadi wirid jama’ah NW.

Biasanya dijadwalkan untuk dibaca setiap malam senin dari selesai magrib di tempat saya. Apa yang terdapat dalam hizib ini sebagaimana disebut oleh penyusunnya adalah wirid-wirid dari para ulama’ yang menurut beliau merupakan wirid-wirid andalan. Beliau, Hamzanwadi sangat merekomendasikan hizib ini dijadikan sebagai wirid pagi dan petang terutama ketika terjadinya perubahan besar, ketika banyak orang mengalami ketakutan dan lain seterusnya.

Iklan

Tak hanya hizib, NW memiliki sesuatu yang sangat khas sebagai implikasi logis mengamalkan tasawuf amali. Disebut jama’ah wirid khusus. Namun untuk santri yang yang masuk Pancor tahun 2010 ke atas jarang mendengar wirid khusus itu. Secara memang pada tahun sebelumnya santri sering mendengar kata pengijazahan wirid khusus yang dilakukan oleh salah satu tuan guru yang dipilih sebagai koordinator wirid khusus.

Namanya tuan guru Muksin Makbul. Namun pasca wafat, wirid khusus kemudian seperti tenggelam menghilang—ini hanya sepengetahuan saya saja, meskipun beberapa bulan lalu saya mendengar sudah ada pengjizahan kembali. Wirid khusus bagi santri yang masuk pada tahun sebelum 2010 lebih akrab juga karena memang ada satu malam yang khusus dipakai latihan semacam latihan fisik pasca wirid—di setiap selesai magrib saya menemukan mereka yang sudah menerima ijazah membaca wirid yang memang asing bagi saya dan memang itu wirid yang dibaca bagi penerima—demikian jawaban dari salah seorang penerima.
Ada banyak cerita yang bisa didengar dari santri ma’had generasi ketika masih hayat koordinator wirid khusus. Ada banyak hal yang tidak masuk akal. Karya Dr. Muslihan Habib cukup banyak menjelaskan soal-soal yang tidak masuk akal ini. Ilmu tasawuf menyebutnya sebagai karomah. Karomah memiliki banyak macam bentuk sehingga setiap wali memiliki karomah yang berbeda. Ada yang bisa terbang, ada yang berjalan di atas air, ada yang duduk di atas awan, ada yang bisa menghilang, ada yang mampu ke Mekah dalam waktu cepat, ada yang mengambil uang dari angin dan lain seterusnya dari yang saya maksudkan sebagai bagian dari sesuatu yang tidak masuk akal pasca pengamalan tasawuf.

Namun apa yang saya sebut adalah karomah kecil demikian ulama’ menyebutnya. Karena menurut mereka karomah besar itu bukanlah apa-apa yang saya sebutkan tadi, melainkan merasakan kelezatan ibadah. Inilah yang disebut sebagai karomah besar. Demikian jika kita agak lebih masuk ke dalam kajian tasawauf—dunia yang cukup sensasional jika kita mampu melakukannya.

Apa yang ingin disampaikan dalam tulisan ini bahwa, Nahdlatul Wathan memiliki sejarah yang sangat baik dalam konteks tasawuf. Banyak dari jama’ah Nahdlatul Wathan yang melihat, bahkan merasakannya langsung efek tasawuf. Tasawuf ini kemudian dengan segala impliaksinya menjadi salah satu yang saya sebut sebagai kekayaan Nahdlatul Wathan. Namun saya pikir kekayaan ini sepertinya redup hari ini. Generasi NW pasca 2010 ke atas seperti yang saya sebut di atas adalah masa-masa ketika itu dimulai, meredup karena faktor wafatnya koordinator wirid khusus lalu kemudian ditutup sampai waktu yang setahu saya tidak jelas. Kondisi ini memiliki dampak yang tidak baik bagi NW, bahkan rugi! Di masa lalu, tasawuf mengukir cerita yang cukup indah untuk dirindukan!